Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Jika keluarga adalah sebuah buku cerita roman, saya mengusulkan satu nama untuk menuliskannya. Namanya Riri Riza.

 

Semua bermula dari sebuah WhatsApp ibu, “Wilda mau ikut mudik enggak?” Setelah beberapa tahun tak mudik, ibu ingin mengunjungi kampung halamannya. Ibu tak mau pergi tanpa saya, ia tak mau saya sendirian saat lebaran. Keputusan terakhir ada di saya.

 

Beberapa tahun lalu mungkin saya akan menolak ajakan itu. Mengikuti ritual-ritual keluarga bukan sesuatu yang saya sukai. Kerap kali terlalu membosankan. Namun, kali ini saya mengiakannya.

 

Mungkin, bertambahnya usia membuat saya mau tak mau belajar menekan ego.

 

Satu hal yang paling saya rasakan saat mudik lalu adalah mengalami posisi yang berbeda. Dulu, saya seorang anak kecil yang bebas bermain. Kini, saya satu-satunya cucu dewasa yang belum menikah. Konsekuensinya, saya jadi “paman penggembira” dengan tanggung jawab utama membawa keponakan-keponakan bermain.

 

Mengantarkan para keponakan bermain menyadarkan saya bahwa posisi dalam keluarga tak statis. Ia akan terus bergerak. Cucu, anak, paman, ayah, dan sebut rentetan posisi lainnya akan secara dinamis disandang oleh seseorang.

 

Di titik itu keluarga menjadi sangat berbeda dengan pertemanan.

 

Dalam pertemanan posisinya akan setara. Yang berbeda adalah kerekatannya. Selalu ada opsi dalam pertemanan.

 

Ada opsi melonggarkan atau mengeratkan hubungan dalam pertemanan. Sementara, dalam keluarga relasinya lebih rumit dari itu. Opsi itu hampir nihil, mungkin itu kenapa premis narasi dalam keluarga kerap berbunyi: “Kembali pada kehangatan keluarga.”

 

Karena seberapa keras kita menampik relasi itu, relasi dalam keluarga tak akan bisa hilang.

 

Saya bisa mengganti teman, tapi saya tak bisa mengganti orangtua.

 

Kenangan mudik lebaran itu berkeliaran setelah saya menonton Kulari ke Pantai. Saya lebih senang menyebut Kulari ke Pantai sebagai film keluarga, alih-alih film anak-anak. Dan ketika menjadi film keluarga, saya tak bisa menampik membandingkan Sam dan Happy (dua tokoh utama dalam Kulari ke Pantai) dengan Eliana dalam Eliana, Eliana dan duo Yusuf – Ambar dalam 3 Hari Untuk Selamanya.

 

Tiga film Riri Riza itu punya irisan dengan keluarga. Ketiganya seperti perjalanan kedewasaan dalam memandang keluarga.

 

Eliana, Eliana berkisah tentang Eliana (Rachel Maryam) yang kabur ke Jakarta dari Padang di hari pernikahannya. Beberapa tahun kemudian Bundanya datang ke Jakarta, mengajak Eliana pulang. Eliana menolak, Bundanya kekeh. Puncaknya, di sebuah warung makan mereka bertukar amarah.

 

Eliana memprotes Bundanya, “Apa pernah Bunda bertanya sama Eliana, apa yang Eliana mau?” Bundanya membentak, “Karena kau tidak pernah tahu apa yang kamu mau!”

 

Eliana seperti dibuat dengan kemarahan. Kemarahan atas orangtua, upaya mendobrak tradisi, kekesalan atas konservatisme. Semangatnya mirip tokoh-tokoh dalam Kuldesak. Sangat konfrontatif.

 

Keluarga jadi suatu entitas yang memuakkan dan Eliana (pun mungkin setiap remaja) ingin melarikan diri darinya.

 

Lain cerita dengan Yusuf dan Ambar. Cerita keduanya beranjak dari sebuah tugas mengantarkan barang pecah belah yang penting dalam ritual pernikahan kakak Ambar di Jogja. Dengan mobil Peugeot 406, relasi Yusuf dan Ambar dibangun. Dalam mobil legendaris Prancis itu, Yusuf cum Ambar tak cuma membangun obrolan, mereka mengomentari banyak hal di luar diri mereka. Khususnya tentang keluarga.

 

Yang membedakan dengan Eliana; Yusuf dan Ambar tak serta merta konfrontatif. Mereka memilih “berkompromi”. Maka, kita bisa melihat Yusuf dan Ambar tetap datang ke acara keluarga meski mengutuknya di belakang. Pun, setelah menghisap ganja, Yusuf tak melawan saat ayahnya mengingatkan salat melalui telepon.

 

Yusuf dan Ambar menyadari posisi mereka dalam keluarga. Premisnya seperti, “Saya berbeda dengan keluarga saya, tapi ya mau gimana lagi?”

 

Kesadaran posisi dalam keluarga itu bisa jadi muncul karena pikiran Yusuf dan Ambar yang mulai beranjak dewasa. Kondisinya mirip seperti pekerja yang akhirnya memilih jalur karier “aman”. Semangatnya sangat kompromis.

 

Sam dan Happy dalam Kulari ke Pantai melompat jauh dari Eliana, Yusuf, maupun Ambar. Ada dua cerita penting dalam Kulari ke Pantai.

 

Pertama, relasi Sam dan Happy. Sam adalah personifikasi anak-anak yang memenuhi keinginan nostalgia orangtua: Supel, jauh dari gadget, kental dengan kepolosan khas anak-anak. Sementara Happy kebalikannya: drama queen, tak bisa lepas dari gawai, plus sangat urban.

 

Kedua, dinginnya hubungan Mama Uci (Mama-nya Sam) dengan Arya (sang kakak – Ayah Happy). Sebabnya, Arya tak menyukai pilihan Uci yang terkesan aneh: Memilih tinggal di Rote.

 

Perjalanan kemudian jadi sebuah upaya untuk menghangatkan kedua relasi itu.

 

Solusinya memang mirip 3 Hari Untuk Selamanya, tapi saya melihat motif yang sangat berbeda. Kulari ke Pantai beranjak dari sebuah kesadaran bahwa, “Keluarga ini tak baik-baik saja.”

 

Kesadaran itu jadi pintu masuk untuk memperbaikinya. Ia tak sekadar menyadari ada yang tak beres lalu diam saja. Motif itu menjadi menarik karena hanya akan muncul dari perspektif yang memandang bahwa keluarga adalah sebuah entitas yang dinamis.

 

Keluarga bukan sesuatu yang taken for granted dan tak bisa diubah.

 

Ada satu kutipan dalam buku Keluarga Kita yang dengan sangat baik menggambarkan perspektif itu. Najelaa Shihab (penulis buku itu) menulis tentang salah kaprah keluarga yang menurut saya sangat penting.

 

“Salah kaprah (jika menganggap) hubungan atas dasar cinta dan persaudaraan adalah hubungan yang selalu erat, tanpa usaha pun dapat terus berkualitas. Padahal, kualitas dalam hubungan apa pun perlu dijaga dengan cara berinteraksi dengan baik, seperti: memperhatikan kuantitas pertemuan, saling mengapresiasi, mengkritik tanpa melemahkan, dan berkonflik dengan sehat…Makin beragam peran dan hubungan, makin banyak yang perlu diusahakan.”

 

Pada perspektif bahwa keluarga adalah entitas yang dinamis itu saya menjura pada Kulari ke Pantai.

 

Film ini tak terjebak pada petuah-petuah klise cerita anak seperti harus menghormati orang yang lebih tua. Petuah yang kerap kali tak bisa dijelaskan secara logis. Konsekuensinya anak-anak menganggap bahwa keluarga sebagai sesuatu yang taken for granted. Maka, ketika masalah muncul maka satu-satunya cara adalah melarikan diri dari keluarga, seperti apa yang dilakukan Eliana.

 

Pada Eliana, Yusuf – Ambar, lalu Sam dan Happy, saya seperti melihat catatan cara pandang Riri atas keluarga yang terus berubah. Ketiga film itu dibuat dalam rentang waktu kronologis usia Riri.

 

Menyaksikan film-film Riri dan melihat perubahan cara pandangnya terhadap keluarga rasanya sangat menenangkan. Seperti menyadari bahwa menerima posisi kita dalam keluarga selalu butuh waktu. Dan itu (mungkin) proses yang wajar. Setidaknya saya merasa tak sendirian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: