Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Kenapa kita terobsesi dengan fisik bangunan, bukan interaksi di dalamnya?

 

Pemandangan ‘estetis’ saya temui di samping Galeri Nasional. Beberapa tukang bangunan berjejer di depan gedung yang sedang mereka bangun. Dua tiga kuli memesan siomay yang mangkal di depan mereka. Wajah berminyak kelelahan berpadu padan dengan warna-warni rompi bangunan.

 

Di belakangnya, spanduk besar bergambar pohon-pohon ditempel di seng depan bangunan untuk menutup rangka-rangka yang berantakan. Jelas dalam rangka kamuflase keindahan. Tipikal. 

 

Saya membayangkan lewat di depan gedung itu satu atau dua tahun lagi. Gedung itu mungkin sudah diresmikan. Dengan upacara gunting pita. Tukang bangunan itu tak akan ada di sana. Yang hadir tentu arsiteknya. Dengan sepatah dua patah kata yang normatif tentang bangunannya.

 

Tukang-tukang bangunan itu kemudian menjadi anonim atas hasil keringatnya.

 

Itu kenapa saya merasa pemandangan sore di kawasan Galeri Nasional terasa ‘estetis’. Tukang adalah contoh nyata konsep kerja yang bias. Ia terlalu sering dilupakan. Ia mengajari kita bahwa bangunan bukan sebuah karya alone genius. Melainkan sebuah kerja kolektif. 

 

Syahdan, saya tak melihat tukang dan orang-orang biasa di pameran PRIHAL: arsitektur andramatin.

 

Dalam PRIHAL, Andra Matin berupaya menghadirkan cerita utuh tentang prosesnya dalam berkarya.

 

Ia membahasakan konsep tersebut dengan menampilkan lini masa karya, cerita di baliknya, material-material khas yang sering dipakai, sampai menghadirkan ruang kerjanya. Setiap fragmen ia kemas dalam titel PRIHAL, misalnya cerita tentang material ia beri nama PRIHAL Material, pun dengan bagian-bagian lainnya. Ia berupaya menampilkan semua detail dalam kehidupan seorang pekarya. 

 

PRIHAL sangat detail dan berupaya personal, sayangnya sangat bias.

 

Rasanya seperti melihat deretan facade bangunan-bangunan mahal dalam majalah arsitektur di Gramedia. Bedanya majalah itu sekarang bernama Galeri Nasional. 

 

Bias itu terasa dalam banyak hal. Misalnya, Andra lebih memilih menarasikan klien sebagai salah satu aktor penting dalam proses arsitektur, alih-alih tukang. Tentu itu pilihan personalnya, tapi pilihan adalah sebuah refleksi pemikiran, pilihan mencerminkan banyak hal. 

 

Pun, dalam narasi mengenai karya yang dekat dengan kehidupan “manusia biasa” seperti pasar tradisional atau bangunan-bangunan yang bersentuhan dengan warga. Narasi yang dihadirkan sangat bias. Dalam pasar tradisional misalnya, Andra menarasikan bahwa ada stereotip negatif tentang pasar, melalui karyanya ia ingin mengubah stereotip itu.

 

Yang menjemukan dari itu adalah cara pandangnya dalam menyelesaikan masalah, ia menaruh sosok arsitek seakan-akan sebagai alone genius.

 

Ada masalah, arsitek datang, dan voila selesailah semuanya. Seakan-akan pedagang di pasar atau aktor-aktor dalam ruang tersebut tak bisa mendefinisikan sendiri masalahnya. Mereka bukan menjadi bagian dari solusi. Tak ada tawaran alternatif lain, padahal mungkin saja arsitek ‘hanya’ menjadi fasilitator dalam upaya mencari solusi bersama.  

 

Pun, dalam narasi-narasi ala “pelibatan warga”, ada bias yang begitu terasa. Contoh kecil, ada narasi yang menceritakan pemberian ruang bagi warga lokal untuk membuat kerajinan di bangunan yang dibuat. Hasilnya tentu pengakuan dan nilai tambah ekonomi. Sebagai sebuah struktur cerita jelas menarik (setidaknya bagi kelas menengah). Tapi, apakah itu cukup?

 

Perspektif ini tidak jauh dengan cara pandang ekspansi industri, “Kami hadir dan kamu jadi pekerja kami.” Relasinya sama sekali tak setara. 

 

Relasi ini tentu berbeda dengan cara kerja Romo Mangun. Ia tak bertendensi menempatkan dirinya sebagai alone genius.

 

Beberapa kali mengobrol dengan petugas kebersihan di Sendang Sono, saya masih sering mendengar cerita tentang kerja Romo yang sangat inklusif. Warga diajak mengobrol, berproses bersama, bahkan diminta menggambar Sendang Sono yang ideal versi mereka. Romo melakukannya sejak proses awal pemugaran kawasan itu. Cara kerja yang sama juga muncul dalam kerja kolektif kawasan Kali Code.

 

Romo tak terobsesi menjadi pemecah solusi, ia menempatkan diri sebagai fasilitator yang bersama-sama mencari solusi. 

 

Ada satu cerita sederhana tentang Romo Mangun yang saya ingat ketika melihat pameran PRIHAL. Alkisah Romo Mangun menemani kunjungan istri-istri anggota DPR ke kampung pinggir kali. Saat melihat banyak genangan, spontan ibu-ibu wakil rakyat itu mengatakan, “Waduh, ini kasihan ya, banjir begini.” 

 

Romo Mangun malah tertawa mendengar keluhan itu. Ia mengatakan, “Kalau saya tanya warga, mereka bilang: ‘Mboten menopo-nopo, namung teles’ (tidak apa-apa, cuma basah, kok).” 

 

Tak ada istilah banjir bagi warga, bagi mereka air kali sedang naik sehingga jalanan basah. Itu adalah bagian keseharian mereka. 

 

Saya melihat Andra dengan PRIHAL-nya masih melihat masalah-masalah keseharian dalam kacamata istri anggota DPR, bukan Romo Mangun. Begitu berjarak. 

 

Dan “jarak” punya konsekuensi yang sangat besar. PRIHAL secara (tak) sengaja menghadirkan arsitektur yang berjarak, yang tak terjangkau, bukan bagian dari keseharian. 

 

Dalam salah satu bagian PRIHAL, pengunjung diminta untuk menuliskan kesan-kesan terhadap pameran itu. Ada satu pesan yang menurut saya mewakilkan banyak impresi pengunjung atas pameran ini.

 

Kurang lebih pesan itu berbunyi, “Pingin nabung yang banyak supaya rumahku sama suami nanti bisa dibangun sama Mas Andra.”

 

Impresi-impresi yang muncul adalah sebuah obsesi pribadi atas sebuah hunian. Obsesi pribadi untuk mengejar estetika tertentu. Tentu itu tak salah, apalagi dengan kompleksnya masalah hunian di perkotaan. PRIHAL kemudian menjadi semacam obat bius yang sejenak menidurkan pengunjung dari masalah hunian. Seperti obat bius, jelas menenangkan tapi berbahaya. 

 

Arsitektur dipandang menjadi sebuah obsesi, bukan refleksi atas kehidupan sehari-hari. Arsitek kemudian menjadi aktor tunggal di dalamnya, aktor yang bekerja di ruang hampa. 

 

Apa yang paling berbahaya dari sebuah obsesi? Ia sering kali terlalu egois.

 

Saya justru tak melihat obsesi itu dalam wajah tukang-tukang bangunan di samping Galeri Nasional. Ia justru merefleksikan sebuah kerja-kerja keseharian yang begitu asli, minim fabrikasi. 

 

Mereka hanya membangun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah pulang, mereka akan bertemu istri dan anaknya di rumah. Uang hasil kerjanya beralih menjadi makanan untuk keluarga. Di dalam bangunan rumah mereka yang seadanya, ada interaksi yang begitu kaya. 

 

Pada tukang bangunan, saya justru melihat sebuah PRIHAL yang lain. Perihal yang paling hakiki.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: