Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Apa gambaran terbaik tentang ironi keluarga Indonesia? Bagi saya jawabnya jelas: Grup WhatsApp Keluarga.”    Saya punya pakde yang hobinya unik. Ia senang sekali meneruskan pesan dari grup WhatsApp yang ia ikuti ke grup keluarga besar kami. Apapun bentuk pesan itu: Mulai dari gambar bunga sampai kritik pada negara, tentu tak lupa lawakan ala orang …

Continue reading

Tentang mereka yang hadir di kepala saat Konser Efek Rumah Kaca.    Tepat ketika memasuki M-Bloc, saya melihat sosoknya. Ia yang menyita perhatian publik beberapa bulan lalu. Aparat sempat menahannya beberapa jam entah dengan alasan apa. Sejatinya ia tak layak ditahan, ia hanya mendukung upaya-upaya mahasiswa dan masyarakat sipil untuk merawat reformasi.    Sejak penahanan …

Continue reading

Apa yang membuat kita merasa lebih berhak memperjuangkan sesuatu daripada yang lain?    Ini cerita tentang seorang teman. Saya akan memulainya dengan gambaran yang tipikal. Ia Tionghoa. Tinggal di Kelapa Gading. Berasal dari kelas sosial yang lebih baik daripada saya. Saya sering menyapanya dengan panggilan “Cici”. Sebuah panggilan yang juga tipikal dan merujuk pada minoritas …

Continue reading

Kenapa kita terobsesi dengan fisik bangunan, bukan interaksi di dalamnya?   Pemandangan ‘estetis’ saya temui di samping Galeri Nasional. Beberapa tukang bangunan berjejer di depan gedung yang sedang mereka bangun. Dua tiga kuli memesan siomay yang mangkal di depan mereka. Wajah berminyak kelelahan berpadu padan dengan warna-warni rompi bangunan.   Di belakangnya, spanduk besar bergambar …

Continue reading

Jika keluarga adalah sebuah buku cerita roman, saya mengusulkan satu nama untuk menuliskannya. Namanya Riri Riza.   Semua bermula dari sebuah WhatsApp ibu, “Wilda mau ikut mudik enggak?” Setelah beberapa tahun tak mudik, ibu ingin mengunjungi kampung halamannya. Ibu tak mau pergi tanpa saya, ia tak mau saya sendirian saat lebaran. Keputusan terakhir ada di …

Continue reading

Apakah Sintas melulu soal keterbatasan penglihatan? Atau cara pandang (kita) yang terbatas melihatnya seperti itu?   Lampu belum seluruhnya menyala ketika Dimas Ario berlari menuju panggung. Sambil menaiki anak tangga panggung, ia cekatan menjulurkan tangannya. Di depan Dimas, berdiri seorang pria yang mencoba menggapai uluran tangannya. Telapak tangan pria yang mengenakan sweater krem plus topi …

Continue reading

Cikini seperti etalase. Kita bisa melihat apa yang dipajang tapi tak pernah tahu siapa yang memajang.   Gang itu berukuran dua sepeda motor ditaruh berdampingan. Kiri kanannya dipenuhi pot tanaman. Di tengah gang terdapat gerobak barang bekas berisi botol air mineral plastik. Stiker calon gubernur bekas pilkada masih tertempel di pintu-pintu rumah.   Sekitar selusin …

Continue reading

Dua individu. Dua tempat. Dengan dua wajah?   Setiap mengambil handuk di jemuran lantai atas, saya menyempatkan diri menengok ke bawah. Di depan rumah saya ada sebuah rumah yang dibelah dua. Alasannya sederhana, si empunya rumah memiliki dua anak yang belum punya kediaman, maka ia membagi sudung untuk kedua anaknya. Rumah sisi kiri diisi anak …

Continue reading

Bagaimana jika tempat yang sangat kita kenal menjadi terasa begitu berjarak?   “Omah kulo tebe, Mas. Cerak Parangtritis, 22 kilo lah (Rumah saya jauh mas sekitar 22 km, letaknya dekat Pantai Parangtritis),” ujar pengayuh becak motor. Pria paruh baya itu bercerita lancar ketika mengantar saya ke rumah pakde saya di Jogokariyan. Ia bercerita pilihannya mengganti …

Continue reading

Jangan-jangan yang kita butuhkan bukan perdebatan tapi sebuah percakapan.   “Koe melu demo ra (Kamu ikut demo)? Nginep omahku nek melu.” Pesan itu saya kirim kepada seorang sahabat pada tanggal 4 November lalu. Ya, pada tanggal itu ada demo besar di Jakarta. Setelah membaca konten-konten yang ia unggah di facebook, saya menyangka ia akan pergi ke …

Continue reading