Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Ada satu hal kecil yang menjadi ciri khas bapak. Ia tergolong orang yang santai, dulu ia sempat kaku, namun seiring bergulirnya waktu sepertinya ia mengubah sikapnya. Meski begitu ada satu kekakuan kecil yang terus ia pegang sampai saat ini. Itu diwujudkan dalam melatih anak-anaknya berkendara.

 

 

Bapak saya punya ukuran jelas dalam mengemudikan kendaraan. Saya sama sekali tak diijinkan mengendarai motor sebelum usia saya 17 tahun, apapun alasannya. Ia melatih saya naik motor sebelum usia 17 tentunya, namun ia hanya akan menyerahkan kunci ketika saat itu saya sudah menginjak usia 17. Ia pernah mengatakan, akan ada waktunya untuk setiap kesempatan.

 

 

Layaknya anak laki-laki setelah bisa mengendarai motor, di usia muda dulu saya pun meminta untuk diajari mengendarai mobil. Namun, ia selalu menolak permintaan saya tersebut. “Kamu naik motor aja, kampus kan deket juga tho, kalau mau bawa mobil minta anter pembantunya Pakde aja,” ujar bapak dulu. Saat itu saya berkuliah di Jogja dan menumpang di rumah pakde. Karena memang alasannya logis saya hanya menganggukkan kepala.

 

Waktu terus berlalu dan saya merasa kebutuhan dapat mengendarai mobil semakin mendesak. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir ketika bapak jatuh sakit, Saat itu mata bapak sakit dan disarankan selama sekitar dua tahun ia tak boleh mengendarai mobil. Alhamdulillah, kini ia tak lagi menderita penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut.

 

 

Ada rasa bersalah ketika ke tempat yang jauh saya harus disupiri kakak yang sebenarnya juga punya urusan lain. Meski begitu bapak selalu meminta saya untuk tidak latihan menyetir dulu. Entah apa alasannya.

 

 

Libur lebaran ini sebuah perintah datang darinya. “Besok kita latihan nyetir di pacuan kuda pulomas ya,” ujarnya singkat. Saya hanya membalas singkat, “Iya Pak”. Esok paginya kami berdua sudah berada di mobil yang sama untuk latihan menyetir. Tak ada yang spesial di pagi itu, ia tetap menjadi bapak saya dengan gesture yang sama dalam kesehariannya. Tapi, pagi itu saya belajar banyak.

 

 

“Semua anak muda bisa ngegas, tapi enggak semua bisa ngerem, kita belajar ngerem,” ujarnya tegas. Ucapannya persis sama dengan apa yang ia ajarkan sekitar sepuluh tahun lalu saat mengajari saya naik motor. Sekitar sepuluh tahun lalu ia bercerita bahwa ia tak ingin saya kebut-kebutan, satu-satunya cara untuk mencegah itu adalah dengan mengajari arti penting rem. “Kuncinya di rem, bukan di gas,” katanya pada waktu itu.

 

 

Mungkin sekitar dua puluh tahun lalu saat saya belajar naik sepeda ia sudah mengajari saya hal itu. Saat itu dia bilang, “Nanti pasti kamu jatuh, enggak apa-apa, kalau udah jatuh kamu jadi bisa lebih bagus naiknya.” Kontan tak sampai seminggu setelah latihan sepeda roda dua, saya langsung nyusruk di ujung gang, seluruh dengkul babak belur. Melihat itu bapak hanya tersenyum.

 

 

Saat melatih menyetir mobil kemarin bapak hanya berpesan agar setelah lebaran nanti saya sudah bisa mengendarai kendaraan roda empat. Ia mengatakan ada perbedaan besar saat membawa roda empat, sebab ini tidak lagi soal saya seorang diri tapi lebih banyak orang. Nyawa banyak orang di tangan saya. Itu butuh tanggungjawab lebih besar dibanding motor. Saya mencermati dia saat mengatakan itu.

 

 

Pulang ke rumah saya diajari mengganti ban dengan baik. “Perhatiin semua detail, pengendara yang baik ngecek dulu, enggak asal tancap,” ujarnya. Ia mengajari saya apa yang harus dicek sebelum berkendara. Memasang dongkrak dan ban, lumayan sulit, mungkin kalau disuruh mengulangi saya akan menyerah.

 

 

Sepulang dari latihan ia meminta ibu untuk menghangatkan air panas. “Capek juga,” katanya singkat. Ia langsung mandi begitu sampai di rumah. Wajahnya terlihat cerah setelah membersihkan diri dengan air hangat. Seperti biasa ia kemudian menyalakan televisi dan menonton kotak cahaya tersebut sampai tertidur.

 

 

Almarhum kakek saya, alias ayah bapak saya adalah seorang supir dari juragan besar di salah satu kota pesisir Jawa. Bapak tumbuh dalam kultur seorang pengendara. Ia kemudian menjadi seorang buruh pabrik di perusahaan otomotif. Kendaraan roda empat adalah hidupnya dari kecil.

 

 

Saya melihatnya malam itu, kini saya tahu kenapa ia selalu menunda waktu. Ia sebenarnya sedang menunggu waktu yang tepat. Ia ingin menunggu waktu ketika ia merasa saya sudah bisa sendiri. Sudah bisa membawa manusia lain dalam tanggungjawab saya. Ia menunggu waktu itu.

 

 

Relasi anak laki-laki dan ayahnya memang relasi paling rumit. Bapak menghadirkan jembatan relasi itu dengan pelajarannya dalam pengajaran sebuah kendaraan. Baginya ada hal-hal yang hanya bisa dipahami seseorang tatkala ia telah sampai pada pemahaman tertentu.

 

 

Belum lama ini saya memang bercerita kecil pada ibu. Saya bukan tipikal anak yang suka bercerita hal penting pada ibu, mungkin ibu sadar ketika bercerita itu ada yang berubah dari anak bungsunya. Ia bercerita pada bapak agaknya, dan ya kemudian bapak mengajari bagaimana bertanggungjawab.

 

 

Pada pelajaran mengemudi berikutnya sebenarnya bapak tak sedang mengajari saya mengatur kopling, rem pun gas. Yang ia lakukan sedang mengajak saya berbincang secara setara antara dua laki-laki dewasa. Dan untuk kali ini, saya tak ingin mengecewakannya, setelah apa yang selalu saya bantah darinya di kala muda tentang obsesi saya. Pun mungkin ia sudah tak begitu kecewa dengan impian-impiannya pada saya, seperti yang dikatakannya pagi hari itu, “Cuma kamu yang bisa ngerasain mau secepet apa lajunya, bukan bapak.”

Advertisements

2 thoughts on “Dari Balik Kemudi

  1. zunanto says:

    Meski agak panjang, penyajian paragrafnya membuat saya betah membaca hingga khatam. Apalagi ada beberapa kalimat yang menjawab pertanyaan -pertanyaan yg belum sampai saya tanyakan ke orangtua saya.

    Like

    1. ardiwilda says:

      terimakasih sdh berkunjung, senang jg bisa berbagi keresahan bersama 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: