Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Saya menduga, cara sederhana mengenang Romo Mangun adalah dengan bertanya ulang makna “ketokohan”. Ia baru bangun tidur saat saya mengunjungi hunian sementaranya. Matanya sedikit merah sisa kantuk semalam, rambutnya belum rapi tersisir. Ia pamit untuk mandi terlebih dahulu sebelum menemani saya berkeliling kampung. “Kalo libur, Topaz bangunnya emang rada siangan,” ujar ibunya mencoba memecah keheningan …

Continue reading

Yang paling menyebalkan saat beranjak tua adalah melihat ibu terus menua.    “Ibu diboncengin aja Le, gak apa-apa kok.” Bagi banyak orang mungkin ucapan itu sederhana, bagi saya ucapan itu mengubah banyak hal. Ibu tidak pernah mempercayakan saya memboncenginya naik motor. Ia hanya percaya diboncengi oleh bapak atau kedua kakak saya. Baginya, saya tetaplah seorang …

Continue reading

Setiap muncul masalah dari yang tersisih, pernahkah kita memulainya dengan bertanya: Kenapa?    Usia anak itu mungkin baru menginjak 9 tahun. Bersama lima orang temannya ia berlari di tengah-tengah Taman Pemakaman Umum (TPU) Petamburan. Badannya yang bongsor membuatnya menonjol di kelompoknya, ibarat sebuah band mungkin ia yang akan jadi front girl.   Saya alpa tak …

Continue reading

Cerita memilih pasangan sering dianggap sebagai sesuatu yang picisan. Padahal konteks yang melingkupinya kaya dengan cerita.    Salah satu pekerjaan yang membuat saya banyak belajar adalah saat menjadi penulis kontak jodoh daring (online dating). Pekerjaan itu sebenarnya sederhana, saya menulis tips dalam menjalin hubungan dan menarasikan hasil tes kepribadian seseorang yang ingin mencari pasangan. Narasi …

Continue reading

Ia yang tak pernah lulus sekolah, tapi mengajari saya semua hal yang tak diajarkan di sekolah. Ia yang melahirkan saya.    “Ting…ting…ting,” suara sendok beradu dengan mangkuk sering saya dengar tiap tengah malam. Suaranya tak kencang, tapi selalu terngiang. Suara itu berasal dari tukang sekoteng keliling yang lewat di depan kos saya.    Kamar saya …

Continue reading

“Apa gambaran terbaik tentang ironi keluarga Indonesia? Bagi saya jawabnya jelas: Grup WhatsApp Keluarga.”    Saya punya pakde yang hobinya unik. Ia senang sekali meneruskan pesan dari grup WhatsApp yang ia ikuti ke grup keluarga besar kami. Apapun bentuk pesan itu: Mulai dari gambar bunga sampai kritik pada negara, tentu tak lupa lawakan ala orang …

Continue reading

Tentang mereka yang hadir di kepala saat Konser Efek Rumah Kaca.    Tepat ketika memasuki M-Bloc, saya melihat sosoknya. Ia yang menyita perhatian publik beberapa bulan lalu. Aparat sempat menahannya beberapa jam entah dengan alasan apa. Sejatinya ia tak layak ditahan, ia hanya mendukung upaya-upaya mahasiswa dan masyarakat sipil untuk merawat reformasi.    Sejak penahanan …

Continue reading

Apa yang membuat kita merasa lebih berhak memperjuangkan sesuatu daripada yang lain?    Ini cerita tentang seorang teman. Saya akan memulainya dengan gambaran yang tipikal. Ia Tionghoa. Tinggal di Kelapa Gading. Berasal dari kelas sosial yang lebih baik daripada saya. Saya sering menyapanya dengan panggilan “Cici”. Sebuah panggilan yang juga tipikal dan merujuk pada minoritas …

Continue reading

Kenapa kita terobsesi dengan fisik bangunan, bukan interaksi di dalamnya?   Pemandangan ‘estetis’ saya temui di samping Galeri Nasional. Beberapa tukang bangunan berjejer di depan gedung yang sedang mereka bangun. Dua tiga kuli memesan siomay yang mangkal di depan mereka. Wajah berminyak kelelahan berpadu padan dengan warna-warni rompi bangunan.   Di belakangnya, spanduk besar bergambar …

Continue reading

Jika keluarga adalah sebuah buku cerita roman, saya mengusulkan satu nama untuk menuliskannya. Namanya Riri Riza.   Semua bermula dari sebuah WhatsApp ibu, “Wilda mau ikut mudik enggak?” Setelah beberapa tahun tak mudik, ibu ingin mengunjungi kampung halamannya. Ibu tak mau pergi tanpa saya, ia tak mau saya sendirian saat lebaran. Keputusan terakhir ada di …

Continue reading