Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Pak, Bapak aja yang ngajar, kalau Bu Sumi yang ngajar nanti dipukul tangan saya Pak,” kata Mitra sekitar dua tahun lalu. Mitra adalah murid saya yang duduk di kelas empat dua tahun lalu. Wajahnya ketakutan ketika itu, ia takut ruas-ruas jarinya akan kembali merah terkena pukulan Bu Sumi. Saat itu saya hanya menjanjikan Bu Sumi tak akan memukul tangannya lagi. Saya dan Mitra kemudian melakukan janji kelingking.

 
Bu Sumi adalah guru kesenian di sekolah saat saya menjadi guru di program Indonesia Mengajar. Perawakannya kurus, sangat kurus bahkan. Tulang punggungnya tidak tegap sehingga ia jalan dengan menunduk. Matanya terlihat sayu setiap harinya. Pun kulit pipinya keriput, membuat ia tampak jauh lebih tua dari umur biologisnya.

 
Bukan tanpa alasan kondisi tubuhnya seperti itu. Bu Sumi menderita beberapa komplikasi penyakit, yang saya ingat salah satunya diabetes. Ia jarang masuk sekolah karena penyakitnya tersebut. “Baca aja saya susah Pak Ardi,” ujarnya setiap kali saya mengunjunginya di rumah. Kediaman Bu Sumi tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar lima puluh meter dari kebun sekolah yang ditanami singkong.


Sekitar dua minggu sekali saya mengunjungi Bu Sumi. Tujuannya dua, pertama adalah menjenguknya. Kedua, memotivasinya agar mengajar kembali. Yang pertama sukses, yang kedua gagal. Sayangnya saya tak bisa melakukan apa-apa lagi untuk urusan kedua selain menggantikannya mengajar di kelas. Kondisi tubuhnya memang terus memburuk, secara perasaan saya tak tega memintanya kembali mengajar.

 
Pernah suatu kali selesai mengajar setelah lama tak mengajar ia bercerita singkat pada saya. Ia mengatakan sebal dengan tingkah laku Mitra dan kawan-kawannya yang tidak memperhatikannya saat mengajar. Ia kemudian memuntahkan kemarahannya dengan memukul tangan Mitra dengan penggaris. Dan janji kelingking saya bersama Mitra hancur lebur hari itu.

 
Setelah itu Bu Sumi jarang mengajar. Jarang sekali. Saya masih kerap melakukan kunjungan ke rumahnya sekadar untuk mengetahui kondisi fisiknya. Ada sebuah ritual menarik setiap saya menengok Bu Sumi. Ia selalu menyediakan chiki sebagai hidangan bagi saya sebagai tamu. Di rumah ia membuka warung dan barang yang bisa ia sediakan adalah chiki. Kadang-kadang saya kangen juga dengan hidangan chiki Bu Sumi.

 
Di tiap interaksi tersebut ia sering bercerita tentang kondisi kesehatannya dan keluhan-keluhannya. Ia bercerita sebenarnya sangat tidak ingin memukul tangan Mitra dengan penggaris namun ia terpaksa melakukannya. Baginya berangkat mengajar saja sebuah perjuangan tapi saat sampai di sana ia justru dikerjai oleh tingkah Mitra. Saya memintanya terus menerus untuk tak memukul Mitra. Ia menganggukkan kepala, dan benar saja Mitra tak pernah lagi merengek di depan saya meminta mengadukan Bu Sumi.

 
Pagi ini sebuah pesan pendek masuk ke telepon selular saya. Pesannya singkat, “Innalillahi Bu Sumi meninggal.” Saya berdiam cukup lama mencerna kabar itu. Pikiran saya melayang ke kediaman Bu Sumi, sekolah dan desa penempatan saya. “Saya lagi di rumah Bu Sumi Pak Ardi, iya nanti saya sampaikan salamnya ke keluarga,” kata Pak Kardi, penjaga sekolah saat saya hubungi melalui telepon.

 
Hari ini saya mengingat pelannya jalan Bu Sumi dari kelas menuju kantor guru. Pada setiap langkahnya saya belajar mendidik bukan soal beragam birokrasi pendidikan hitam di atas putih. Mendidik adalah soal empati. Soal kesediaan untuk saling terbuka. Saya sangat yakin ia berusaha melawan penyakitnya dengan keras. Ia berusaha melawan penyakitnya untuk mengajar. Hari ini semua selesai.

 
Bu Sumi tak gagal. Ia berhasil mengajarkan pada Mitra dan kawan-kawan bahkan untuk hal yang paling ditakuti sekalipun seseorang bisa berubah. Mitra mungkin tak akan pernah merengek lagi pada gurunya soal dipukul Bu Sumi. Mitra akan selalu mengenal Bu Sumi bukan lagi sebagai guru yang memukul tangannya dengan penggaris. Mitra akan mengenalnya sebagai seorang guru yang berubah demi muridnya.
Untuk Bu Sumi, semoga damai selalu bersama Ibu. Semoga tempat terbaik bagi Bu Sumi di sana. Mitra pasti bangga ada seorang guru yang berubah demi dirinya. Pada Ibu saya belajar arti penting perubahan untuk orang yang kita cintai, untuk murid-murid kita. Doa saya dan Mitra selalu menyertai. Alfatihah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: