Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Di bandara itu cuma ada dua ekspresi, kalau enggak sedih ya senang” (Difta Wandani) Saat menulis draft tulisan ini, saya sedang menginap di ruang tunggu bandara Kuala Lumpur untuk menunggu penerbangan ke Singapura. Sambil mendengar Menjadi Manusia-nya Bangkutaman lewat ipod saya teringat sebuah ucapan teman saya, Difta, dalam sebuah obrolan singkat. Seperti quote di awal …

Continue reading

Sejujurnya saya bingung mau menulis apa. Banyak hal terlintas di kepala namun semuanya tak matang. Ibarat komputer, terlalu banyak tab yang sedang coba saya buka dan hasilnya malah error. Pada akhirnya saya memilih untuk menuliskan kebingungan saya dalam menulis.  Dari kebingunan ini saya bertanya-tanya apa menulis bisa dilakukan saat tak ada ide di kepala. Sebab …

Continue reading

 “Sooner or later, every man looks in the mirror and sees his father.” (David Granger, Editor in Chief Esquire) Tadi sore saya jalan-jalan ke toko buku Times di Suria Sabah Kinabalu, Malaysia. Ada satu buku menarik yang saya temui disana. Saya lupa mencatat judul buku tersebut. Buku itu berisi kumpulan tulisan mengenai hubungan antara ayah …

Continue reading

Setiap anak laki-laki dan bapaknya selalu punya momen melodramatiknya sendiri. Melodramatik bukan berarti  diisi dengan tangisan bercucur air mata atau ucapan kasih sayang berlebihan. Momen melodramatik saya dengan bapak saya terjadi sangat simpel dan sederhana. Sesimpel memakai sendal jepit untuk dipakai ke warung bubur kacang hijau depan kos. Tapi hal kecil nan detail lebih ajeg …

Continue reading

Apa arti menulis bagi Anda? Menulis kerap dipahami sebagai kegiatan berat yang memusingkan. Kadang tulisan dikaitkan dengan keabadiaan seperti yang diucapkan Opa Pramoedya. Seberat itukah? Bisa jadi iya, tapi hidup saja sudah berat mengapa perlu mencari yang berat-berat. Bagi saya menulis adalah sebuah terapi dan sarana bermain, saat menghasilkan sebuah tulisan saya seperti sedang bercermin, …

Continue reading