Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Bapak belajar Bahasa Inggris dulu, biar kalau ngomong bisa cas cis cus,” celoteh Pak Riza, guru SMA saya, di depan kelas. Ucapan itu sering saya dengar sekitar sepuluh tahun lalu. Ia biasanya akan meminta tolong murid yang lancar berbahasa Inggris setelah mengucapkan kalimat itu. Murid yang sering ia datangi seingat saya bernama Sonia.

 

Saya tak tahu apa tujuan Pak Riza belajar Bahasa Inggris. Mungkin untuk ujian pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau kenaikan pangkat. Ia biasanya belajar kapan dan di mana saja. Saat istirahat, ketika menggantikan guru yang tak hadir di kelas, dan dalam beberapa kesempatan lainnya. Misalnya ketika mengganti guru yang tidak masuk, ia akan belajar Bahasa Inggris sambil menemani murid-murid mengerjakan tugas.

 

Sepuluh tahun setelah kejadian-kejadian itu saya tak tahu apakah ia bisa berbahasa Inggris dengan baik. Peningkatan kemampuannya tak penting bagi saya, sebab ada yang lebih penting.

 

Setiap Pak Riza belajar, saya kerap mengamatinya. Saya berpikir, “Guru saya aja masih belajar, kenapa saya masih murid kadang males-malesan.” Tentu saya yakin banyak guru yang juga belajar.

 

Bedanya, Pak Riza melakukannya dengan rendah hati. Ia mau mengakui kekurangannya.

 

Ia paham sebagai guru ia tak sempurna. Di situ poin pentingnya bagi saya.

 

Pak Riza dengan rendah hati seperti menjawab kritik legendaris dari Gie. Kritik bahwa guru bukan dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau. Pengampu mata pelajaran Tata Negara itu memilih menunduk. Memilih untuk mengambil poisisi sejajar. Ada kalanya murid memang lebih pintar darinya.

 

Secara tidak langsung ia menyampaikan pesan bahwa status guru dan murid tak melekat pada pribadi, tapi pada sikap.

 

Ketika ia menundukkan kepala dan belajar dari muridnya maka ia sedang menjadi murid.

 

Pak Guru yang senang melawak ini juga membuat saya menganggapnya benar-benar seorang guru. Banyak guru yang tak pernah saya anggap sebagai guru, tapi tukang ngajar.

 

Guru punya konteks yang lebih besar dari mengajar.

 

Saya ingat sebuah kejadian ketika saya mulai membaca karya Pramoedya di sekolah. Saat itu kakak sepupu saya yang meminjamkan. “Baca ini aja biar pinter,” kata kakak sepupu saya sambil memberi sedikit konteks tentang buku-buku Pram. Maka saya sering membawa buku-buku itu ke sekolah. Ketika bosan dengan pelajaran biasanya saya mencuri waktu membaca buku-buku tersebut.

 

Suatu ketika saya mengobrol dengan teman saya, Alfi atau biasa disapa Apink. Saya berbagi cerita tentang isi buku Pram. “Mungkin karena dia jadi tahanan politik (tapol) kali ya jadi bagus,” kata saya. Lantas saya sedikit berkelakar mengatakan kalau mau jadi penulis mungkin syarat biar bagus harus masuk penjara dulu.

 

Pak Riza kemudian ikut nimbrung dalam perbincangan tersebut. Saya lupa detail yang ia katakan, yang saya ingat hanya poin pembicaraannya. Ia menjelaskan tentang tujuan dan konsekuensi. Ia paham saya senang menulis maka itulah tujuannya, efek dari itu adalah konsekuensi. Misalnya dipenjara, jadi terkenal, mendapat uang, atau semacamnya.

 

Ia mengatakan untuk fokus pada tujuannya bukan pada konsekuensi yang timbul.

 

Menariknya ia tak seperti sedang berdakwah ketika mengatakan itu, ia berlaku sebagai teman.

 

Sepuluh tahun selepas dialog itu saya memang tak pernah lagi menemui Pak Riza. Seingat saya komunikasi terakhir adalah ketika saya baru menyandang status mahasiswa. Saat itu ia mengirim pesan pendek. Isinya kurang lebih meminta saya terus belajar dan mengasah bakat. Pesannya memang normatif, tapi ada kepercayaan yang coba ia bangun.

 

Beberapa hari lalu Pak Riza memberikan pengumuman melalui status facebooknya.

 

Ia akan pindah mengajar di sekolah lain mulai tahun ajaran baru.

 

Melalui pengumuman itu ia juga berterima kasih dan meminta maaf pada murid, alumni, dan rekan-rekannya.

 

Saya mengingat kembali Pak Riza setelah membaca pengumuman tersebut. Bertanya-tanya apakah ia masih sering melawak di kelas, apakah kemampuan Bahasa Inggrisnya meningkat, dan banyak pertanyaan lainnya.

 

Satu yang membuat saya tak bertanya adalah saya tahu Pak Riza bukan guru yang sempurna. Kesadarannya sebagai guru yang tak sempurna justru memberi perspektif menarik pada muridnya.

 

Bahwa guru dan murid sesungguhnya saling belajar, berdiri sejajar.

 

Selamat mengajar di tempat baru Pak. Terima kasih telah menjadi guru yang tak sempurna, yang tak menjelma menjadi dewa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: