Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Sekitar sebulan lalu, Dimas Ario mencolek saya di twitter. Ia mengajak makan siang bersama Dito Yuwono. Saya mengiakan ajakannya, alasannya sederhana, sudah lama tidak bertemu mereka berdua. Terakhir kali bertemu bersama sekitar tiga tahun lalu. Saat itu Dito menggelar pameran di salah satu galeri kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Tiga puluh menit setelah colekannya, kami bertiga bertemu di restoran Cina dalam sebuah pusat perbelanjaan kawasan Senayan.

 

Dimas mengenakan kemeja flanel biru dengan perawakan lebih rapi dari terakhir kali kami bertemu. Selain tambah rapi, ia juga tampak lebih subur. Dito memakai kaos T putih sederhana, senyumnya masih sehangat dulu. Sambil melahap makan siang kami bertiga mengobrol banyak hal.

 

Obrolan semakin hangat ketika Dimas bercerita aktivitasnya sebagai pekerja agensi periklanan. “Yang baru masuk pada gue bilangin, harus punya hobi, biar enggak mikirin kerjaan terus,” ujarnya. Menurutnya hobi tidak hanya akan menolong untuk lebih santai, tapi juga membuat lebih peka dengan keadaan sekitar. Sehingga, hidup tidak hanya soal kantor dan kantor, “Masih ada kehidupan di luar sana,” tambahnya bersemangat.

 

Dito punya cerita lain. Jika Dimas lebih banyak bercerita dengan perspektif pekerja kantoran Jakarta, Dito bercerita dari sudut pandang warga Jogja. Sehari-hari ia memang bergiat di Jogja sebagai penulis (kebanyakan kuliner) dan mengerjakan beberapa project kesenian.

 

Ia bercerita banyak tentang perubahan Jogja, bukan dengan kacamata kritis seperti potret kota itu belakangan ini. Ia memang mengkritik beberapa hal namun tak terkesan cerewet. Kedatangannya ke Jakarta salah duanya untuk menonton pameran Lab Laba-Laba di Gedung Laboratorium Perum Produksi Film Negara (PFN) serta menyaksikan Pementasan Ular Putih, Teater Koma di Taman Ismail Marzuki (TIM). Selain itu ia punya misi lumayan personal.

 

Ia sedang ingin penyegaran sehingga pergi ke Jakarta. Menurutnya ibukota akan memberi perspektif baru untuk proses berkaryanya. Saya tak tahu apakah kemudian ia menemukan perspektif baru. Yang saya tahu ia melalap habis makanannya siang itu.

 

Cerita Dimas dan keluhan Dito menurut saya sering terjadi pada banyak orang. Mereka sedang mencari sesuatu di luar kegiatan mereka sehari-hari. Mencari dengan cara yang simpel. Dimas dengan hobi agar hidupnya tak melulu berisi kata klien, Dito dengan pergi ke Jakarta.

 

Usaha mereka mengingatkan saya pada pengakuan AA Navis mengenai proses kreatifnya. Dalam salah satu esai di buku Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (1981) Navis memulai esainya dengan pengakuan sederhana. Ia menuliskan alasan mengapa mengarang tak pernah mudah baginya. Ada tiga alasan yang ia kemukakan, poin paling menarik adalah poin terakhirnya.

 

“Saya tidak mempunyai pengalaman hidup yang penuh avontur, yang aneh-aneh, sehingga saya tidak mempunyai bahan yang luar biasa untuk diberitakan kembali dalam ciptaan-ciptaan saya,” tulis Navis.

 

Dalam tulisan tersebut ia menambahkan efek hal tersebut, “Maka itu sumber penggalian untuk cerita yang saya tulis adalah lingkungan hidup saya, yang coraknya biasa-biasa saja, yakni tentang orang-orang biasa pula.”

 

Seperti cerita Navis, Dimas dan Dito (setahu saya) juga bukan seorang petualang. Mereka memang pernah dan sedang bergiat di dunia kesenian pun kreatif, tapi keresahan mereka adalah kekhawatiran khas orang kebanyakan.

 

Keresahan seorang pekerja agensi yang butuh hobi untuk hiburan atau seorang penulis kuliner yang sejenak pergi ke Jakarta karena sedang lelah dengan Jogja.

 

Pun sehari-hari saya bertemu dengan orang seperti mereka. Pekerja yang berangkat dan pulang kantor dengan kehidupan yang meminjam istilah Navis “biasa-biasa saja”. Datang dan pergi kantor, selesai. Business as usual kalau kata orang luar sana. Sayangnya jarang sekali saya mendengar kisah orang-orang seperti mereka.

 

Yang kerap muncul justru cerita-cerita besar dengan pengalaman avontur yang sekadar membuat decak kagum. Orang semakin terobsesi dibuatnya. Dan obsesi akan kisah avontur menurut saya mulai berlebihan. Pergi ke yang paling jauh dan tak terjamah maka baru menjadi cerita hebat. Tendensinya mencari, bukan berefleksi.

 

Kasus yang mirip pernah saya temui saat mengobrol dengan seorang pembuat film dokumenter. Ia bercerita saat memberikan workshop di daerah perbatasan (saya lupa detailnya). Semua ide dokumenter anak-anak di perbatasan A ingin mengangkat isu di daerah tetangganya, sebut saja B, pun sebaliknya. Baginya ini menarik, karena kecenderungan kita selalu melihat ke yang jauh, tak pernah ke dalam. Padahal menurutnya kedekatan dengan isu menjadi poin penting. Orang A akan lebih luwes bicara tentang A daripada orang B, seperti halnya Si B bisa mendongeng dengan baik soal mitos yang hidup di wilayah B.

 

Jauh sebelumnya SM Ardan, penulis dan pegiat kebudayaan Betawi, berpikir sejenis. Ia mengemukakan sebuah kritik sederhana tentang semangat avontur berlebihan ini, “Kalau seseorang dilahirkan dan dibesarkan di kota besar misalnya, tidak usah ‘ke desa’ untuk menghasilkan karangan yang baik. Apakah yang lebih dimengerti daripada yang dialami sendiri?”

 

Ardan dan Navis mungkin mengucapkan itu puluhan tahun lalu namun masih relevan sampai hari ini. Ia serasa hadir dalam perbincangan di Senayan siang itu.

 

Sebelum pamitan kembali ke kantor, Dimas sempat menceritakan project yang sedang ia kerjakan. Ia sedang mengelola sebuah kampanye produk yang menangkap semangat generasi y (dan mungkin z) – ia menyebutnya generasi millineal – yang multitasking. Bekerja di siang hari dan tetap menjalani hobi di malam hari, seperti yang ia lakukan. Ia juga menceritakan sedikit rencana-rencana project pribadinya.

 

Dito pun ingin mengerjakan project sedikit iseng, yang pada intinya menguji kemampuannya sebagai penulis kuliner. Premisnya sederhana, bagaimana jika kita bisa kembali menikmati sebuah rasa untuk pertama kalinya?

 

Tak ada perjalanan panjang dalam kedua project mereka. Dimas mungkin mengerjakan projectnya di kubik kantornya. Dito mungkin mengerjakannya di halaman rumahnya.

 

Mungkin secara fisik mereka tak bertualang, namun (ini klise) secara pemikiran mereka berkelana. Juga, bukan tak mungkin jika kemudian orang-orang menganggap karya mereka aneh-aneh.

 

Dan ketika itu terjadi, kembali meminjam istilah Navis, orang-orang biasa akan memilih bervakansi ke tempat yang jauh daripada mencermati karya mereka. Merasakan sesekali ber-avontur ria. Untuk kemudian menuliskan kisahnya agar setidaknya ada satu momen dalam hidup tak menjadi orang-orang biasa. Dan orang-orang biasa lainnya akan membaca dan terobsesi padanya.

 

Melihat semua itu saya jadi berpikir, jangan-jangan Navis dan Ardan keliru, mungkin memang tak ada tempat lagi untuk mengulik keseharian. Atau mungkin secara tidak langsung kita memang selalu berupaya menjadi avontur? Sayangnya kita tak bisa lagi bertanya pada Navis, yang kini sudah melakukan avontur terbesarnya sebagai manusia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: