Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Seingat saya, baru sekali saya bertemu dengan Arman Dhani. Saat itu secara tidak sengaja kami sama-sama menonton Melancholic Bitch di @america. Pada pementasan itu seingat saya Melbi memakai nama alias (atau paksaan) “Si Melbi” untuk menghilangkan kata kedua dalam namanya. Saya datang sendirian sementara Dhani bersama beberapa penulis sebuah webzine yang lumayan punya nama.

Setelah perjumpaan itu saya lumayan sering membaca tulisan Dhani. Sebelumnya saya juga sudah membaca tulisan-tulisan di blognya dan beberapa media online. Saya akui beberapa tulisannya menarik, sebagai orang yang tidak terlalu intens dengan dunia yang digeluti Dhani, tulisannya lumayan membuka cakrawala. Menghadirkan kesan, “Oh iya juga” atau sesederhana, “Gitu toh ternyata”.

Setelah beberapa lama mengikuti tulisan Dhani, ada perasaan lelah yang timbul. Tepatnya lelah menuju jengah. Saya tidak akan mengiris tulisannya secara detail, selain karena malas saya memang tidak berkompeten dalam hal itu. Saya hanya ingin mencermati sudut pandang yang sering ia gunakan dalam tulisannya.

Dhani laksana seorang teman kos yang selalu membawa pacar baru tiap Malam Minggu. Awalnya terkesan lucu, seru namun lama-lama jengah juga. Teman kos seperti ini lebih asyik dengan ritual gonta-ganti pasangannya daripada bertanya untuk apa ia gonta-ganti? Sakau ritual ini menghadirkan sebuah akrobat, memamerkan apa yang tidak dimiliki teman kos lainnya, “Saya bisa, kamu tidak bisa kan?” kira-kira semangatnya selalu seperti itu.

Beberapa tulisan Dhani saya rasa semangatnya juga seperti itu. Seperti seorang teman kos yang selalu membawa pacar baru, tulisan Dhani kadang terlalu sibuk dengan akrobat kata dan memamerkan kemampuan. Tulisannya seperti sedang menatap dosen penguji yang haus akan deretan daftar pustaka tanpa arti, “Hai saya sudah baca ini, kamu belum kan?” Dan dosen penguji mengangguk kegirangan. Ia seperti sedang mengejek teman kos lainnya. Tidak ada yang salah dengan hal itu, namun lumayan membuat jengah.

Ibarat anak kos, mungkin saya hanya anak kos yang pergi saat ada jadwal kuliah, lalu pulang ketika kuliah usai, di akhir minggu sesekali pergi bermain futsal. Sementara Dhani lalu lalang kemana-kemana dengan memicingkan mata pada penghuni kos lainnya, “Ini lho saya, kenapa kalian biasa saja sih?” pikir Dhani pada penghuni kos lainnya. Kira-kira relasi seperti itu yang dihadirkan tulisan Dhani pada pembacanya.

Perspektif itu yang membuat saya sedikit lelah dengan tulisannya. Ia selalu menengok ke bawah sekadar untuk memastikan bahwa ia masih berada di atas bukan mengajak yang bawah naik ke atas. Bukan soal siapa yang di atas dan bawah tapi perspektif itu membuat wisdom of the crowd seakan-akan hilang entah ke mana, padahal saya yakin semangat tulisan-tulisan Dhani diniatkan seperti itu.

Sayang jika orang sepontensial Dhani selalu mengambil posisi seperti itu. Mengejek kanon satu untuk kemudian menghabisi kanon lainnya, tanpa sadar menciptakan kanonnya sendiri. Sementara orang-orang awam seperti saya hanya bisa bingung ada apa di atas sana. Saya yakin ia bukan sekadar teman kos yang selalu membawa pacar baru di tiap malam minggu untuk pamer.

Saya ingat ketika dulu saya tinggal satu rumah dengan beberapa teman. Setiap ada satu orang yang cintanya kandas maka persahabatan kami semakin erat. Picisan memang, tapi itu karena semua mengambil posisi tak ada yang di atas. Wisdom of the crowd secara alamiah muncul. Kini semua orang di kontrakan ini sudah lulus dan semuanya memiliki pasangan.

Saya membayangkan Dhani tak lagi menengok ke bawah, saat tulisannya bicara tentang bias kelas tapi ia mengambil posisi yang sangat bias saya rasa itu ironis. Saya membayangkan Dhani bisa menjadi teman kos yang biasa saja. Teman kos yang mengajak teman kos yang hobinya “hanya” main futsal untuk menuliskan pengalamannya secara biasa. Dan satu-satunya cara untuk bisa mewujudkan itu boleh jadi adalah dengan mencoba menjadi orang biasa, menjadi teman kos yang bermain futsal di akhir pekan. Mungkin sesekali ia harus rehat dari membawa pacar di malam minggu lalu menepi ke pinggir lapangan futsal sambil menatap pacarnya di balik jaring-jaring besi lapangan futsal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: