Sidekick

Urip mung mampir ngejus

seleksi-pimpinan-kpk

 

Saya mencoba mengingat kejadian tiga tahun lalu. Saat itu saya berjalan ke ruang guru setelah selesai mengajar. Baru beberapa langkah keluar kelas, kepala sekolah memanggil. Kulit keningnya berlipat, tatapan matanya takut. “Ada wartawan Pak,” katanya singkat.

 

Dua orang terlihat di ruang kepala sekolah. Satu orang berbadan sangat besar. Berat badannya mungkin lebih dari satu kuintal. Ia tampak semakin gemuk dengan tinggi badan yang minim. Satunya lagi berkulit gelap. Terlihat lebih legam dengan jaket kulit berwarna gelap yang ia kenakan. Saya menghampirinya.

 

Mereka mengaku sebagai wartawan. Untuk membuat lawan bicaranya yakin, beberapa lembar koran mereka siapkan.

 

Saya meminjam koran tersebut. Covernya bergaya layout “sirkus” ala koran kuning. Struktur kalimatnya banyak yang salah. Beberapa bahkan salah ketik.

 

Mereka tak memperkenalkan diri, pun tak menjalin interaksi basa-basi dengan saya. Dari situ saya tahu, yang mereka inginkan sangat jelas, uang.

 

Mungkin mereka datang karena pembangunan ruang baru di sekolah. Setiap ada pembangunan yang menggelontorkan nominal besar, pasti mereka yang menyebut dirinya wartawan akan datang. Tak hanya di sekolah, di desa juga terjadi hal serupa. Saya hanya bisa menduga penyebabnya, kemungkinan besar karena tidak ada transparansi dana sejak awal. Ruang abu-abu tersebut jadi “peluang” bagi banyak pihak, ‘wartawan bodrex’ salah satunya. Tentu kebanyakan sekolah hanya jadi korban.

 

Secara halus saya katakan sama sekali tak ada aturan wartawan boleh menerima uang dari pihak ketiga. Mereka mencoba mendebat. Argumennya lemah. Dengan mudah saya patahkan. Tapi hasilnya sama sekali tak saya duga.

 

Si pria berbadan besar mendorong saya. Ia geram, saya ikut panas, sedikit lagi kami berkelahi. Untungnya Pak Kardi, penjaga sekolah saya, sigap memisah. Pasti saya kalah jika berkelahi, mungkin wajah saya akan remuk redam, bisa jadi saya akan tersungkur sejak pukulan pertama. Tapi bukan menang kalah poin utamanya. Yang lebih penting adalah menyatakan kita tak tinggal diam.

 

Kejadian di sekolah itu mengajari saya praktik-praktik nirtransparansi memberi peluang tindak korup. Dari sana korupsi menjadi sesuatu yang dekat.

 

Ia bisa menghampiri kita kapan saja. Ia bukan sesuatu yang jauh, bukan yang tak tergapai. Ia ada di sekitar kita. Hadirnya ‘wartawan bodrex’ di sekolah jadi satu contoh.

 

Ia kemudian membuktikan dua wajah korupsi. Sebagai hulu atas beragam masalah. Pun hilir atas minimnya kejujuran.

 

Saya teringat kembali kejadian tiga tahun lalu tersebut ketika membaca nama-nama Calon Pimpinan (Capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ada 194 nama calon tertulis. Yang menarik adalah satu kalimat penutup di akhir pengumuman tersebut. Di situ tertulis, “Masyarakat diharapkan memberikan masukan terhadap nama-nama tersebut di atas…”

 

Panitia seleksi Capim KPK menuliskan link dan alamat surat menyurat yang bisa kita pakai untuk memberi masukan.

 

Ajakan itu memancing saya untuk membaca nama-nama dalam list, beberapa saya pernah membacanya di media, lebih banyak yang asing. Tujuannya sederhana, sekadar ingin mencari tahu calon yang bisa kita beri amanah.

 

Saya kemudian melihat dua nama dalam daftar tersebut. Keduanya memang belum pernah saya temui secara fisik, tapi melihat semangatnya saya menaruh hormat pada mereka.

 

Nama pertama adalah Johan Budi. Selama ini ia orang pertama yang akan kita saksikan saat KPK mengumumkan nama tersangka. Melalui layar kaca, saya kerap melihatnya mengenakan jaket kulit saat memberikan keterangan pers.

 

Setiap konferensi pers saya selalu penasaran dengan gayanya. Johan bukan seorang juru bicara yang penuh polesan. Ia pintar bernarasi tanpa perlu bergincu mengolah kata. Saya yakin ia punya latar belakang yang unik.

 

Rasa penasaran saya terjawab dalam sebuah obrolan sekitar satu tahun lalu. Mas Yus, seorang jurnalis yang saya anggap sebagai mentor, mengatakan bahwa Johan dulunya adalah seorang wartawan yang cekatan. Ia terbiasa melakukan peliputan investigasi. Setelah obrolan tersebut saya kembali mencermati narasi-narasi Johan Budi.

 

Ia banyak mengubah perspektif saya tentang komunikasi. Dulu saya percaya bahwa komunikasi adalah sebuah alat, tools untuk mencapai tujuan. Sebuah pesan bisa jadi corong dalam politik, menjelma jadi rayuan dalam pariwara. Johan melampaui konteks itu.

 

Pesan di tangan Johan adalah sebuah nilai, sebuah value yang kita percaya bersama. Ia tak sedang memperalat, ia sedang mengajak terlibat.

 

Johan sedang mentransfer sebuah nilai. Bahwa harapan negeri yang bersih selalu ada dan patut kita rawat.

 

Tapi Johan juga bukan seorang malaikat. Ia pernah terpeleset dalam menyampaikan narasi. Misalnya saat bicara soal peran keluarga dalam upaya memberantas korupsi (baca di sini) nadanya justru sedikit seksis.

 

Bukan menoleransi kesalahan jika kemudian saya masih percaya pada Johan. Ketika seorang keliru tentu tugas kita mengingatkannya. Di situ kritik ambil posisi. Dukungan buta juga tak akan menghasilkan apa-apa. Yang patut diingat adalah Johan tidak sedang berkompetisi dengan Tuhan, maka ia harus kita bandingkan dengan calon pimpinan lainnya. Pada titik itu, rasanya gedung di pojokan Kuningan masih membutuhkan dirinya.

 

Johan tak sendiri, ada satu lagi nama yang menarik perhatian. Monica Tanuhandaru, ia Executive Director Kemitraan. Saya tak akrab dengan nama Monica, namun beberapa kali beririsan dengan pegiat di Kemitraan.

 

Saya ingat ketika menemani Pak Agung Djojosoekarto, salah satu pegiat Kemitraan, mengajar di sebuah SD daerah Pejaten, Jakarta Selatan. Saat itu bersama beberapa profesional lainnya ia mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi. Pak Agung memang tak seatraktif pengajar lainnya, namun konten pembelajarannya menarik.

 

Pada para siswa SD Pak Agung bercerita tentang pemerintahan yang efektif dan gerakan anti korupsi, tentu dengan bahasa yang sederhana. Ia mengatakan bahwa sejak kecil kita bisa menjadi agen anti korupsi. Misalnya dengan berlaku jujur saat ulangan atau ujian.

 

Premis Pak Agung saat mengajar sebenarnya sederhana, bahwa tiap orang punya tanggung jawab untuk ambil bagian dalam memberantas korupsi.

 

Saya kembali mengingat premis itu ketika menonton Monica dalam acara Mata Najwa. Ia mengatakan,

 

“Saya ingin mendorong bahwa yang anti korupsi itu bukan hanya KPK, pemberantasan dan pencegahan korupsi bukan hanya (kerja) KPK…pemberantasan korupsi itu tugas kita semua di sini, setiap individu bisa mencegah korupsi terjadi.”

 

Monica mengingatkan kita bahwa kerja pemberantasan korupsi adalah sebuah kerja bersama, kerja kolosal. Mungkin semangat itu indah dalam kata-kata, tapi percayalah sulit untuk kita wujudkan. Butuh sosok yang terbiasa dengan kerja kolektif semacam itu. Dan premis itu menjadi bermakna ketika orang yang terbiasa mengelola gerakan sipil dan beririsan dengan tata kelola pemerintahan yang mengucapkannya. Premis itu bergaung ketika keluar dari mulut Monica.

 

Kepercayaan tentu mahal harganya, ia hanya patut kita berikan pada orang yang memang bisa menerima amanah.

 

Pada Johan dan Monica saya percaya ada sebuah harapan yang patut kita semai bersama.

 

Tentu Johan dan Monica bukan tanpa celah. Maka ia butuh sebuah dukungan dan kepercayaan. Kanal memberi masukan yang KPK sediakan bisa jadi pilihan. Menjadi kanal untuk mendorong mereka yang kita anggap kompeten jadi pimpinan lembaga anti rasuah itu.

 

Saya ingin mengajak melakukan hal sederhana, mengirimkan surat ke KPK dan calon yang kita percaya (KPK menuliskan alamat rumah masing-masing calon). Nyatakan pada mereka bahwa kita menitipkan sebuah kepercayaan, sebuah amanah dari warga biasa.

 

Surat itu tentu tak akan bisa seketika menghapus korupsi. Tapi biarkan KPK dan calon pimpinan yang kita percaya membacanya.

 

Agar mereka yakin bahwa tak ada kata sendirian dalam perjalanannya.

 

Advertisements

One thought on “Untuk Johan dan Monica

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: