Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Jaraknya cuma 500 meter dari Stasiun Cilebut, Alhamdulillah banget Sob.”

 

Noel datang telat dari waktu yang kami sepakati. Kami berjanji bertemu di kedai martabak bilangan Cikini. Ia datang dengan gelak tawa, macam baru menang lotre. Baju kotak-kotak merahnya senada dengan wajah merah hasil kemacetan Jakarta. Wajahnya memang letih, namun tak bisa menutupi kegembiraan yang ia bawa malam itu.

 

Sambil menyantap martabak, ia bercerita panjang lebar soal rencana masa depan. “Sob, aku baru ngambil rumah di Cilebut, jaraknya cuma 500 meter dari Stasiun Cilebut. Alhamdulillah banget Sob. Tiga bulan lagi bisa ditempatin,” ujarnya penuh semangat.

 

Detail selanjutnya meluncur deras dari mulutnya. Soal uang muka, angsuran bulanan, alasannya memilih lokasi, dan semua hal yang membuat kening berkerut.

 

Di balik hitung-hitungan angka itu ia punya alasan utama, “Aku mau nikah Sob.”

 

Wajah Noel malam itu mengingatkan saya pada dirinya empat tahun lalu. Bersama seorang teman, ia menumpang tinggal di rumah saya. Sehabis magrib ia kerap bercerita sulitnya mencari kerja. Suatu malam ia pernah frustasi. Kepada saya ia bertanya dengan raut kekecewaan pada Jakarta, “Apa aku pulang kampung aja ya ke Kendari?”.

 

Nyatanya ia tak pernah kembali ke Kendari.

 

Ia diterima di sebuah lembaga non-pemerintah yang bergerak di bidang kesehatan. Tugas awalnya berat, berkeliling ke Puskesmas di pedalaman. “Hitung-hitung petualangan,” ujarnya menghibur diri.

 

Kini, ketika ia akhirnya memiliki tempat berlindung bernama rumah, saya tahu betapa bahagianya dia. “Ngutang tapi Sob,” kelakarnya ketika saya ucapkan selamat.

 

Soal bertaruh dengan harapan, Noel tak sendiri.

 

Pak Warno datang ke rumah menemui bapak saya, tujuannya sederhana, meminjam motor. “Buat narik Pak,” jelasnya singkat. Motor Pak Warno rusak, maka ia perlu kendaraan yang bisa ia pakai untuk menarik ojek.

 

Sudah beberapa bulan terakhir ia menjadi tukang ojek daring. Kantor lamanya gulung tikar diterpa krisis ekonomi beberapa tahun ke belakang. Menjadi pengemudi ojek daring ia pilih untuk membuat dapur tetap ngebul.

 

Di persimpangan jalan sekitar rumah, saat saya hendak berangkat ke kantor, kami kerap berpapasan. Dari jauh wajahnya tampak lelah. Setelah dekat ia akan menyapa saya ramah, sangat ramah.

 

Dalam beberapa kesempatan, kepada saya ia sering bertanya soal kuliah. Tujuannya sederhana, ia ingin ketiga anaknya bisa kuliah. Ia tahu hanya pendidikan yang akan memperbaiki ekonomi keluarganya. Saya menjawab sebisa saya.

 

Setiap berpapasan kini saya tak acuh lagi soal kelelahannya, saya berpikir apakah ketiga anaknya bisa kuliah seperti harapannya.

 

Pak Warno bertaruh dengan harapan di jalanan.

 

Noel dan Pak Warno mengingatkan saya pada sebuah tulisan Sapardi. Dalam pengantar buku Melihat Api Bekerja karangan Aan Mansyur, Sapardi membuka tulisan dengan sangat bernas.

 

Ia bertanya, “Apa gerangan yang dibayangkan penyair ketika ia menulis sajak?”

 

Pertanyaan itu Sapardi ajukan untuk “membaca” puisi Aan. Saya bukan pembaca puisi yang baik, terus terang saya kurang mengerti beberapa bagian tulisan Sapardi. Tapi pertanyaan awal itu begitu menarik bagi saya.

 

Bagi saya pertanyaan itu bukan saja hadir untuk diajukan pada Aan. Pertanyaan itu sering muncul di pikiran saya ketika melihat wajah-wajah lelah pekerja ibukota di sore hari.

 

“Apa gerangan yang dibayangkan orang-orang Jakarta ketika lelah bekerja?”

 

Mungkin akan ada ribuan cerita Noel dan Pak Warno di sana. Pun saya bagian di dalamnya.

 

Ribuan cerita yang bukan beranjak dari premis from zero to hero. Bukan cerita orang biasa yang tiba-tiba menjadi luar biasa khas talkshow motivasi. Pergulatan biasa dengan tujuan yang juga biasa. Bukan berharap epos kemenangan, hanya berharap terhindar dari kekalahan.

 

Tentang rumah, soal pendidikan, dan beragam kebutuhan dasar lainnya.

 

Bagi saya wajah-wajah pekerja di sore hari sangat puitis. Tak ada interaksi di antara mereka, dingin, kikuk.

 

Mereka seperti, mengutip salah satu bagian puisi Aan, “Tidak mau tahu jika kau masih punya alasan lain.”

 

Di sana tak ada nama Noel, di sana tak ada Warno, yang ada hanya kerumunan. Dalam rumah yang berjarak 500 meter dari Stasiun Cilebut, kita baru tahu ada individu bernama Noel.

 

Advertisements

10 thoughts on “Sapardi di Cilebut

  1. kresnoadi DH says:

    Saya emang selalu salut sama cara berpikir para penyair termasuk kedua orang ini. 🙂

    Like

    1. ardiwilda says:

      hehe saya malah ndak terlalu ngikutin puisi2an, salam kenal btw 🙂

      Like

  2. Yenni says:

    Mas Awe, I do enjoy your writing. 🙂

    Like

    1. ardiwilda says:

      terima kasih ya 🙂

      Like

  3. Belum punya bukunya 😀

    Like

  4. marsharamadhan says:

    saya selalu suka tulisan mas awe, btw rumah kita kayanya deketan deh mas

    Like

  5. pertanianbogorpress says:

    Bangga saya cilebut ada di cerita mas awe. 🙂

    Like

  6. saya jadi pengen beli rumah juga Maz…
    bisa pinjem duit dulu buat DP Mz Awe???

    Like

  7. DAC says:

    Saya termasuk fans AWE GARIS KERAS!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: