Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Tadi malam saya makan bersama dengan dua teman Pengajar Muda Angkatan 4, Okta dan Amri. Sambil menyantap pisang bakar coklat keju, kami sedikit mengenang pengalaman-pengalaman saat mengajar. Sesekali diselipi oleh guyonan khas saat menjadi guru di daerah, tentu langsung kami sambut tawa meriah. Tawa itu mulai sirna ketika kami bicara soal pilihan-pilihan hidup, tentang mengapa dulu kita memilih jalan menjadi guru. Tiba-tiba pisang coklat keju itu terasa lebih lambat saat disantap.
“Mungkin apa yang kita alamin selama setahun itu kaya jeda ya, jeda dari segala macam apa yang terjadi sebelumnya di hidup kita, tapi bukan jeda yang main-main,” ujar saya membuka obrolan. “Jadi mikir ulang pertanyaan-pertanyaan dasar ya kalau dipikir-pikir kita sekarang,” tambah Okta. Kami mengangguk.
Es susu ovaltine di gelas Okta tinggal seperempat saat saya mulai berefleksi. “Gw berterimakasih banget sama Galuh, menurut gw Galuh itu kaya warung di tengah perjalanan. Kita datang ke sana dari berbagai arah. Sebelumnya mungkin kita letih dan nanya, sebelumnya kita ngapain sih? Di sana kita istirahat minum. Istirahat sambil minum seteguk air bukan untuk berhenti di sana, tapi biar sadar posisi kita. Biar sadar jalannya masih panjang, terlalu panjang bahkan,” ceracau saya. “Nah itu We, Galuh bikin kita berefleksi soal ke mana arah kita, ini bukan soal ‘minumnya’ tapi soal gimana saat istirahat di sana kita semakin tahu bahwa ada tantangan yang lebih besar di depan. Tanpa Galuh kita enggak pernah nanya, ‘Kita ini lagi ngapain sih?’” tambah Okta.
Selesai pertemuan tersebut saya pulang dan melihat potret murid saya di meja kerja. Mereka tersenyum ramah, satu orang diantaranya memegang bola sepak. Ada rasa kangen mendalam pada mereka. Tak seperti dulu di mana murid-murid ini adalah keseharian saya, kali ini ia menyempil dalam kehidupan sehari-hari. Ia pengingat bahwa ada yang patut diperjuangkan jauh di sana. Ia seperti peluit kecil saat saya hendak keluar dari garis.
Hampir tepat dua tahun lalu, foto-foto murid di meja kerja saya adalah sebuah euforia. Bahwa saya akan menemui mereka di penempatan. Saya yakin semua pengajar muda yang berangkat juga merasakannya. Beragam peralatan yang kita bawa selama satu tahun di tas terasa ringan. Saya ingat saat Keceng membongkar tasnya demi memasukkan beberapa peralatan mengajar untuk muridnya, saat Hafis memasukkan sarung yang biasa ia pakai saat sholat subuh dan mengatakan ia tegang harus mengajar ngaji, apakah ia sosok yang pantas melakukannya. Semua larut dalam euforia. Kini euforia itu ada dalam foto-foto murid kita di meja kerja, dalam dompet kita, cerita-cerita di blog kita, suara mereka di seberang telepon atau gelang pemberian murid yang menempel di pergelangan tangan.
3 November 2011, euforia itu yang menyatukan teman-teman Pengajar Muda. Indonesia Raya terbaik dari masing-masing kita mungkin saat kita di Soekarno Hatta, saat kita tersebar ke lima penjuru. Kita akan terus mengenang itu, wajah Efrat memerah karena haru atau saat Meiske menarik nafas panjang sebelum pintu bandara terbuka. Dua tahun lalu kita berpisah untuk menyatakan diri bersama, bahwa satu dari kita adalah bagian besar Pengajar Muda 3.
3 November 2013 sebentar lagi. Dua tahun setelah keberangkatan kita. Saya mengajak teman-teman Pengajar Muda 3 untuk kembali ke Galuh, tepatnya mengambil jeda di Taman Jenggala. Lama kita tak bersua, berbincang kecil soal apa yang sudah terjadi dua tahun ke belakang. Saya rasa ini saatnya kembali mengambil jeda, kembali bertanya apa yang sudah kita lakukan dua tahun ke belakang. Mendengarkan kembali peluit kecil itu bersuara pelan dari Galuh. Peluit kecil yang memanggil dan menyatakan dua tahun setelah kita pergi ia memanggil kita untuk kembali.
3 November 2013, mari kita kembali ke Galuh, mengambil jeda dan bertanya, “Hai kawan, masihkah kita ada di jalan yang sama?”
***

Teruntuk rekan-rekan Pengajar Muda 3. Undangan terbuka untuk reuni kecil mengenang dua tahun keberangkatan di Taman Jenggala pada 3 November 2013 pukul 08.00 WIB. Oke ini menye-menye tapi saya tak sabar bilang, “Saya kangen kalian”.
Advertisements

2 thoughts on “Peluit Kecil dari Galuh

  1. Anonim says:

    still awe, the best story teller ever 🙂 . . .
    nice

    Like

  2. Usisa Rohmah says:

    saya suka tulisan ini, baca tulisan ini kayak semacam peluit akan hari kedepan. trimakasih 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: