Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Yang paling menyebalkan saat beranjak tua adalah melihat ibu terus menua. 

 

“Ibu diboncengin aja Le, gak apa-apa kok.” Bagi banyak orang mungkin ucapan itu sederhana, bagi saya ucapan itu mengubah banyak hal. Ibu tidak pernah mempercayakan saya memboncenginya naik motor. Ia hanya percaya diboncengi oleh bapak atau kedua kakak saya. Baginya, saya tetaplah seorang pengendara motor amatir, seorang anak kecil yang baru bisa mengendarai roda dua. 

 

Wajah ibu masih menyimpan duka karena sebuah masalah yang baru ia alami. Kantung matanya besar, pun matanya sayu. Selama beberapa hari ia sulit makan. Saya mengambil dua hari cuti untuk menemaninya. 

 

Di tengah keadaan itu, ia bersikeras pergi ke toko. Kehidupannya berpusat pada dua hal: rumah dan toko. Dan untuk pertama kalinya ia bersedia saya bonceng naik motor untuk pergi ke tokonya. 

 

Perjalanan itu bukan sekadar menuju toko, perjalanan itu membuat saya merefleksikan banyak hal. 

 

Dari kaca spion, saya melihat wajah ibu semakin menua. Keriputnya menebal, saat memaksakan diri tersenyum terlihat beberapa ruang di mulutnya karena giginya tanggal beberapa. 

 

Dalam perjalanan itu, ibu bercerita kondisi toko yang mengalami penurunan. Ibu menjual pakaian pernikahan dan baju-baju adat. Pandemi mereduksi skala pernikahan, pesta pernikahan menjadi tabu. Toko ibu saya jelas terdampak.

 

Untuk mencari tambahan pendapatan, ia membuat lontong dan kudapan kecil setiap malam. Pada pagi harinya, ia akan menitipkan panganan itu ke warung-warung di dekat rumah. Ia menjalankan usaha kecil itu bersama kakak saya. Kakak membuka toko seragam sekolah yang juga terdampak pandemi.

 

“Jualan makanan lumayan hasilnya, Le,” ujarnya menghibur diri.

 

Itu bukan sekadar beberapa lontong. Pada jualan-jualan ibu, saya belajar mengenai kekuatan orang-orang biasa. Mungkin ia hanya satu dari sekian juta orang yang sedang berjuang. Orang-orang biasa yang terus menelurkan cerita di tengah beragam himpitan.

 

Sampai di kawasan Buaran, ibu meminta maaf karena kealpaannya merepotkan saya. Ia berjanji tak akan mengulangi kesalahannya lagi. Saya membalasnya dengan mengatakan ia tidak salah dan tak perlu minta maaf.

 

Pikiran saya campur aduk kala itu. Saya bekerja di perusahaan rintisan, sehari-hari berurusan dengan teknologi. Namun, ibu saya menjadi korban atas tindakan-tindakan tak bertanggung jawab dengan memanfaatkan teknologi. Dan, saya tak ada di sampingnya ketika hal itu terjadi.

 

Saya membayarnya dengan mengambil dua hari cuti. Menggunakan segala pengetahuan yang saya bisa, mengajak teman yang punya pengetahuan lebih untuk membantu ibu.

 

Ada perasaan bersalah yang menyebalkan ketika saya memandang keluarga dan pekerjaan menjadi sebuah zero sum game. Saya harus mengorbankan salah satu ketika salah satunya butuh bantuan.

 

Di tengah perjalanan, tiba-tiba ibu bercerita keinginannya undur diri dari pasar. Ia merasa makin menua, tenaganya tak lagi prima. Namun, regenerasi toko tradisional bukan soal mudah. Logika toko tradisional keluarga berbeda dengan bisnis skala besar. Ini bukan soal pengembangan bisnis, ekspansi, dan beragam jargon khas kelas menengah.

 

Toko tradisional adalah jantung kehidupan manusia-manusia di dalamnya. Melepaskannya berarti menghilangkan sebagian besar cerita hidup.

 

Ia berharap kakak saya bisa meneruskannya. Kakak saya juga membuka toko. Ia satu-satunya saudara kandung saya yang tak menjadi pegawai. Ia harapan terakhir ibu saya.

 

Ibu kemudian mengucapkan sebuah kalimat yang sangat membekas, “Kalau Wilda udah beda dunianya.”

 

Kalimat itu terus membekas dalam diri saya. Saya adalah satu-satunya anak yang menjadi sarjana di keluarga. Pendidikan mengantarkan saya pada titik ini. Saya tak pernah setuju pendidikan hanya dipandang sekadar alat pendongkrak ekonomi. Pendidikan seharusnya menghadirkan kesetaraan, membantu yang lemah. Perkataan ibu seperti menampar prinsip saya dengan keras.

 

Jangan-jangan saya sekadar produk pendidikan yang transaksional. Yang justru menghadirkan jarak. Yang meninggalkan dunia lama untuk menjemput dunia (dianggap) ideal yang baru. Pertanyaan itu terus menghantui saya sepanjang perjalanan.

 

Sesampainya di pasar, saya mengajari ibu beberapa hal agar tidak lagi menjadi korban atas pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Itu pelajaran digital yang sangat dasar. Dalam sesi itu sesekali pikiran saya memikirkan pembahasan di kantor. Pembahasan yang tentu jauh lebih njelimet terkait teknologi. Namun, saya gagal mengajari ibu saya hal-hal dasar.

 

Setelah beberapa jam menjelaskan, saya izin pamit. Saya perlu beristirahat dan bertemu lagi dengan apa yang ibu sebut sebagai “dunia saya”.

 

Sore itu saya melihat Jatinegara dengan cara pandang yang berbeda.

 

Saya tumbuh besar di kawasan Pasar Mester Jatinegara. Saya mengenal hampir semua orang di kawasan toko ibu. Tukang parkir bahkan menyediakan parkir khusus untuk saya ketika parkiran motor penuh. Penjual duren akan jujur mengatakan pada saya untuk tak membeli duren saat buah yang ia bawa kualitasnya buruk. Pun, pedagang soto akan memberikan daging berlebih jika saya yang membeli. Sore itu semua seperti menjadi kenangan masa kecil.

 

Saya tahu tempat saya tak lagi di sana. Ia sekadar romantisme dan melepaskannya adalah sebuah hal yang tak bisa terelakkan. Saya lompat dari dunia pasar yang mewarnai kehidupan masa kecil dan muda saya. Menyadur Ismail Marzuki, “Di Jatinegara, saya benar-benar berpisah.”

 

Pagi ini, cuti saya berakhir. Saya membuka aplikasi pekerjaan dengan pikiran yang sedikit berat. Ada banyak pesan yang belum terbalas karena saya meninggalkan pekerjaan selama dua hari. Dalam sela-sela pekerjaan, saya mengingat ibu saya.

 

Mengingat lagi hari ketika ia mempercayai saya untuk memboncenginya naik motor. 

7 thoughts on “Berpisah di Jatinegara

  1. mas bro says:

    duh…jadi kangen ibu juga
    semoga ibu mas wilda sehat selalu

    Like

  2. Amelia says:

    baca tulisan ini kayak ngaca ke diri sendiri.
    beberapa poin kayak ngerasa senasib seperti Mas Awe.
    kayaknya saya juga harus ngajarin bapak ibu hal-hal basic teknologi dan securitynya.

    Like

  3. Baca ini jadi sedih karena sampe sekarang saya masih gak bsa ngejelasin ke ibu, saya ini kerjanya ngapain di media monitoring. Klo beliau ditanya sama temen2nya di kampung saya kerja apa sih di perantauan, beliau juga bingung mau jawab apa 😅.

    Like

    1. nugrahapepe says:

      Alhamdulillah baca tulisan mas Wilda lagi.

      Selalu merasa terwakili, rasa2 yg sama, tapi saya ga bisa nulis, dan ga pernah cerita. Tapi ini sudah seperti ngewakilin cerita, jlimet yo, suwun mas

      Like

  4. Bendrat says:

    Dasar kamu itu ya mas!

    Like

  5. Noel says:

    Lontong Ibu selalu “the best”.

    Like

  6. 45noer says:

    Lontong Ibu selalu “the best”. Sehat selalu buat Ibu sama Bapak Sob, Insya Allah segera berkunjung.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

<span>%d</span> bloggers like this: