Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Siang tadi saya bersama seorang rekan, Ocha, mengunjungi pameran seni rupa yang lumayan besar di Galeri Nasional (Galnas). Pameran itu bertajuk “Manifesto Keseharian”. Saya pertama membaca pameran ini di Koran Tempo, saat itu sudah ada keinginan untuk menonton, sayangnya baru siang tadi bisa mengunjunginya bersama Ocha. Jelas menyenangkan bisa menyempatkan waktu menonton pameran seni di tengah keriuhan keseharian belakangan ini.

 
Kesenangan itu sedikit bercampur kebingungan ketika sampai ke lokasi. Lama memang tak datang ke sebuah pameran seni atau sesuatu yang berkonteks “kesenian”. Karena itu mungkin saya perlu sedikit adaptasi. Tepatnya beradaptasi dengan tingkah polah kecil para pengunjung.

 
Mengunjungi pameran ini kita disambut oleh karya gigantis seniman Valasara berjudul “Selimut”. Karya yang sejatinya sebuah instalasi menggabungkan beragam kain yang dijahit sangat besar ini berubah menjadi “background foto” raksasa bagi para pengunjung. Banyak pengunjung berpose dengan menjadikan karya ini sebagai latar belakang berwarna-warni. Saya tersenyum melihatnya.


Tak selesai sampai di situ, melangkah ke dalam gedung pameran kita seperti disuguhi “pameran background” untuk berfoto para pengunjung. Semua karya seakan tak luput untuk jadi latar belakang berfoto pengunjung yang hadir. Saya sekali lagi hanya bisa tersenyum melihatnya.

 
Tentu sebuah karya dalam pameran bebas diapresiasi seperti apapun, termasuk difoto. Kata orang seniman telah mati tepat ketika karyanya lahir, ia menjadi milik publik, milik penonton yang menikmatinya. Beberapa karya saya akui memang menarik untuk dijadikan latar belakang foto. Namun, baik saya dan Ocha memang tidak terlalu suka difoto, alhasil kami ya melihat-lihat pameran tanpa menjadikan karya sebagai latar belakang berfoto.

 
Mungkin kebanyakan orang sebal dengan dijadikannya karya sebagai latar belakang foto. Tapi, entah kenapa saya justru senang melihatnya. Mungkin bukan senang, tapi menarik melihat fenomena itu. Ada sesuatu yang jauh sekadar dijadikannya karya sebagai latar belakang foto menurut saya.

 
Kebanyakan pengunjung yang datang tentu adalah warga ibukota. Umurnya juga rata-rata seusia saya, sekitaran 25-an tahun. Bisa dibilang mereka adalah kelas pekerja di masa awal-awal kariernya. Dalam keseharian bisa jadi para pengunjung pameran ini bergelut dengan keriuhan pekerjaannya. Tenggat waktu yang wajib diselesaikan, klien yang harus dinegosiasi sampai target penjualan yang mesti dicapai. Hal-hal keseharian yang kadang kala memuakkan.

 
Pergi ke pameran adalah sebuah eskapisme bagi mereka. Melihat apa yang sehari-hari tidak bisa dilihat. Melihat sesuatu yang di luar dari bagian kesehariannya. Lukisan yang nyeleneh, instalasi gigantis, pun beragam narasi yang berjarak dari kehidupan mereka. Dan eskapisme adalah soal jarak, yang berjarak juga berarti yang perlu dirasakan.

 
Pada akhirnya berfoto dengan karya adalah jawabannya. Ini tak ada bedanya dengan seorang pelancong yang berfoto di Cibodas atau Borobudur. Mungkin pengalaman yang dirasakan sama.

 
Beruntung saya pernah hidup di Jogja, sebuah kota yang terlalu mudah untuk mendapatkan akses menonton beragam kesenian. Alhasil, pengalaman mengunjungi pameran tentu berbeda dengan pengalaman melancong seperti kebanyakan masyarakat ibukota, mungkin. Pengalaman menonton pameran lebih mirip seperti pengalaman berziarah bagi saya. Memanggil sesuatu yang pernah saya hidupi. Mengunjungi beragam pameran seperti sedang menjenguk kehidupan terdahulu, tanpa ada sebuah tendensi untuk mendramatisasinya. Mengunjungi pameran kemudian seperti mengingatkan saya akan obsesi-obsesi masa muda, tapi saya kemudian sangat menikmatinya, menjadi semacam reuni yang biasa saja.

 
Pengalaman ini mungkin berbeda dengan beberapa orang yang berpose yang justru menjadikan pameran sebagai sebuah eskapisme kehidupan keseharian. Tapi saya senang melihat fenomena ini, bahkan saya menikmatinya. Tingkah polah bagaimana masyarakat ibukota ingin menjadi bagian dari sebuah karya sangat lucu untuk dilihat.

 
Boleh jadi pameran sesungguhnya adalah para pengunjung ini. Mereka adalah bagian dari keangkuhan seniman, kesakralan gedung kesenian, dan kekalahan-kekalahan masyarakat kota pada impiannya masing-masing. Berfoto dengan karya adalah pembalasan dendam paling sederhana penatnya keseharian, kemacetan di jalanan atau masalah pekerjaan lainnya. Mereka ingin terasa begitu dekat dengan kebebasan yang dihadirkan kesenian tapi sesungguhnya jarak itu semakin terbuka lebar.

 
Saya jadi teringat setiap melewati Jalan Sudirman di malam hari. Lampu-lampu gedung yang berwarna kuning, beberapa wanita karier yang pulasan bedaknya mulai luntur, dan kancing bagian atas para pengusaha muda yang sengaja dibuka setelah pulang kerja. Hampir setiap hari saya melihat pemandangan seperti itu namun saya tetap merasa asing dibuatnya.

 
Pada keterasingan di gedung-gedung besar tersebut. Pada rasa asing melihat pekerja pengejar karier di tengah keletihannya saya justru sedang merasa melihat pameran. Melihat sebuah eskapisme dari kehidupan saya. Saya asing dan senang melihat pemandangan semacam itu.

 
Bagi saya melihat pameran adalah ketika melihat orang-orang kantoran dengan obsesinya. Gedung kesenian adalah lampu-lampu gedung di Sudirman saat malam hari. Bagi saya pengalaman melihat pameran tak hanya pada gedung kesenian, ia ada di antara keterasingan di tengah ibukota. Saya tak memfotonya karena saya bagian dari deretan karya tersebut.

 
Saya kemudian teringat karya Theo Frids Hutabarat di pameran tadi siang yang berjudul “I’m art and you’re not”. Narasinya tentang masing-masing kita yang merasa lebih nyeni dibanding lainnya. Mungkin saya sedang terjebak di dalamnya. Atau kita semua terjebak di dalamnya? Sampai kita tak tahu apakah gedung pameran itu ada di beragam galeri ternama atau jangan-jangan gedung tempat kita bekerja? Tak perlu berfoto untuk menjawabnya, masing-masing kita pasti tahu jawabannya, sayangnya tak seperti seniman yang berpameran di gedung kesenian, kita tak berani menyatakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: