Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Sekitar seminggu yang lalu saya menyempatkan diri cukur rambut. Saya merasa rambut sudah terlalu panjang, alhasil membuat gerah, maka saya putuskan untuk mencukurnya saja. Mendaratlah saya kemudian ke sebuah tempat cukur pria yang belum sampai seminggu dibuka. Alasannya sederhana, karena dekat dengan tempat tinggal. Ditambah rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba menjadi dua hasrat saya pergi ke sana.

 
Tempat cukur ini menarik, ia ingin menghadirkan keintiman tempat cukur ala Amerika. Penuh obrolan, hangat dan desain yang kasual. Yang datang kebanyakan anak muda didampingi oleh pasangannya. Sambil menunggu giliran dicukur saya mencuri dengar obrolan mereka.

 
“Desainer gue emang parah banget kalau kerja, enggak mau direvisi, klien gue jadinya ngamuk-ngamuk,” ujar seorang perempuan berusia sekitar 25 tahunan. “Itu mah bukan desainer tapi seniman, masak desainer enggak mau direvisi, kan seniman banget, udah resign ajalah,” tukas teman laki-lakinya. Mereka kemudian mengobrol panjang tentang masalah pekerjaan sang perempuan, saya pun tak bisa mengelak untuk tak bisa mencuri dengar.


Saya duga sang perempuan adalah seorang Account Executive (AE) di sebuah agensi periklanan. Dugaan saya muncul karena ia banyak mengeluhkan klien dan tim kreatif, dua irisan yang kerap ditemui AE. Dari pakaiannya juga terlihat jelas ia baru saja selesai bekerja dan mampir untuk mengantarkan pacarnya memangkas rambut. Dan momen itu adalah momen ketika ia mengeluhkan masalah pekerjaan pada teman-teman akrab dan pacarnya.

 
Bukan sekali itu saja saya menemui keadaan demikian. Setiap pulang bekerja saya sengaja memperhatikan tempat cukur tersebut. Rata-rata yang datang adalah para pekerja usia 20-an tahun. Dari kaca transparan yang terpasang sebagai dinding tempat itu, terlihat beberapa orang mengobrol di dalam. Saya duga topik obrolannya pun sama, beragam keluhan tentang hidup pun pekerjaan.

 
Saya teringat Jansen. Ia seorang tokoh di film Rocket Rain garapan Anggun Priambodo. Dalam film tersebut diceritakan Jansen hendak bercerai. Ia kemudian menghampiri Culapo, teman akrabnya yang sedang membuat video di Pulau Bali. Bukan tanpa alasan Jansen merapat ke Culapo, pertama jelas karena mereka teman akrab, yang kedua karena Culapo telah lebih dulu bercerai.

 
Dalam film tersebut Jansen banyak mengeluhkan respon keluarganya ketika hendak bercerai. “Kalau nikah ya berarti nikahin keluarga juga, ribet,” begitu kira-kira keluh Jansen. Culapo menyetujui dan mengatakan memang kultur keluarga di Indonesia seperti itu. Mungkin itu pula alasan Jansen menemui rekannya di Pulau Dewata ketimbang bercerita pada sanak familinya.

 
Culapo juga bukan tak punya jurang komunikasi dengan keluarga. “Iya Bu, sholat kok, iya,” tukas Culapo melalui telepon selularnya ketika sang ibu menelepon. Ia kemudian bercerita pada Jansen bahwa minimal sebulan sekali ibunya menelepon untuk mengecek. Ia mengeluhkan hal tersebut. Mimik dan intonasi Culapo menggambarkan ia tak nyaman berinteraksi dengan keluarganya.

 
Jansen dan perempuan di tempat cukur lebih senang menceritakan permasalahannya pada teman-temannya. Pada karib di tempat cukur, pada kawan di Pulau Dewata. Mungkin mereka berdua hanya duplikasi dari banyak sekali orang lainnya. Banyak pemuda pemudi lainnya. Yang lepas namun tak sebenarnya lepas dari institusi keluarga asalnya.

 
Mereka yang pada jam-jam pulang kantor pergi sejenak untuk merapel rindu dengan sobat karib. Bercerita tentang keluh kesah pekerjaan. Harapan akan masa depan yang lebih baik atau sekadar melepaskan penat. Mereka memilih peraduan tersebut pada teman-temannya. Mereka pun mungkin saya tak memilih melakukannya pada keluarga.

 
Boleh jadi sehabis pulang dari tempat cukur tersebut sang perempuan AE ini akan langsung masuk kamar, menutup pintu dan asyik dengan dunianya sendiri. Sang ibu berada di ruang lainnya. Mereka saling hadir tapi tak saling menyapa. Karena ia bersandar pada teman-temannya.

 
Saya teringat Lacan, psikiater yang membagi kita dalam tiga orde yakni orde imajiner, simbolik dan real. Sejatinya ketiga orde itu adalah tahapan dalam fase hidup seekstrim bayi, remaja dan dewasa. Tapi boleh jadi kita tak beranjak dari tahapan imajiner kita.

 
Di tahapan imajiner yang terjadi saat bayi, kita tidak bisa membedakan diri kita dengan bayangan di cermin. Bayangan imajiner ini pada dasarnya sejalan dengan keinginan bayi untuk mendapat kehangatan dan perlindungan ibunya. Di situ bayi belajar melalui refleksi orang-orang yang diberikan di sekitarnya.

 
Boleh jadi Jansen, perempuan AE di tempat pangkas cukur dan kita adalah bayi-bayi kecil yang hendak berlari. Hendak berlari dari romantisme ibu di masa kecil. Namun tak sepenuhnya bisa berlari. Kita masih pulang ke rumahnya, mengetuk pintunya dan basa-basi menanyakan kabarnya.

 
Namun, pada saat-saat jeda, kita berkabar bersama kawan dengan begitu hangatnya. Di pojok kedai kopi, kaki lima pinggiran Senopati, atau bangku bioskop. Kita mungkin hanya butuh teman sekadar untuk refleksi, juga sebuah pernyataan, “Masih ada yang seperti saya”. Kita seperti bayi yang melihat ke cermin dan melihat diri sendiri. Di dalam cermin tersebut kita juga akan menemui Jansen dan perempuan AE, mereka boleh jadi akan bertanya, “Kenapa kita tak beranjak dewasa?”.

 

 
***
post scriptum: tentang Lacan saya membaca dari esai Budi Darma di Majalah Esquire Indonesia. Di esai itu ia menuliskan hubungan hasrat untuk bunuh diri dengan pandangan Lacan. Sayangnya saya lupa di edisi berapa Budi Darma menuliskannya.

Advertisements

6 thoughts on “Ada Jansen di Kaca Kita

  1. “Yang lepas namun tak sebenarnya lepas dari institusi keluarga asalnya.” benar sekali. Mungkin suatu hari kita bisa saling menemukan refleksi kita di suatu kedai kopi yang tak terduga.

    Like

  2. RikaNova says:

    we, jangan-jangan itu aku yg kamu liat di tukang cukur? haha…
    aku abis dari tukang cukur dan ngampret-ngampretin designer juga. tapi aku bukan ae sih 😛

    Like

  3. Ardi Wilda says:

    hehe ke kedai teh aja mas, saya ndak suka ngopi ngopi 🙂

    Like

  4. Ardi Wilda says:

    wah jangan2 mbak rika ndue jurus ala wiranto iki isoh menyamar barang. eh kita sui ndak ketemu, mbok kapan2 ngobrol meneh yo mbak 😀

    Like

  5. didi says:

    sayangnya awe tak memilih gondrong 😦

    Like

  6. Ardi Wilda says:

    belakangnya masih gondrong kok, kapan ngajar ke sd lagi? 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: