Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Viriya dalam pementasan Kebun Ceri garapan Teater Katak. Foto: Dok. Teater Katak.

Viriya dalam pementasan Kebun Ceri garapan Teater Katak. Foto: Dok. Teater Katak.

 

“Mau jeda dulu aja,” ujar Viriya singkat. Ia mengucapkan itu ketika rekan kami, Ardyan, bertanya mengenai kesibukannya. Saat itu kami bertiga bertemu di Goethe Institut pasca pemutaran kompilasi Film, Musik, Makan, pada Maret 2015 lalu.

 

Viriya memang baru saja mengundurkan diri sebagai wartawan di Geo Times. Dalam catatan di blog ia menceritakan dengan manis alasannya. Saya kutip sedikit bagian yang paling saya sukai dalam tulisan itu, “Selama beberapa bulan terakhir, saya merasa buntu. Saban hari, rasanya hanya repetisi…Konsekuensinya, saya kehilangan sebagian besar waktu untuk pemenuhan diri.”

 

Viriya menulis ia tidak lagi punya waktu untuk membaca dan menonton film, dua kegiatan penting untuk menambah wawasan. Karena itu ia kemudian memutuskan mengundurkan diri. Saat membaca catatan tersebut kontan pikiran saya melayang pada perjumpaan pertama dengan dirinya.

 

Kami tak sengaja bertemu di kantor Indonesia Mengajar, bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada awal 2013. Saat itu Viriya sedang wawancara untuk menjadi Pengajar Muda. Saya baru saja pulang mengajar. Karena sedang membantu mendokumentasikan seleksi tersebut, saya meminta izin masuk ke ruang wawancara Viriya.

 

Viriya berbeda dengan pelamar kebanyakan yang necis. Ia mengenakan kemeja flanel yang tak dikancing, tangannya berhias beberapa gelang.

 

Penampilannya boleh urakan, namun jawaban-jawabannya bernas dan sopan.

 

Ada beberapa potongan wawancara yang saya ingat. Viriya menceritakan pengalamannya menjadi wartawan kampus saat meliput pembantaian di Mesuji, Lampung. Ia merasa narasumber primer penting dalam liputannya, sehingga memberanikan diri mendatangi lokasi kejadian.

 

Di bagian lain wawancara ia juga dengan tegas menunjukkan kecintaan mendalam pada jurnalistik. “Kalau saya dapat beasiswa jurnalistik, saya milih itu Pak,” ujarnya jujur saat ditanya mengenai hal yang mungkin membuatnya menolak tawaran menjadi guru selama setahun.

 

Pasca wawancara tersebut saya menaruh hormat pada dirinya. Kecintaan pada penulisan ia pupuk dalam-dalam. Sayang, ia belum lulus kuliah saat itu, sehingga wawancara tersebut tak berakhir dengan cerita manis.

 

Untungnya wawancara tersebut bukan akhir dari pertemuan saya dan dirinya. Dua tahun kemudian kami bertemu kembali saat mengambil kursus menulis di Yayasan Pantau. Ia rajin masuk, pekerjaan rumah jarang ia tinggalkan, ya ia peserta yang rajin. Tak heran jika kemudian ia diganjar sebagai siswa terbaik di angkatan ke 14 kursus menulis Pantau.

 

Intensitas bertemu dalam kursus membuat hubungan saya, Viriya, dan teman-teman Pantau tak sekadar soal tulis menulis. Kami juga kerap berkumpul di luar acara penulisan. Misalnya beberapa waktu lalu saat Viriya mengundang datang ke pementasan teaternya yang bertajuk “Kebun Ceri”, sebuah naskah adaptasi karya Chekov.

 

Viriya memainkan peran sentral menjadi Yermolai Lopahin, seorang kelas menengah baru yang berhasil di era awal 1900-an. Lewat Lopahin, Chekov seperti hendak menyentil para aristokrat yang tetap bergaya parlente meski keadaan sosial ekonomi saat itu jauh dari ideal.

 

Sepanjang menyaksikan pementasan tersebut di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) saya memutar ingatan tentang Viriya. Tentang mahasiswa yang menerjang Mesuji, soal pengunduran dirinya, dan sikap santainya saat di Goethe. Di panggung ia sedang memainkan peran, di pikiran saya ia sedang memainkan ingatan.

 

Ingatan itu pula yang membuat saya melompat ke NH Dini. Ia pernah menulis hal sedikit mirip dengan Viriya.

 

“Kerja kreasi selalu sukar dijalankan sejajar dengan kerja yang menghasilkan kebendaan, dengan kata lain: uang.”

 

Dini menulis itu ketika ia hendak pindah dari Eropa ke Indonesia. Baginya proses kreatif macam menulis butuh waktu panjang. Dan waktu semacam itu sangat mahal di Indonesia.

 

Viriya dan Dini mungkin tak sendiri soal perkara ini. Terlalu banyak perdebatan kusir macam itu.

 

Dini akhirnya memilih menjadi penulis penuh waktu yang menerima pesanan (meminjam istilahnya) sejalan dengan pure art-nya. Viriya memilih menyingkir, memilih mengambil jeda.

 

Dan dalam jedanya saya menemui Viriya di panggung teater. Layaknya perannya di panggung, peran yang Viriya tampilkan dalam pertemuan-pertemuan dengan saya juga berbeda-beda.

 

Awalnya ia menjelma menjadi calon guru, kemudian wartawan, dan terakhir seorang aktor teater. Dalam peran yang banyak itu saya belajar memahami dirinya.

 

Viriya mengajari saya bahwa menulis bukanlah satu-satunya ekspresi. Ia satu dari sekian banyak ekspresi. Ia bukan sebuah tujuan, ia sebuah alat.

 

Tergantung kita ingin menggunakannya untuk apa. Dan saat alat itu tumpul, saatnya untuk beristirahat sejenak, mengasahnya.

 

Hari-hari ini saya yakin Viriya sedang mengasahnya. Dengan segala cara. Dengan segala medium. Ia mengasah kepekaannya. Satu hal yang ia rasa mulai hilang ketika ia larut dalam rutinitas. Saya yakin itu tak mudah.

 

Karena itu dalam jedanya saya ingin menghadiahi Viriya sepenggal tulisan Budi Darma. “Bagi saya, kekuatan imajinasi identik dengan kepekaan seorang pengarang. Makin tajam kepekaan seorang pengarang, makin berkelejatanlah imajinasinya. Dan makin tumpul kepekaannya, makin malas imajinasinya, kemudian mengantuk, kemudian tidur, dan bahkan mungkin mampus.”

 

Selamat mengasah kepekaan Vir. Mungkin sesekali kantuk akan menyerang. Pun wajar jika tidur tak bisa ditampik.

 

Tapi Vir, tolong jangan mampus.

 

Advertisements

2 thoughts on “Jeda Viriya

  1. tulisan bagus nan inspirasi mas Awe..

    Like

    1. ardiwilda says:

      terima kasih sudah membaca 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: