Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Cikini seperti etalase. Kita bisa melihat apa yang dipajang tapi tak pernah tahu siapa yang memajang.

 

Gang itu berukuran dua sepeda motor ditaruh berdampingan. Kiri kanannya dipenuhi pot tanaman. Di tengah gang terdapat gerobak barang bekas berisi botol air mineral plastik. Stiker calon gubernur bekas pilkada masih tertempel di pintu-pintu rumah.

 

Sekitar selusin bocah berlarian di gang itu. Pakaiannya tipikal anak pengajian Taman Pendidikan Alquran (TPA). Baju koko, peci putih, dan sarung yang dimainkan untuk jadi semacam cambuk. Salah satu anak itu bertanya pada saya, “Mau salat, Bang?”

 

Ia kemudian menggiring saya ke sebuah masjid di pojokan gang. Masjid dua lantai yang dipenuhi jamaah hendak tarawih. Saya menumpang magrib dan isya di sana. Selepas itu saya pulang, menapaki lagi gang tersebut menuju jalan yang sering sekali saya lewati, Cikini.

 

Trotoar Cikini malam ini sedikit berbeda. Sebuah lapak nasi uduk baru berdiri.

 

Pedagangnya sepasang suami istri duduk termenung menunggu pembeli. Sekitar sepuluh langkah dari situ seorang pramusaji restoran menawarkan saya untuk berkunjung. Ia memakai seragam restoran dengan topi berbentuk segitiga berwarna kuning yang sedikit kebesaran.

 

Saya beranjak pulang dengan memesan ojek daring di seberang Menteng Huis. Lima menit kemudian pengemudinya datang. Perawakannya menyeramkan. Celana jeans bolong, mata merah, dan bau pekat jalanan.

 

Tanpa babibu, ia langsung bicara, “Bang, hape saya malah mati nih, nanti berhenti di Jatinegara dulu ya, saya mau beli kabel.”

 

Ia kemudian menunjukkan layar telepon pintarnya. Hitam pekat, mati total. Layarnya retak tak karuan. Keadaan telepon selulernya sama dengan tampilan fisiknya, kacau. Saya mengambil tangkapan layar pemesanan ojek dan mengirimnya ke pasangan saya untuk berjaga-jaga.

 

Sampai di Jatinegara ia berhenti di beberapa kaki lima. Ia mencari kabel data untuk pengisi baterai portabelnya. Setelah melewati empat buah lapak kaki lima ia mengeluh ke saya. “Mahal semua bang, biasanya ceban, masak ini tiga puluh ribu.”

 

Keluhannya membuka percakapan kami. Saya kemudian tahu ia tinggal di Kali Pasir Cikini, tepatnya di belakang kantor pos besar Cikini. Di balik kekacauannya, ia pendongeng yang lihai. Bualannya menyenangkan.

 

“Iwan Fals kalau konser di tempat saya gratis bang, nostalgia dia di sana.”

 

Tak cukup sampai di sana ia kemudian berdongeng soal pengalamannya mengantar seorang dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ). “Saya biasa diundang film-filman gitu bang. Friend kalau sama anak film,” ujarnya.

 

Saya mulai menyukai dongengnya. Ia seperti paklik saya di Salatiga. Paklik saya pernah memberi “tips” mendongeng. “Kabeh cerito kui seng penting bumbune (Semua cerita itu yang penting bumbunya).”

 

Prestasi terbaik paklik adalah membuat cerita fiktif satu bajaj dinaiki 15 orang untuk mudik Lebaran. Ajaibnya beberapa hari kemudian cerita itu diceritakan orang lain ke dirinya.

 

Bualan pengemudi ojek daring ini perlahan berubah menjadi cerita nostalgia. Temanya sederhana, ia senang tinggal di Cikini. Meski rumahnya di kawasan kampung namun dekat dengan pusat kota. Ia melanjutkan dengan berkelakar soal mitos-mitos di Kampung Cikini.

 

Sambil mendengarkan dongengnya saya membayangkan sebuah narasi. Cerita-ceritanya bisa jatuh pada kisah soal kampung vis a vis dengan kemajuan kota. Kemudian berderet bisa disebut Kemang, Kebayoran Baru, dan silakan sebut daerah-daerah gentrifikasi lainnya. Ceritanya bisa jadi potret juxtapose paling template soal Jakarta.

 

Cikini malam ini tak membuat saya berpikir ke sana. Saya hanya merasa Cikini punya banyak dimensi.

 

Hikmat Subarkah dalam buku Haikk! pernah menulis mengenai gang-gang sempit. Menurutnya gang seringkali dianggap sebagai ruang sisa atau junk space. Jika kita dihadapkan pada kata gang, maka kata lain yang mengikutinya adalah kata yang negatif seperti jorok, tidak aman, gelap, bau, sempit, dan kadang saking sempitnya hanya muat untuk satu orang saja.

 

Pun, saya terjebak dalam stereotip itu. Pembuka tulisan ini adalah deskripsi negatif tentang gang di Cikini. Nyatanya gang yang penuh stiker bekas pilkada dengan selusin anak-anak TPA bermain sarung tentu bukan junk space. Juga bukan semacam “wajah lain”.

 

Ia salah satu bagian, bukan bagian lain Cikini. Bagian yang dihidupi oleh pengemudi ojek daring yang keranjingan memproduksi bualan menyenangkan.

 

Malam ini saya memandang Cikini seperti etalase. Etalase kantung kesenian. Etalase berderet kafe terbaru. Sayangnya, seperti sebuah etalase kadang kita lupa siapa orang-orang yang memajangnya. Magrib ini saya tak sengaja menemuinya.

 

Entah apakah tukang ojek saya berhasil menemui kabel data keinginannya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: