Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Pameran-Kampung-Kecil-Kebayoran

Salah satu karya dalam pameran di Kampung Kecil, Kebayoran, yang diinisiasi oleh Micro Galleries.

 

Saya berdiri di depan sebuah mural berukuran sekitar 3×3 meter. Tepat di bagian bawah mural itu terdapat tali jemuran. Sebuah daster, celana panjang, dan celana dalam berwarna hitam digantung di jemuran tersebut. Melihat itu saya hendak mengeluarkan telepon seluler untuk mengabadikannya. Mural dan jemuran tentu sebuah juxta yang menarik.

 

“Maaf Mas, saya angkat dulu,” tiba-tiba seorang ibu datang dari belakang saya.

 

Ia kemudian mengambil tiga gantungan di jemuran. Memindahkannya ke tiang jemuran di teras rumahnya. Saya hanya bisa tersenyum dan mengucapkan maaf karena telah merepotkan dirinya.

 

Kejadian tersebut terjadi di Kampung Kecil, Kebayoran. Mural itu adalah bagian dari inisiatif Micro Galleries. Sejauh yang saya baca, inisiatif ini ingin agar seni bisa dinikmati lebih banyak orang, termasuk di kampung-kampung. Tentunya dengan pendekatan partisipatoris. Selain mural tersebut, banyak karya lain di Kampung Kecil. Contoh lain, sebuah mural berisi harapan warga tentang kehidupannya.

 

Bertemu dengan Si Ibu pengangkut jemuran di Kampung Kecil adalah sebuah pengalaman penting bagi saya. Di titik itu saya menyadari bahwa “keindahan” itu relatif.

 

Bagi saya keindahan adalah ketika mural yang “nyeni” bercampur dengan jemuran. Bagi dirinya, keindahan adalah ketika mural dipisahkan dari jemuran, yang sudah “bagus” harus dijauhkan dari hal-hal keseharian.

 

thumbnail (1)

Salah satu karya yang merespon retakan dinding di Kampung Kecil, Kebayoran.

 

Saya dan pasangan kemudian melanjutkan melihat-lihat karya lainnya. Di sebuah gang, seorang anak kecil berteriak-teriak memanggil. Saya menduga ia memandang saya dan pasangan sebagai sesuatu yang eksotis. Bukan bagian dari kampungnya. Pun, saya juga memandang gang-gang di kampung ini dengan pandangan yang sedikit eksotis. Saya lahir di kawasan Cakung dengan kondisi yang mirip Kampung Kecil.

 

Tak bisa dipungkiri ada bagian diri saya yang dekat dengan kehidupan di kampung-kampung kota.

 

Pasangan saya kemudian mengajak ke sebuah rumah yang membuka kursus jahit. Sebelumnya, ia memang tak sengaja menemukan tempat kursus jahit ini.

 

Kami disambut oleh Pak Azis. Ia mengenakan baju koko putih. Rambutnya beruban. Dialek betawinya sangat kental. Ia lebih nyaman mengucapkan “iye” dibanding “iya” dan “ampe” alih-alih “sampai”.

 

Ada satu hal menarik dari paparan Pak Azis. “Harga kursus segini tuh ampe bisa,” ujarnya sambil menunjuk sebuah nominal di brosur. Saya mencoba mengonfirmasi ulang kata “ampe bisa” untuk memperjelas merujuk ke berapa bulan. Ia tetap menjawab, “Ya pokoknya ampe bisa.”

 

Tempat kursus menjahit tersebut tak punya ukuran periode pembelajaran yang jelas. Di satu sisi jelas aneh, tapi ia juga bisa dibaca dari sudut pandang lain.

 

Bahwa tak semuanya harus punya ukuran yang jelas.

 

Tentu ini berkebalikan dengan keinginan untuk terus bergegas sekaligus terukur dalam kehidupan kota.

 

Pengalaman yang mirip saya temui ketika berkunjung ke Jalan Danau Tondano Raya, Depok. Karang Taruna kampung ini membuat lukisan-lukisan 3 dimensi (3D) untuk menghias aspal.

 

Saat saya tiba di sana, tujuh anak kecil berlari kegirangan menuju sebuah lukisan permadani. Mereka langsung duduk dan berpose untuk difoto. Di layar kamera, mereka terlihat seperti Jasmine saat menaiki permadani Aladdin. Melayang.

 

Tujuh anak ini seperti melakoni pameo klasik: Bahagia itu sederhana.

 

thumbnail (2)

Anak-anak berpose di atas lukisan permadani 3 dimensi di kawasan Jalan Danau Tondano Raya, Depok.

 

Saya kemudian mengobrol dengan Dony, salah seorang pegiat karang taruna, yang ikut dalam inisiatif ini. Dony bukan seorang seniman. Tampilannya pun layaknya pemuda kebanyakan. Kacamata frame tebal, kaos T kasual, dan sandal jepit swallow biru.

 

Dony bercerita tentang proses kreatif di balik lukisan 3D yang ramai di media massa. Polanya sederhana: pemuda karang taruna ingin merespon jalanan yang baru diaspal. Tercetuslah ide menggambar 3D di aspal. Selanjutnya adalah sejarah bagi mereka. TV meliput, wartawan menyemut.

 

Di antara pemberitaan-pemberitaan yang besar itu, Dony justru mengingat satu cerita sederhana.

 

“Ada bapak-bapak ke sini, Bang. Dia bilang sekarang enggak perlu jauh-jauh ngajak anaknya jalan-jalan. Senang banget saya dengernya.”

 

Hujan di kawasan Depok menemani obrolan saya dengan Dony. Selain saya, ada tiga orang wartawan media daring yang sedang meliput apa yang mereka sebut dengan “Kampung 3D”. Bagi saya Dony dan karang tarunanya tak hanya melukis gambar 3D. Mereka tak menggambar, mereka menghidupkan kampungnya. Dengan hasil senyum dan kebahagiaan anak-anak yang tak terukur.

 

Di perjalanan pulang dari Depok, saya memikirkan Si Ibu pengangkat jemuran, Pak Azis, dan Dony. Mereka bukan orang-orang yang bisa saya temui setiap hari. Butuh sebuah lintasan pertemuan untuk berinteraksi dengan mereka. Lintasan itu berupa pameran di Kampung Kecil dan lukisan 3D.

 

Bagi saya, Kampung Kecil di Kebayoran dan Karang Taruna di Depok adalah ruang pertemuan yang berharga. Selama ini saya lebih banyak memandang karya-karya seni sebagai sebuah pelarian dari keseharian, sebuah eskapisme. Sesuatu yang di luar diri saya, yang tak terjangkau.

 

Melalui karya-karya sederhananya, kampung ini justru mengajak saya untuk menikmati lagi keseharian.

 

Saya menyangka perasaan itu bisa timbul karena interaksi-interaksi kecil dengan orang-orang di kampung tersebut. Interaksi dengan Si Ibu pengangkat jemuran, Pak Azis, anak kecil yang mengikuti saya dan pasangan, pun Dony. Tanpa sengaja mereka mengajak saya berdialog. Beberapa kali mematahkan persepsi.

 

Di tengah antusiasme itu, saya takut jangan-jangan yang lebih memukau saya justru orang-orang kampung di balik karya tersebut, bukan karya itu sendiri. Kalau benar itu yang terjadi agaknya saya justru semakin jauh dari keseharian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: