Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Malam ini saya sengaja mengayuh sepeda saat akan menyaksikan penampilan Tiga Pagi dan Pandai Besi di @america. Sayang karena waktu tempuh yang lebih lama dari biasanya alhasil saya terlambat dan tidak dapat masuk ke venue. Untuk menyembunyikan kekecewaan saya memilih berputar-putar di daerah SCBD dan Senopati, pikir saya saat berkeliling sederhana saja yakni hitung-hitung menjelajah daerah ini di malam hari.

 
Sampailah saya pada sebuah gang kecil di belakang daerah Senopati. Sebuah gang yang menghubungkan Jalan Ciranjang dengan Senopati tersebut seperti gang besar di komplek mewah lainnya. Jalannya cukup besar untuk dilalui dua mobil yang berpapasan. Namun, ada satu hal yang membedakan jalanan tersebut dengan jalanan pada umumnya, di sisinya berjejer mobil yang parkir dalam jumlah yang tak lazim.


Rasa penasaran membuat saya bertanya pada seorang penjaga warung kecil di jalan tersebut. “Ini mobil-mobil yang valet parking Mas, di Senopati jalannya penuh banget,” ujar penjaga warung sambil menyodorkan sebotol teh kemasan pada saya. Ia kemudian menambahkan, beberapa rumah meminta jatah atas jasa parkir, “Udah pada minta ini mas,” kata penjaga warung ini sambil menggesekkan jempol dengan jari tengahnya.

 

Sekitar satu kilometer dari warung kecil tersebut terdapat sebuah gang kecil dengan penerangan seadanya. Gang ini menjual beragam bunga. Ada sekitar sepuluh lapak bunga berjejer di sana. Di depan tiap gerai tersebut ada bunga mawar yang dijual terpisah per batang. Mayoritas mawar tersebut berwarna merah. “Bunga mas bunga,” tawar para pedagang tersebut sedikit berpromosi.

 
Ini memang Malam Minggu yang ramai. Senopati malam ini terlalu ramai. Mobil berjejeran, kedai-kedai makanan menyalakan lampu yang membuat jalanan terang benderang. Jalanan ini seperti tak ingin tidur barang sejenak. Ia mengundang para pekerja Jakarta untuk sejenak melupakan pekerjaan mereka di akhir pekan.

 
Saya kemudian ingat tipikal foto esai tentang Jakarta. Akan selalu hadir perbandingan si miskin dan si metropolitan, dengan cara pandang si miskin yang selalu menjadi liyan di kotanya sendiri. Satu frame itu akan terlihat “cantik” ketika jurang juxtaposisi semakin kuat. Seperti meneguhkan bahwa Jakarta adalah jurang terbuka kelas sosial.

 
Senada dengan template potret Jakarta. Belum lama ini, Hisanori Kato, penulis asal Jepang yang membuat penelitian tentang Islam di Indonesia membuat esai menarik tentang Eka Jaya, seorang anggota ormas agama yang cenderung konservatif. Eka hidup di belakang kafe-kafe glamor di Kemang. Dalam gemerlap kafe-kafe tersebut Eka merasa tersisih, Eka si liyan dan “Kemang” sang metropolitan. Dan cerita itu bagaikan kisah klise khas Jakarta.

***
Saya melihat telepon selular saya ketika beberapa pesan di sebuah aplikasi pengiriman pesan masuk. Saya tergabung dalam sebuah grup perbincangan karena sebuah kegiatan setahun lalu. Saya tak mengenal dekat orang-orang dalam grup tersebut. Meski tak begitu mengenal, saya menyukai semangat sosial teman-teman dalam grup ini.

 
Grup ini punya narasi sederhana ketika mau dirangkum. Orang-orang yang tergabung dalam grup ini semuanya pekerja. Kami bertemu dalam sebuah kegiatan sosial sekitar setahun lalu dan berinisiatif membuat grup perbincangan di aplikasi ini. Kemudian kami kerap berbincang beberapa hal, tapi benang merahnya hanya satu, “Saya lelah bekerja, yuk berkumpul di akhir pekan”.

 
Saya membayangkan ada banyak sekali grup semacam ini di luar sana. Grup yang menjadi semacam eskapisme atas kesibukan sehari-hari. Tak ada yang salah, setiap kita punya eskapisme masing-masing, pun tulisan ini. Nyatanya beberapa kali grup ini kemudian benar-benar bertemu.

 
Mungkin satu dari sekian banyak keramaian di Jakarta pada akhir pekan adalah hasil dari eskapisme semacam ini. Sebuah eskapisme yang menghasilkan valet parking, mawar yang begitu komersil di sebuah jalan yang bahkan dikatakan bersih saja tidak apalagi romantis. Eskapisme ini menghasilkan sebuah relasi tak seimbang antara si liyan dan si metropolitan.

***
Akhir pekan boleh jadi adalah kolektif eskapisme kelas pekerja Jakarta. Mereka yang mengintip dalam grup-grup perbincangan sambil menyusun rencana akhir pekan ke depan. Merekalah nyawa senyatanya Senopati pada malam-malam di akhir pekan. Yang begitu haus akan hiburan.

 
Eka Jaya, penjaga warung di belakang Senopati, pun pedagang mawar di sekitar Jalan Ciranjang hanya pion-pion kecil di akhir pekan. Jakarta boleh jadi bukan sebuah irisan antara si kaya dan si miskin, si pekerja dan si liyan. Akhir pekan adalah milik para pekerja, milik mereka yang menatap meja kerja di hari biasa.

 
Lantas, saya mulai bertanya, ke mana si pion-pion menghabiskan akhir pekannya? Jarang lagi berseliweran motor dengan tiga orang berboncengan yang kesemuanya sedang beranjak dewasa, atau yang memarkir motornya di dekat pohon di bawah jembatan penyeberangan, pun mereka yang berdesakan dengan pakaian warna-warni di pusat perbelanjaan kelas dua.

 
Akhir pekan adalah soal himpunan semesta dengan para pekerja sebagai himpunan utama dan si pion di luar himpunan. Mereka tak lagi beririsan, yang di pusat dan di pinggiran. Tak ada perbincangan di antaranya. Pun, kalau ada dengan relasi yang begitu timpang.

 
Saya kembali mengayuh sepeda. Jalanan Senopati malam ini masih begitu terang dengan lampu penerangan dari tiap-tiap gerai. Mobil-mobil berderet terparkir di gerai-gerai tersebut. Penjaga warung juga terlihat masih mengobrol hangat dengan pembelinya. Akhir pekan memang tak akan pernah menjadi sebuah irisan si kaya dan si miskin.

 
Irisan itu ada pada kita, manusia-manusia yang berdiam di kantor saat hari biasa dan kembali pada kerumunan di pinggiran tatkala malam. Dan tentu menjadi diantara adalah sebuah anomali di tengah ibukota. Setidaknya fotografer yang mengisahkan kehidupan Jakarta tak akan pernah mengarahkan kameranya pada Anda, yang tak berada di satupun kutub di Senopati.

 

Advertisements

2 thoughts on “Satu Kutub di Senopati

  1. temukonco says:

    jangan-jangan, tidak berada di satupun kutub di Senopati itu, terjadi karena para pekerja hanya punya waktu di akhir pekan untuk jadi manusia sebenarnya, yang lepas dari kubikel-kubikel tempat kerja masing-masing 😀

    Like

  2. Ardi Wilda says:

    *kemudian melihat cermin, kemudian #maktratap*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: