Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Nek siji kui mbok rusak, yo ibu ra entuk untung le (Kalau satu barang kamu rusak, ya ibu enggak dapat untung sama sekali),” kata ibu saat saya kecil dulu. Ketika itu saya sedang marah pada ibu karena sebuah hal. Saya lupa kenapa saya marah, tapi saya ingat cara saya mengekspresikan kemarahan.

 

Saat itu saya merusak barang dagangan ibu, sebuah tempat uang. Tempat uang adalah sebutan untuk hasil kerajinan yang biasa dipakai sebagai wadah sumbangan (amplop) dalam pernikahan. Biasanya wadah ini ditaruh di dekat buku tamu saat upacara pernikahan. Ibu saya memproduksi tempat uang itu.

 

Salah satu tempat uang itu saya rusak. Saya mengira ibu bohong dengan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak akan mendapat untung. Pikir saya satu barang saja tidak akan memengaruhi keuntungan ibu. Nyatanya saya salah.

 

Esoknya saya melihat barang itu tergeletak di rumah, tak laku terjual.

 

Saya mencuri lihat ibu menangis karena hal itu, ia memilih menangis daripada memarahi saya.

 

Seminggu kemudian saya tahu kenapa ibu sedih. Ada hal lain yang membuat ia menangis selain kegagalan meraup untung.

 

Saat itu saya membantu ibu memasok barang dagangan ke toko langganannya di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Sampai di toko, pemiliknya memarahi ibu karena masih kesal ada barang yang rusak. Pemilik toko itu juga memberi uang ibu tanpa rasa hormat sama sekali. Ibu tak bisa berbuat apa-apa, ia menerima uang sambil menunduk.

 

Selama puluhan tahun ibu tak punya toko sendiri, ia hanya memasok barang ke toko orang lain.

 

Ia kadang bercerita harga jualnya begitu mepet. Ia pernah hanya mengambil untung seribu untuk satu jenis barang dagangan. Tentu ibu melakukannya karena terpaksa. Jika ia menaikkan harga, si pemilik toko akan mengambil barang dari pemasok lain yang lebih murah.

 

Keluhan-keluhan itu membuat ibu punya cita-cita sederhana, bisa mengontrak toko sendiri.

 

Sayangnya biaya sewa tak bisa kita bayar dengan cita-cita. Harga sewa toko sangat mahal. Sementara ia masih harus membiayai saya dan kakak sekolah.

 

Suatu kali ibu pernah mencoba menaikkan harga ke toko langganannya, apa daya pemilik toko malah tak lagi mengambil barang dari ibu. Akibatnya ibu harus memutar otak untuk bisa membuat dapur mengepul. Dan ibu selalu punya ide sederhana nan solutif.

 

Ia mengajak saya dan bapak berjualan kaki lima di daerah Kawasan Industri Cakung, Jakarta Timur.

 

Saat itu ibu berjualan toples hias yakni toples yang sudah dibungkus dengan kain dan diberi pernak-pernik tertentu. Biasanya toples jenis ini dipakai untuk kue-kue kering saat lebaran. Hasilnya memang tak seberapa tapi cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Itu masa yang sangat sulit bagi kami sekeluarga.

 

Di sekolah saya ingat sering diolok-olok hanya karena nama ibu yang dianggap kampungan, Mariyatun. Ya pasti semua orang pernah mengalami olok-olokan nama orangtua, tapi di masa sulit seperti itu saya hanya bisa menahan kemarahan setiap menerima olokan. Saya bisa saja melawan tapi saya tak mau. Saya tahu membuat masalah di sekolah hanya akan membuat repot ibu. Dan saya sadar satu-satunya cara keluar dari masalah adalah jadi anak yang pintar, lewat pendidikan.

 

Tahun-tahun berlalu dan ibu tetap tak bisa menyewa toko. Nasibnya tetap ditentukan oleh orang lain.

 

Saya secara langsung belajar ketidakadilan akses ekonomi dari sana. Belajar melihat sesuatu tidak secara dua dimensi. Melihat kaki lima saya paham ada koridor kebutuhan ekonomi di sana. Semua berhak hidup, semua berhak dimanusiakan. Saya tak belajar itu dari bangku sekolah, ibu yang mengajari langsung hal itu.

 

Mungkin itu pula kenapa bapak ingin sekali saya masuk fakultas ekonomi, ia ingin anaknya bisa berjuang untuk orang-orang seperti dirinya.

 

Keberuntungan terjadi beberapa tahun lalu ketika Bude membantu ibu. Bude memiliki toko di Jogja, karena banyak langganannya di Jakarta ia berpikir membuka cabang di ibukota.

 

Maka Bude menyewa toko dan meminta ibu menjaganya.

 

Ibu mengiakan rencana bude sambil menaruh beberapa dagangannya di toko tersebut.

 

Bude pula yang selama lima tahun merawat saya di Jogja. Ia kadang memberi saya uang ketika saya membutuhkan. Bude orang yang sangat berjasa dalam perjalanan hidup saya dan keluarga. Beribu terima kasih saya ucapkan pada dirinya.

 

Beberapa bulan lalu Bude memberi kabar ia tak lagi meneruskan sewa tokonya di Jakarta.

 

Ibu kemudian mengajak saya mendiskusikan masalah ini. Ia ingin meneruskan sewa toko dengan biaya sendiri, namun ragu-ragu apakah bisa. Saya tak punya pengalaman bisnis sama sekali, maka jawaban saya sangat normatif yakni kalau ia yakin pasti bisa. Saya katakan padanya, akan membantu sebisa saya.

 

Ibu akhirnya memilih meneruskan sewa toko. Saat libur lebaran lalu ia dengan semangat bercerita akan belanja barang-barang untuk mengisi toko ke Jogja dan Solo sambil mudik. “Mobil e isoh kebak mengko iki le (Mobilnya bisa penuh nanti nak),” ujarnya bersemangat.

 

Saya tahu ibu tak pernah bohong saat bersemangat, maka saya memilih untuk berbohong. Saya berbohong dengan mengatakan harus mengerjakan banyak pekerjaan saat lebaran, padahal saya tak mengerjakan apa-apa. Tujuannya agar jatah tempat saya di mobil ketika mudik bisa untuk menaruh barang. Tentu ibu sedih saya tak mudik, tapi saya lebih sedih jika karena saya tak banyak barang mengisi toko ibu.

 

Masalah barang untuk mengisi toko selesai, masalah selanjutnya adalah membayar biaya sewa tahunan. Beberapa hari lalu akhirnya ia memutuskan mencoba menjual mobil untuk menutup biaya sewa. “Yo mugo-mugo ndang payu le (Semoga cepat laku nak),” doanya.

 

Rencana-rencana ibu membuat saya memikirkan dirinya belakangan ini.

 

Bila sebelumnya saya lebih banyak menginap di kontrakan, bebeberapa bulan ini saya selalu sempatkan untuk pulang. Sekadar mengobrol dengan dirinya.

 

Banyak hal yang belum saya perbuat untuknya. Secara karier tentu saya belum jadi apa-apa, juga belum bisa memenuhi keinginannya agar saya bisa melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

 

Pagi tadi saya tak sengaja bangun sendiri. Biasanya ia membangunkan saya sekitar pukul lima.

 

Pasti ini klise, terlalu klise bahkan.

 

Saya melihat ibu selesai berdoa tadi subuh. Lama ia berdoa.

 

Saya menunggunya selama beberapa menit. Wajahnya penuh harap.

 

Saya tak mendengar harapannya, tapi saya tahu, dan hanya bisa mengamini doanya dalam hati. Melihat ibu pagi tadi seperti melihatnya beberapa tahun lalu. Ketika ia bersedih karena ada barang dagangannya yang saya rusak. Ketika ia memilih tak marah namun menyimpan kesedihannya sendiri.

 

Bedanya, ibu kini bisa menyewa tokonya sendiri, sebuah impian yang lama ia inginkan.

 

Advertisements

8 thoughts on “Toko Ibu

  1. Ini kenapa bikin nangis sih hiks

    Like

    1. ardiwilda says:

      lha kok malah nangis 😀

      Like

  2. abcd says:

    Alhamdulillah. Semoga diberikan kelancaran untuk langkah selanjutnya.

    Like

    1. ardiwilda says:

      amin, terima kasih 🙂

      Like

  3. Poiuytrewq says:

    Semoga usahanya ‘ibu’ dimudahkan bung, ketulusan doanya selalu mujarab 🙂

    Like

    1. ardiwilda says:

      amin mas atau mbak nih hehe. semoga lancar jaya selalu 🙂

      Like

  4. ajeng says:

    Aaaaakk, terharu bingits bacanya

    Jadi ikutan pengen cepet balik ke Rumah 😀

    Like

    1. ardiwilda says:

      balik jogja lah jeng kalo pengen balik 😛

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: