Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Setiap pagi sebelum memulai pekerjaan, saya selalu menyempatkan berinteraksi dengan satpam kantor. Bukan interaksi yang dalam, sekadar bahan sapaan pagi. Hal ini saya lakukan karena satpam di kantor akan bertukar jam tugas pada pukul tujuh pagi, akan menyenangkan bagi mereka jika di saat mengawali tugasnya mereka bisa ngobrol-ngobrol.

 

Satu hal yang sering dibahas oleh satpam kantor saya adalah soal motornya. “Saya kalau kemana-mana ya naik motor ini mas, lumayan lah jalan-jalan ke Pelabuhan Ratu segala,” jelasnya berulang kali. Motor yang ia maksud adalah sebuah motor kopling atau biasa disebut motor laki. Body motornya memang lumayan besar, warnanya putih dan cukup menarik perhatian di parkiran kantor. Motor ini menarik perhatian karena semua motor kecuali motornya adalah motor bebek.

 

Ia juga sempat bercerita menyayangkan lecet kecil di salah satu bagian badan motornya. “Waktu ke Pelabuhan Ratu jatuh mas, ya nasib lagi jelek,” ujarnya sedikit menyesal. Di lain waktu ia bercerita menyenangkan rasanya membawa motor dari rumahnya di sekitaran Bangka ke kantor. “Deket mas, lumayan lah naik ini,” celotehnya. Mendengar cerita-cerita dengan motornya saya biasanya hanya mendengarkan dan menimpali dengan senyum. Setelah itu biasanya saya akan berpamitan masuk ke ruang kerja.

 

Cerita lain datang dari pembantu di kediaman saya bersama teman-teman. Kami biasa menyapanya dengan sebutan Teteh. Beberapa hari yang lalu ia bertanya pada saya, “Bedanya ngetweet sama mention apa Mas?”. Wajar ia bertanya demikian, ia memang gandrung dengan segala jenis media sosial. Ia memiliki telepon selular yang mampu mengakses internet dan tentunya media sosial.

 

Lain waktu ia bertanya bagaimana cara bermain instagram. Karena saya tak memiliki instagram saya jawab tidak tahu. Beberapa saat kemudian saya tahu dari teman satu kediaman kalau Teteh sudah memiliki instagram. Aktivitas Teteh di media sosial memang aktif. “Kalau siang ya paling internetan aja Mas,” katanya saat saya tanya apa yang ia lakukan jika saya dan teman-teman pergi ke kantor.

 

Motor bagi satpam dan media sosial untuk Teteh adalah sebuah hal yang menarik dan orisinil menurut saya. Saya ingat ketika tinggal selama satu tahun di pedesaan kawasan Tulang Bawang Barat, Lampung, dulu motor adalah sebuah pencapaian utama pemuda di sana. Memiliki motor berarti menjadi seorang laki-laki yang kemudian menjadi identitas sosial dalam pergaulan.

 

Awalnya saya mengira motor sebagai sebuah pencapaian hanya ada pada konteks pedesaan. Nyatanya kini di Jakarta saya menemui fenomena serupa. Harga sebuah motor laki-laki jelas tidak murah. Setidaknya harus merogeh kocek yang lumayan dalam. Namun, jika ditilik lebih lanjut justru karena harganya yang tidak terlalu murah ia menjadi sebuah pencapaian.

 

Bayangkan sebuah kota dimana harga rumah begitu melambung, kendaraan roda empat tak terjangkau oleh masyarakat biasa, maka motor menjadi satu-satunya pilihan. Pun, bagi satpam di kantor saya. Motor adalah sesuatu yang sungguh-sungguh ingin dicapai. Dengan motor ia bisa menjadi dirinya sendiri di luar ikatan profesinya. Pergi ke Pelabuhan Ratu, berinteraksi dengan teman-temannya dan yang paling mahal, menjadi dirinya sendiri.

 

Teteh juga melakukan hal serupa. Ia sendirian di rumah. Satu-satunya medium berinteraksi adalah media sosial. Di medium itu ia bisa berinteraksi dengan melepaskan atribut profesinya. Pada media sosial ia bisa mendengar apa yang sejatinya tak bisa ia dengar dalam keseharian. Pada media sosial pula ia taruh sebuah suara kecil dari yang selama ini tak bisa ia ungkapkan. Capaiannya sederhana, hanya ingin didengarkan. Sesuatu yang boleh jadi mahal untuk orang yang kadang tak punya opsi suara.

 
Wimar Witoelar dalam sebuah tulisannya di buku Sweet Nothings, A Book about Nothingmemiliki perspektif menarik tentang apa yang dilakukan orang-orang biasa dengan cita-cita sederhana mereka. Wimar menulis, “Orang biasa pada umumnya mencari pelarian dari kegiatan yang dianggap bukan kegiatan yang sengaja dipilihnya”.

 

Bagi saya Teteh dan satpam di kantor adalah sebuah koor “Amin” atas apa yang dikatakan Wimar. Boleh jadi motor kesukaan satpam dan media sosial adalah sebuah pencapaian dan pelarian mereka dalam kegiatan kesehariannya. Media sosial pun motor membebaskan mereka sebagai sebuah individu, sebuah perasaan yang tentunya dirindukan oleh setiap orang.

 

Lantas, di jalanan dan keseharian kita kadang menampik mereka. Menjadikan mereka sesuatu yang bukan bagian dari kita hanya karena obsesinya yang berlebih pada motor dan media sosial. Mengutuk rentetan motor yang berjajar di antara kawasan sub-urban. Dalam rentetan motor itu boleh jadi menyempil sebuah obsesi pemiliknya, atau jangan-jangan mayoritas motor di jalan memang sebuah obsesi dan pencapaian pemiliknya. Seperti halnya bagaimana kita memandang asing interaksi di media sosial untuk sekumpulan yang di luar dari komunitas kita. Boleh jadi pada interaksi tersebut ada upaya untuk didengarkan dari kesuntukan kehidupan keseharian.

 

Ada sebuah jurang diantara kita. Seakan obsesi keseharian orang-orang biasa di sekitar kita menjadi begitu berjarak. Obsesi keseharian yang wajar dimiliki seseorang dihakimi dengan begitu kerdil. Label “norak”, “gitu doang”, dan beragam label lainnya terus menjadikan jarak tersebut semakin jauh. Seakan pada mereka kita tak menemukan diri kita. Nyatanya jarak itu boleh jadi nol besar.

 

Saya mengetik ini di sebuah kedai yang tiap minggu saya kunjungi. Boleh jadi ini adalah obsesi pencapaian saya, memiliki sebuah kedai makanan sederhana. Seperti halnya beberapa dari kita yang terobsesi dengan tempat liburan yang hendak dikunjungi, ketenangan khas yoga, beragam buku berjudul njelimet atau hasrat tinggal di daerah menenangkan.

 

Pada obsesi-obsesi itu kita merasa yang paling personal. Sebuah obsesi melepaskan diri dari kepenatan keseharian. Pada pelarian-pelarian ini kita adalah Teteh dan satpam kantor. Jarak itu hanya ada pada obsesi kita masing-masing. Saya kini berpikir, mungkin saya melakukan obrolan pagi dengan satpam bukan untuk remeh temeh berinteraksi dengan dirinya. Boleh jadi di tiap obrolan pagi hari dengan satpam, saya sebenarnya sedang menengok obsesi diri sendiri. Lecet kecil pada motor satpam seperti suara kecil ia sudah mengejar obsesinya, selayaknya kita dengan impian-impian di akhir pekan.

 

Advertisements

2 thoughts on “Lecet Kecil di Motor Satpam

  1. Saya suka artikel ini, kehabisan kata-kata untuk mengomentarinya. Saya hanya bisa berkata lantang Amin pada pendapat Wimar Witoelar.

    Like

  2. Ardi Wilda says:

    Amin juga 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: