Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Hampir setiap Sabtu Malam saya melewati kawasan Kampung Melayu. Saya lewat daerah itu karena seminggu sekali saya pulang ke rumah dari kantor. Kampung Melayu, tepatnya daerah di depan Stasiun Jatinegara adalah rute paling cepat menuju rumah saya. Setiap malam sekitar pukul sebelas dua belas malam saya akan melintasi daerah tersebut.
Ada satu kegiatan yang selalu terjadi di sana setiap Sabtu Malam (atau mungkin setiap malam). Di bawah jembatan setelah Stasiun Jatinegara selalu ada penyanyi dangdut yang berdendang diantara puluhan pria. Biasanya ada dua atau tiga penyanyi dangdut di sana. Sekitar dua tiga orang di sekitar penyanyi dangdut tersebut mengurus sound system yang dibawa dengan menggunakan gerobak dorong. Setiap melewati kolong jembatan tersebut saya selalu melambatkan laju kendaraan, seperti penasaran dengan apa yang terjadi di sana.
Sekitar beberapa kilometer dari sana saya juga akan melintasi Perumpung, mungkin salah satu kawasan laksana Bronx di Jakarta. Di kawasan ini banyak pekerja seks berdiri di pinggir jalan, kadang ketika saya lewat beberapa Pamong Praja mengejar-ngejar mereka untuk istilahnya menertibkan. Tiap lewat daerah situ saya juga selalu waspada dan memicingkan mata, takut-takut kalau ada apa-apa. Tapi tetap saja saya selalu berpikir apa yang terjadi di pinggir-pinggir jalan itu.
Seorang teman saya jarang sekali naik motor. Ia lebih sering menggunakan mobil pribadinya atau taksi. Menurutnya naik motor panas dan kurang nyaman. Alasannya masuk akal, siapa juga yang tidak kepanasan naik motor di kawasan macet Casablanca pada saat jam-jam padat? Tapi yang menarik adalah dia selalu penasaran dan sering bertanya-tanya bagaimana rasanya naik motor. Ia bercerita pernah naik ojek 15 menit dan tidak betah karena panas. Tapi ia selalu penasaran apa nikmatnya naik motor. Saya hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum.
Teman saya yang lain sering bertanya apa enaknya menonton gigs kecil. Ia lebih senang menonton konser-konser yang dalam istilah saya diisi oleh para pria berdasi kupu-kupu di ballroom hotel. Menurutnya gig kecil sama sekali tidak seru dan musiknya aneh-aneh. Saya sering menjawab sederhana, “Ya, namanya juga selera”. Tapi ia sering mendorong saya untuk mengajaknya menonton gigs kecil tersebut. Katanya ia penasaran, saya hanya bilang, “Kapan-kapan ya”. Dan ia tetap penasaran.
Saya selalu bingung dengan cara pandang kita semua. Kita selalu penasaran dengan hal-hal di luar kita. Seperti seorang turis yang memandang kota tujuannya dengan perasaan penasaran tapi menolak untuk tinggal di dalamnya. Ada sebuah eksotisme yang mendorong kita bertanya, “Ada apa di sana?”. Anehnya relasinya terbalik dari sebuah pencapaian.
Relasi pencapaian adalah sesuatu yang ingin kita dapatkan, ingin direbut. Misalnya saya suka bersepeda, saya ingin punya sepeda bermerk Yeti karena ia enak sekali digunakan dan modelnya bagus. Relasinya saya ingin memiliki, saya ingin merebut sebuah status. Relasinya pencapaian. Dalam relasi yang terbalik, di mana kita menengok ke bawah, ada sebuah perasaan yang aneh.
Saat saya melihat parade penyanyi dangdut di kolong jembatan, atau melihat pekerja seks dikejar-kejar Satpol PP, juga saat teman saya yang biasa naik mobil melihat saya naik motor, pun teman saya yang kerap menonton musik-musik “so called” adiluhung melihat gigs penggiran. Relasinya seperti melihat ke bawah dan penasaran. Kita ingin tahu apa di dalamnya, tapi menghindarinya. Relasinya berbeda dengan pencapaian pun filantropi.
Saya ingat saat seorang atasan saya yang analis politik mengatakan perbedaan antropolog dengan pengamat politik di Indonesia. Antropolog ketika mendalami subjek penelitiannya akan semakin cinta terhadap subjeknya, ia kadang tak bisa memisahkan koridor personal dengan ilmu. Menikahi subjek penelitiannya misalnya. Sementara pengamat politik semakin mendalami ilmunya akan semakin membenci bidang itu. Ia mengutuk politik karena kondisinya yang sangat busuk. Keduanya akhirnya bertolak belakang.
Relasi saya saat melihat penyanyi dangdut dan pekerja seks di Jatinegara, atau teman saya melihat saya naik motor pun melihat saya menonton gig boleh jadi adalah gabungan antara kacamata antropolog dengan pengamat politik. Ada sebuah keinginan mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam, tapi kita menarik diri dan menghindari untuk mendalaminya.
Mungkin kita adalah antropolog dengan semangat filantropi di keseharian. Kita yang hanya bisa berucap, “eh coba lihat”, “eh kasihan ya”. Lantas menghindar untuk mempelajari apa yang terjadi di dalamnya. Kemudian kembali ke kehidupan keseharian yang mungkin laksana pengamat politik kita kutuki bersama. Namun, pada jeda-jeda tertentu kita mengambil jarak dari kehidupan sehari-hari dan mencoba menjadi turis di kehidupan sendiri.

Malam kemarin saya menghentikan laju motor saya di sekitar penyanyi dangdut. Ada sebuah perasaan aneh di sana. Seperti bisikan, ini bukan kerumunan saya. Sedetik kemudian saya memacu motor. Pada titik itu saya tahu kadang kita hanya bisa memandang. Kita hanya bisa menjadikan yang lain liyan, sedikit kejam tapi memang itu kenyataannya. Seperti kita yang mungkin dijadikan liyan oleh entah berapa orang di luar sana. 

Advertisements

6 thoughts on “Yang Liyan di Pinggiran

  1. melissa nath says:

    tawarkan dia rasa penasaran, dia akan melakukan apapun. pernah baca kalimat itu tapi gak kaya gitu lengkapnya, lupa. tapi kira-kira gitu. rasa penasaran tuh konyol dan besar dengan baca tulisan ini saya mau nambahin tentang relasi ^^ analogi antropolog dan pengamat politiknya ngebuat saya makin mengerti 🙂

    Like

  2. Ardi Wilda says:

    kalo kata wong londo, Curiosity killed the cat ya mbak? 🙂

    Like

  3. Bukankah semua orang lain itu liyan? Dan mungkinkah ketidak pedulian kita terhadap liyan yang satu disebabkan oleh tekanan dari liyan yang lain? Gaze, tabu, strukturalis yang telanjur terbentuk akhirnya turut mengatur pilihan kita saat ini.
    Btw salam kenal Mas Awe, tulisannya bagus,, dapet linknya dari Noel, hehe

    Like

    1. ardiwilda says:

      halo salam kenal juga,
      mungkin iya semua orang liyan, tapi kepedulian dan interaksi yg terus menerus bisa jadi juga bikin yg “liyan” jadi gak liyan mungkin ya. Btw kenal noel di manakah? salam buat dia ya. Terimakasih juga sudah berbagi pemikiran di blog ini 😀

      Like

      1. Sesama IM juga kakaa, PM VI Kapuas Hulu, terus skrg bareng di pelatihan MDGs sama Noel

        Like

  4. ardiwilda says:

    Wah salam kenal kalau begitu, salam juga buat Noel, sampaikan kapan main ke rumah lagi? 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: