Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Saat pulang ke rumah, saya kerap mampir di warung makan bernama “Bakso Ojo Lali”. Letaknya sekitar satu setengah kilometer dari rumah. Setelah perjalanan panjang dari kantor saya biasa beristirahat dulu di sana, agar saat sampai rumah bisa langsung terlelap.

 

Baksonya terasa gurih. Mungkin karena jumlah dagingnya yang banyak, tak seperti kebanyakan bakso lain yang lebih banyak adonan tepungnya. Pedas sambalnya juga pas. Tak ketinggalan kerupuk putih ala warung tegal yang akan berbunyi “nyes” ketika dicelupkan ke kuah bakso. Secara rasa bakso ini lezat, namun bukan itu alasan utama saya ke sering ke sana.

 

Di warung bakso itu saya senang mengamati para pengunjung yang datang. Biasanya mereka satu keluarga atau pasangan muda-mudi yang sedang berkencan. Sambil meniup-niup baksonya sang ibu menyuapi anaknya. Atau pemandangan muda-mudi yang memutar-mutar kunci motornya dengan bangga. Mungkin motor kopling itu ia raih dengan upaya keras. Masing-masing meja terasa ramai oleh interaksi masing-masing.

 

Kejadian ini mengingatkan saya ketika dulu berada di Lampung untuk menjadi guru. Sekitar lima ratus meter dari sekolah saya terdapat warung bakso lumayan besar. Saat akhir pekan warung itu dipenuhi warga. Mereka membawa keluarganya ke sana. Warung bakso adalah tujuan mereka untuk melepas penat, untuk bersenang-senang, atau sedikit berfoya-foya.

 

Kedua warung bakso ini mirip, sama-sama menghadirkan perasaan nyaman. Ada kehangatan yang mereka timbulkan dalam interaksi sederhana yang terjadi.

 

Dalam novel “Aruna dan Lidahnya” terdapat satu bagian penggambaran karakter yang saya suka. Dalam bagian itu Laksmi Pamuntjak, sang penulis novel, menggambarkan karakter Bono dengan menarik. Bono, seorang chef yang baru pulang dari New York, merintis usaha restoran di negeri ini. Perspektif Bono saat pulang sangat menarik, Laksmi menuliskannya dengan baik, “Ia tahu bagaimana memainkan kartu internasionalisme dan lokalisme sekaligus…Ia tahu bagian mana dalam pengalaman pribadinya yang harus ia kutip dari Indonesia…Di Indonesia, ia lebih berbicara tentang segala yang mengembalikan orang kepada keluarga, pada akar pengalaman yang terlama dan terdalam.”

 

Bono hendak mengembalikan ceritanya pada keluarga, ceritanya mungkin adalah makanan yang ia sajikan. Mengembalikan sekali lagi, pada akar pengalaman yang terlama dan terdalam.

 

Mungkin saya sedang mengalami perspektif Bono ketika berada di dua warung bakso itu. Suasana yang mengembalikan saya pada pengalaman yang terdalam. Menjadi satu bagian di antara mereka. Mungkin saya adalah si anak yang baksonya ditiup oleh sang ibu. Atau muda-mudi yang hendak berdiri namun tertatih-tatih menghadapi apa yang ada di depan.

 

Saya sama sekali tak merasakan suasana nyaman semacam itu ketika makan di tempat-tempat yang secara penampilan begitu menarik. Tempat-tempat makan yang membuat kita berkata dalam hati tempat ini menarik untuk dikabarkan melalui saluran media yang kita punya. Tempat yang begitu kering dengan mata-mata menatap layar dengan pendar cahaya.

 

Atau mungkin ini bukan soal kenyamanan tapi jauh dari itu. Mungkin ini soal kita di tempat-tempat makan yang konsepnya wah sekaligus tak hendak disentuh oleh hal lain. Tak hendak disentuh oleh apa-apa yang dianggap sebagai di luar dirinya.

 

Seperti karakter penulis kuliner Nadezhda di novel Laksmi. “Nadezhda tak suka restoran yang menyuguhkan layar televisi. Aku yakin bahwa masalah utamanya sesungguhnya estetika. Dalam hal ini, dia bisa seperti fasis. Dia seolah tak sudi barang sedikitpun oleh sesuatu yang ia anggap norak, atau jelek, atau kodian, atau kitsch.”

 

Nadezhda menjadikan restoran sebagai bentengnya dari pihak luar. Bahwa di dalam sana ada dunia yang sedang ia ciptakan, sebuah dunia yang bukan kodian.

 

Mungkin kita memang takut untuk menghadapi “kodian” di luar sana. Lantas seperti Nadezhda lari dan pergi ke benteng kita sendiri. Benteng yang kemudian kita siarkan visualnya untuk mereka di luar sana. Sekadar berbagi dan mungkin sambil berkata, “Hai ada benteng bagus di luar sana, sedikit sekali gangguannya.” Dan ketika keadaan menjadi kodian maka saatnya mencari benteng baru, kembali menjadi makmum bagi Nadezhda.

 

Warung bakso di dekat rumah saya jauh sekali dari kata rapi. Baju mas-mas yang menjajakan sama sekali tak enak dipandang. Mejanya bopeng sana-sini. Tapi ketidakteraturan itu yang membuatnya menyenangkan.

 

Pada tempat-tempat semacam ini bukan benteng yang hendak kita buat, ia seperti sebuah jendela yang terbuka. Menengok apa yang “kodian” di luar sana. Dan saat kita sadar kita satu dari “kodian” besar di sana, mungkin Bono bisa membusungkan dadanya. Bahwa pada warung sederhana itu kita sedang kembali pada akar pengalaman yang terdalam.

Advertisements

2 thoughts on “Bakso Nadezhda

  1. Anggha says:

    Bakso Ojo Lali di daerah Pondok Kopi? Monggo koreksi jika saya keliru 😀

    Like

    1. ardiwilda says:

      setau saya ada banyak bakso bernama ojo lali. kalo yg di pondok kopi sepertinya beda dengan yg sering saya kunjungi mas 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: