Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Bagaimana jika tempat yang sangat kita kenal menjadi terasa begitu berjarak?

 

Omah kulo tebe, Mas. Cerak Parangtritis, 22 kilo lah (Rumah saya jauh mas sekitar 22 km, letaknya dekat Pantai Parangtritis),” ujar pengayuh becak motor. Pria paruh baya itu bercerita lancar ketika mengantar saya ke rumah pakde saya di Jogokariyan. Ia bercerita pilihannya mengganti becak ontel (tanpa mesin) menjadi becak motor karena tenaganya tak sekuat dulu. Ia menyatakan belum ada aturan jelas soal becak motor, tetapi ia tak punya pilihan.

 

Ceritanya mengantar saya melalui Jalan Jogokariyan. Kami masuk ke Jalan Jogokariyan melalui Jalan Parangtritis. Gapura besar bertuliskan “Kampung Ramadhan Jogokariyan” menyambut kami.

 

Seratus meter dari gapura tersebut, di kiri jalan berdiri sebuah hotel dengan pilar-pilar yang sangat tinggi. Seperti tak mau kalah, di kanan jalan terdapat hotel dengan mengusung gaya tradisional Jawa. Joglo di depan bangunan hotel berpadu padan dengan spanduk tahun baru bertema Hawai di hotel tersebut. Dulunya lahan hotel itu adalah tanah kosong. Di depannya kerap mangkal tukang bakso, angkringan, dan tambal ban.

 

Saya terkejut melihat dua hotel besar tersebut. Tukang becak hanya merespon singkat, “Enggih ngoten niku, Mas (Ya memang seperti itu, Mas).”

 

Hanya butuh waktu lima tahun untuk mengubah apa yang dulu sangat saya kenal menjadi terasa asing.

 

Sehari sebelum obrolan dengan tukang becak tersebut, saya mengunjungi Asri dan Dika, rekan saya di daerah Minggir, Sleman. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar satu setengah jam dari Stasiun Tugu. Di kawasan kaki gunung itu, mereka membangun Agradaya, sebuah inisiatif usaha berbasis pertanian.

 

Halaman Agradaya kira-kira seluas lapangan voli. Mereka membuat kebun kecil di halaman tersebut. Temulawak, beras kencur, terong, dan beberapa jenis sayuran tumbuh di kebun itu. Di pojokan kebun terdapat rumah kaca sederhana, tempat pembuatan bibit, dan kompos. Beberapa ayam kampung membuat kebun tersebut tak pernah sepi.

 

Ditemani satu botol kombucha, mereka bercerita lancar soal usahanya. Mengenai relasinya dengan petani dan tengkulak. Percobaan temulawak di laboratorium yang belum pas untuk pesanan pelanggan. Banyak yang tak saya pahami. Namun, satu yang saya pahami, di sana saya merasakan Jogja yang saya kenal.

 

Tentang sebuah proses belajar terus menerus, bukan letupan ambisi.

 

Mungkin saya terburu-buru menyimpulkan. Tentang yang dekat dan asing. Ukurannya bisa jadi tak hitam putih. Seperti pilihan pengendara becak mengganti moda ontel menjadi becak motor. Kompleks.

 

Pun kunjungan selama kurang dari satu minggu jelas tak cukup untuk memberi penilaian. Penilaian yang muncul hanya kilasan, “dulu begini…sekarang kok begitu…” Yang tentu menghilangkan banyak konteks.

 

Bisa jadi saya terjebak pada pandangan turistik seperti ibu-ibu DPR dalam sketsa yang diceritakan Romo Mangun. Dalam sebuah wawancara, arsitek Eko Prawoto pernah mengisahkan ulang apa yang Romo Mangun alami ketika bertemu ibu-ibu wakil rakyat tersebut.

 

Romo Mangun bercerita ada kunjungan ibu-ibu DPR ketika terjadi banjir di pinggir kali. Saat ibu-ibu itu datang, mereka berkata, “Waduh kasihan ya banjir begini.” Romo Mangun kemudian tertawa. Ia bercerita bahwa itu hanya persepsi kelas menengah atas. Romo kemudian melanjutkan dengan mengatakan, kalau saya tanya mereka (warga) jawabnya hanya, “Mboten menopo-menopo, namung teles (Tidak apa-apa, ini cuma basah sedikit kok).”

 

Jarak menghadirkan perbedaan sudut pandang di kondisi itu, Romo memahami denyut nadi keseharian tersebut, saya belum tentu.

 

Pada libur tahun baru lalu saya memang menyempatkan untuk pergi ke Jogja. Selama ini saya hanya mengunjungi Jogja bila ada urusan pekerjaan. Singkat dan kering. Saya tak punya pilihan mengenai tempat mana yang seharusnya saya kunjungi.

 

Sialnya, vakansi biasanya bertendensi untuk mencari yang baru. Vakansi ke Jogja tak akan pernah punya semangat macam itu.

 

Saya menghabiskan lima tahun lebih belajar di Jogja. Mengisi masa remaja akhir dan dewasa awal di sana. Euforia turistik tak akan membuncah dalam pengalaman seperti itu.

 

Sayangnya, di sisi lain saya tetaplah turis, yang tak paham lagi derap keseharian kota ini. Yang hanya mendengar dari jauh. Yang menatap kota ini dari kacamata orang asing. Seperti anak jadah. Berada di posisi antara.

 

Dalam posisi antara tersebut saya merasakan banyak perubahan.

 

Dan perubahan adalah soal harapan. Kita tak dikecewakan dengan perubahan, kita dikecewakan dengan harapan pada perubahan yang lebih baik.

 

Harapan kebanyakan tentang Jogja digambarkan dengan lucu oleh Avianti Armand. “Sekarang kita sering bertemu dengan pensiunan, yang setelah pensiun berusaha membeli hal-hal yang direnggut dari dia pada saat masih muda. Dia membeli Joglo, kemudian dia memilih tinggal di Jogja, lalu dia membeli semua hal yang punya kaitan dengan masa lalu.”

 

Mungkin di vakansi kemarin saya sedang berusaha membeli sebagian masa lalu saya, membeli “Joglo” versi saya. “Joglo” yang berubah di sebagian tempat. Penuh tambalan kebaruan yang sayangnya justru menjauhkan.

 

“Joglo” yang membuat saya sadar, kini saya hanya mengenal sebagian Jogja.

 

Advertisements

13 thoughts on “Sebagian Jogja

  1. Rivanlee says:

    mirip apa yang terjadi di Jatinangor, mas.
    saya menyayangkan perubahan yang terjadi. daerah yang modern terpatok pada “yang seperti itu” seolah udah ada patokan sendiri.
    mau gak mau ktia cuma bisa menggumam :”

    Like

    1. ardiwilda says:

      betul, sayang euy 😦

      Like

  2. kowe pancen pancen, we 😥

    Like

    1. ardiwilda says:

      blog anyar je mbak e hehe

      Like

      1. Woiya ik hehehe

        Like

  3. rizalprakosa says:

    saya orang Minggir mas, tapi merantau. Kadang sama sawah2nya 😄

    Like

    1. ardiwilda says:

      salam kenal mas, saya senang sekali suasana minggir. adem, selo, dan orangnya pun ramah2, menyenangkan 🙂

      Liked by 1 person

  4. Famega says:

    Aku mau bilang idem. Dulu pas baru-baru pindah ke Jakarta, ke Jogja masih terasa pulang. Makin lama makin asing, sekarang udah jadi turis aja.

    Like

    1. ardiwilda says:

      iya mbak, masih belum legowo euy nerima perasaan turis ini 😦

      Like

  5. kita yang di Jogja aja ngerasa banget perubahannya mas. apalagi yang kalau ke sini cuma beberapa waktu sekali.

    Like

    1. ardiwilda says:

      kayak ada sesuatu yg hilang tapi gak tau apa yang hilang hehe

      Like

  6. marsharamadhan says:

    saya pernah kembali ke tempat yg saya kenal, dan rasanya asing Mas Awe. tapi saya sadar, semua harus berubah, hanya memorinya yg boleh diam.

    Like

    1. ardiwilda says:

      saya suka kalimat ini: seua harus berubah, hanya memorinya yg boleh diam. salam kenal ya mas, kalo basketan di mana btw mas? hehe saya kadang basketan 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: