Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Setelah ibu meninggal, saya memandang hidup dengan cara yang sangat berbeda. Tulisan ini adalah upaya saya untuk mencintai lagi kehidupan, walau tanpa ibu.


Sepanjang hidup, ini adalah tulisan yang paling saya takuti. “Bagaimana jika saya harus berpisah dengan ibu?”


Butuh waktu lama untuk sekadar berani memulai tulisan ini. Ada air mata yang terus saya lawan untuk menyelesaikannya. Beberapa kali saya mengurungkan niat untuk menyelesaikan tulisan ini.


Tiap kali saya berupaya berhenti, saya ingat ibu selalu mengajari untuk berani. Obituari ini bukan hanya untuk ibu, obituari ini untuk memberi nyawa pada kehidupan saya selanjutnya.

 

Saya akan selalu ingat sore itu. Saat saya sampai rumah sakit, ibu henti jantung.


Dokter dan perawat mengerubungi ibu untuk melakukan CPR. Menekan dada ibu beberapa kali. Memberikan pertolongan terbaik mereka. Kedua kakak saya tak kuat menahan tangis sambil mengucap tahlil. Saya ingin terus berada di sana, menemani ibu di masa akhirnya. Namun, saya tahu ada yang harus saya lakukan, memanggil orang yang juga berhak ada di sana: Bapak!


Bapak beristirahat di rumah karena kelelahan menjaga ibu sehari sebelumnya. Ia tak ada di ruangan saat ibu henti jantung. Menelepon bapak untuk memintanya datang sendirian ke rumah sakit akan sangat berisiko bagi keselamatannya.


Saya berlari ke rumah sekuat tenaga meninggalkan rumah sakit yang jaraknya hampir satu kilometer. Sepanjang perjalanan pikiran saya campur aduk, saya hanya ingin bapak bertemu ibu di masa terakhirnya.


Sampai di rumah saya menggedor-gedor pintu karena bapak masih tidur, meminta bapak untuk segera bersiap, dan memacu motor dengan serampangan menuju rumah sakit. Bapak sepertinya tahu apa yang akan ia temui di rumah sakit.

Tangis bapak pecah saat sampai kamar ibu. Orang yang kami sayangi telah meninggalkan kami untuk selamanya. Ia tak akan lagi hadir secara fisik dalam hidup kami.


Saya hanya bisa berandai-andai kala itu, andai saya lebih cepat, andai saya bisa lebih dulu datang, dan andai lainnya yang lama sekali membekas di hati saya.


Butuh beberapa menit bagi saya menata perasaan saat itu. Saya tahu perasaan saya butuh diberi ruang untuk mencerna keadaan itu. Namun, saya juga sadar jika masa ini datang, saya adalah anak yang akan mengurus segala hal terkait pemakaman ibu. Pikiran saya harus mengalahkan perasaan saya.


Maka, saya mengubur perasaan itu dalam-dalam. Menggantinya dengan berpikir logis bagaimana mengurus jenazah ibu, cara mendapatkan ambulans, dan menyiapkan pemakaman ibu di Solo.


Pikiran saya mengalahkan perasaan selama beberapa hari sampai rentetan pemakaman dan doa bersama untuk ibu selesai.

 

Pasca kepergian ibu, saya kerap merefleksikan hubungan saya dengan dirinya.


Ibu berupaya keras memberi saya pendidikan setinggi-tingginya. Ia ingin saya berpikir logis. Mungkin, karena itu pula saya yang secara otomatis bertanggung jawab terhadap semua hal konkret pasca kepergiannya. 


Namun, saya tetaplah manusia. Saya tak bisa menyembunyikan perasaan. Beberapa hari setelah ibu berpulang saya hanya bisa menangis.


Ibu adalah sosok terpenting dalam perjalanan hidup saya. Ia tak pernah mengenyam sekolah tinggi. Mungkin ia hanya memakan bangku pendidikan sampai Sekolah Dasar (SD). Beberapa kali ia mengaku lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), tapi saya rasa ia melakukannya agar saya tak malu punya ibu yang hanya lulus SD. Nyatanya saya tak akan pernah malu.


Ia hanya ingin saya sekolah tinggi. Beberapa kali ia bersama bapak berjuang agar saya bisa tetap sekolah dengan nyaman. Saat kecil saya kerap menemaninya berdagang kaki lima. Menemaninya mengantarkan barang ke beberapa toko di Jatinegara sambil berharap bisa membuka toko sendiri di pasar itu.


Tumbuh dengan melihatnya berjuang membuat saya belajar banyak hal. Jika diperas, mungkin ada dua pelajaran terpenting yang ibu turunkan pada saya.

 

Pertama, soal solidaritas kelas.


Keluarga saya berasal dari kelas bawah untuk kemudian merangkak menjadi keluarga sederhana. Ibu tak pernah secara verbal menguliahi soal empati apalagi kesadaran kelas. Saat kecil, saya melihat langsung ibu kerap dipandang rendah oleh juragan toko yang membeli barangnya. Ajaibnya, saat ibu berhasil mewujudkan mimpinya membuka toko sendiri, ia tak pernah memperlakukan pelayan atau orang-orang yang membutuhkannya dengan semena-mena.


Ibu saya mungkin cerminan wajah ribuan ibu lainnya. Berjuang sendirian melawan sistem diskriminatif bagi yang tak beruntung secara ekonomi demi kehidupan anaknya.


Seberapa pun saya melangkah ke depan, saya berharap tak akan melupakan solidaritas kelas seperti yang ibu lakukan.

 

Kedua, cara pandang pada perempuan.


Ibu saya seorang perempuan yang sangat kuat. Saya selalu punya pandangan bahwa breadwinner dalam keluarga saya adalah ibu dan bapak. Keduanya, bukan salah satunya.


Ibu membuktikan bahwa perempuan selalu penuh siasat dalam menyelesaikan beragam masalah. Ia secara tidak langsung mengirimkan pesan bahwa perempuan berhak setara dan berkarya, tak ada alasan apa pun untuk menghentikannya.

 

Ibu adalah wajah kelas bawah negeri ini yang berupaya agar generasi selanjutnya naik kelas sosial.


Ia menggantungkan nasibnya pada pendidikan anaknya. Tak ada jalan keluar dari kemiskinan selain pendidikan, ibu percaya itu.


Agar saya bisa kuliah, ibu menjual beberapa barangnya. Ia ingin saya jadi first generation yang menyandang gelar sarjana. Semakin saya dewasa, saya tahu ini bukan sekadar tentang pendidikan. Ini tentang prinsip hidupnya. Hebatnya prinsip itu lahir dari seorang ibu yang hanya mengenyam pendidikan SD.


Saya ingat Pak Quraish Shihab pernah menggambarkan perjuangan seorang ibu dengan sangat pas. Ia merasa pengorbanan bukan kata yang tepat untuk menggambarkan perjuangan seorang ibu. Pengorbanan tak tepat karena di kata itu ada perasaan berkorban, sementara seorang ibu melakukannya dengan cinta. Menariknya, kata cinta juga kurang tepat menggambarkan perasaan seorang ibu pada anaknya. Cinta memiliki batasan, maka ada istilah putus cinta. Namun, kasih sayang seorang ibu tak terbatas.

 

Jika bahasa adalah cerminan pikiran, maka tak ada satu pun bahasa yang dapat menggambarkan rasa sayang ibu pada anaknya.


Hari-hari ke belakang pikiran saya tak bisa melarikan diri dari bagaimana ibu menyayangi saya. Kadang, saya masih kerap menangis jika mengingatnya. Selesai salat, saya sering berupaya mengajak ibu mengobrol dalam doa, berharap ia mendengarnya dari sana. Beberapa kali, sebelum memimpin rapat di kantor, saya kerap menyeka air mata terlebih dahulu saat pikiran kalut datang.


Pun, bapak juga merasakan kehilangan yang sangat dalam. Pasca berpulangnya ibu, bapak menggunakan cincin yang dulu dipakai ibu di jari manisnya. Ada masa-masa saya mencuri lihat bapak mengelus-ngelus cincin itu. Mata saya masih kerap kerkaca-kaca kala melihat itu, juga saat melihat beberapa hal kecil yang menunjukkan rasa sayang bapak pada ibu.

 

Kehidupan saya tak akan pernah sama lagi. Saya memandang hidup dengan cara yang sangat-sangat berbeda pasca berpulangnya ibu.


Ada kekosongan yang sangat dalam di hati saya yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Awalnya saya berupaya untuk mengisi kekosongan itu, tapi lama kelamaan saya sadar mungkin kekosongan itu memang tak akan pernah bisa diobati. Kekosongan itu adalah ruang khusus untuk ibu yang akan terus saya bawa.


Saya terus mencari jawaban, “Apa yang perlu saya lakukan dengan kehidupan saya?”


Sampai saya sadar, jawaban itu rasanya tak akan pernah saya dapatkan sampai kapan pun. Seperti halnya ibu saat menghadapi masalah, yang bisa saya lakukan adalah berupaya.


Saat saya memandang bapak yang mengisi hari-hari tanpa orang yang paling ia sayangi. Ketika saya memandang pasangan saya yang sedang berjuang untuk pendidikannya. Saya tahu saya harus terus berjuang untuk hidup saya dan orang-orang yang paling saya sayangi.


Hidup harus terus berjalan.


Ibu akan terus hidup dalam ruang kosong di hati saya. Saya akan terus mencintainya dalam tiap langkah kehidupan.

 

“Bu, Wilda sayang ibu, sampai kapan pun. Tenang di sana ya, Bu!” Alfatihah.

One thought on “Ibu Akan Terus Hidup

  1. mas bro says:

    duh…saya jadi ikutan sedih
    turut berduka cita ya mas awe
    semoga almarhum ibu khusnul khatimah, mendapat tempat terbaik di sisi Allah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: