Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Ada satu pemandangan yang selalu saya temui ketika menyempatkan diri mengunjungi Gandaria City. Di salah satu pusat perbelanjaan terbesar bagian selatan Jakarta tersebut, saya selalu melihat pemandangan khas keluarga muda. Seorang ibu yang berjalan dengan mengapit tas kecil, suami yang mendorong troli belanja berisi tumpukan barang konsumsi habis pakai. Pasangan ini akan berjalan sejajar. Sementara di belakangnya seorang babysitter dengan sigap menggendong anak mereka yang masih bayi dan mengawasi anak mereka yang mulai menginjak usia sekitaran lima tahun.

 

 

Babysitter tersebut biasanya memakai sebuah seragam tertentu berwarna muda. Yang saya temui biasanya merah muda atau biru muda dengan kerah panjang yang sedikit melebar seperti potongan kerah blazer. Dari wajah dan logat mereka kebanyakan seperti bukan berasal dari Jakarta, mungkin dari daerah di Jawa Tengah. Beberapa kali saya sengaja untuk mengamati kerja para babysitter ini. Sangat cekatan, mereka bisa menjaga jarak yang pas dengan tuannya, tidak terlalu dekat pun terlalu jauh.

***

Kemarin saya mengunjungi sebuah pameran foto bertema “KOTA” (Tentang Kebangkitan dan Keruntuhan) di Galeri Nasional, Jakarta. Seorang teman saya, Retti, mengajak saya mengunjungi pameran tersebut. Karena memang lama tidak menonton sebuah pameran foto maka saya mengiakannnya. “Yang pameran kantor berita foto di Jerman, kayak Antara-nya Jerman gitu,” jelas Retti singkat. Saya hanya menganggukkan kepala tanda setuju untuk ikut menengok pameran tersebut.

 

Pameran ini menampilkan delapan belas karya fotografer Jerman yang tergabung dalam agensi foto Oskreuz dan seorang fotografer Indonesia dalam melihat sebuah kebangkitan dan keruntuhan kota-kota di dunia. Beragam kota ditampilkan di sini, mulai dari Gaza, Berlin, Jakarta, sampai beragam seri portrait perempuan-perempuan di berbagai wilayah sub-urban.

 

Ada satu seri yang menarik perhatian saya di pameran ini. Sebuah seri karya Thomas Meyer. Meyer menampilkan seri foto Kota Dubai. Iya, Anda benar, ia melihat Dubai sebagai sebuah kota metropolis yang artifisial. Layaknya Weiner di buku Geography of Bliss, pendekatan yang dipakai Meyer mirip seperti itu. Maka Anda akan melihat beragam gambar gigantis di kota penghasil minyak tersebut. Namun, bukan itu yang menarik bagi saya, ada satu detail penting yang menarik perhatian saya.

 

Dalam foto-fotonya Meyer selalu menggunakan teknik “skala” pada karyanya. Teknik ini sederhananya adalah menempatkan sebuah subjek (atau objek) kecil dalam foto sebagai pembanding bagi objek yang lebih besar. Ia misalnya menempatkan sebuah perahu kecil untuk melihat sungai besar yang berpadu dengan gedung pencakar langit. Juga beberapa pekerja bangunan sebagai pembanding atas gedung besar di belakangnya, pun seorang yang mengendarai ATV (kendaraan segala medan) yang melintasi sebuah padang pasir luas. Gigantisme yang ditampilkan Meyer tercipta karena detail kecil yang ada dalam fotonya. Subjek kecil tersebut menjadi begitu kecil, sekaligus menjadikan yang lain besar.

 

***
Seorang ahli tata kota pernah mengatakan, salah satu penyebab konflik boleh jadi adalah jarak geografis antara satu tempat dengan tempat lain yang jauh. Ia mencontohkan kerusuhan di kampus mungkin karena satu fakultas dengan fakultas lain jaraknya berjauhan, sehingga menghasilkan sebuah teritori yang terpisah. “Ini teritori saya dan itu teritori kamu”.

 

Menyaksikan babysitter di Gandaria City seperti mengingatkan saya pada karya Meyer. Mereka seperti sebuah skala akan gigantisme perkotaan. Pekerja yang mengasuh anak ini pergi dari Jawa Tengah, Jawa Barat pun beragam kota lainnya ke Jakarta. Lalu, mereka dengan sigapnya berdiri dengan jarak tertentu terhadap tuannya untuk mengasuh anak mereka.

 

Boleh jadi Gandaria City atau beragam pusat perbelanjaan lainnya terlihat begitu besar bukan karena ukurannya. Bukan karena rentetan toko di dalamnya. Bukan karena intrinsik pusat perbelanjaan tersebut. Babysitter di dalamnya boleh jadi adalah sebuah “skala hidup” gigantisme pusat perbelanjaan.

 

Mereka yang menjadi skala dan menghasilkan sebuah perasaan tersasar atas teritori. Pakaian merah muda pun biru muda yang dikenakan bukan sebuah jurus mujarab agar terlihat berada di satu teritori tertentu. Pakaian yang dikenakan justru seperti sebuah bentuk paling artifisial atas usaha hidup dalam teritori yang sama dengan tuan dan puan yang anaknya mereka asuh.

 

Skala-skala hidup di sekitar kita seperti sebuah pengingat akan gigantisme yang makin menjamur di sekitar kita. Meyer, mengingatkan saya akan itu. Tapi boleh jadi perspektif Meyer salah, skala-skala tersebut mungkin memang perlu ada, mereka yang harus ditatap dengan sungguh-sungguh untuk menimbulkan kesadaran bahwa ada yang patut dilihat dari mereka. Mereka bukan skala yang punya relasi dengan sebuah kebesaraan tertentu, babysitter itu adalah individu tersendiri.

 

Saya ingat ketika mengantarkan seorang murid teman saya dari Lampung ke Tangerang untuk menemui ibunya yang bekerja sebagai seorang babysitter. Sang ibu memeluk erat anaknya saat menemuinya di pusat perbelanjaan tempat kami berjanji untuk bertemu. Ia kemudian meminta izin majikannya untuk mengobrol dengan sang anak di bagian lain pusat perbelanjaan tersebut. Dalam bangku di lobi pusat perbelanjaan mereka bercengkrama. Meyer mungkin perlu melihat itu, saat pusat perbelanjaan menjadi skala gigantisme tak berbunyi. Mereka justru melebur menjadi sebuah relasi yang begitu manis.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: