Sidekick

Urip mung mampir ngejus

  Namanya sederhana, Slamet. Sayang akhir hidupnya tak sesuai namanya. Slamet si pedagang angkringan itu mati bunuh diri.   Goenawan Mohamad (GM) menuliskan kisah Slamet dalam salah satu Catatan Pinggir (Caping). Ia mengurai kematian Slamet dalam konteks yang lebih luas, krisis kedelai.   GM menarasikan Slamet hanya bisa membawa pulang Rp 8.000, sementara belanja bahan …

Continue reading

Saya menengok ke kiri. Kepala ibu sejajar dengan bahu saya. Kini, saya jauh lebih tinggi darinya.   Siang itu, saya dan ibu berjalan menuju Stasiun Klender Baru. Ibu hendak pergi ke tokonya di Jatinegara, saya menuju Cikini. Kereta kami searah.   Butuh waktu sekitar lima belas menit dari rumah sampai stasiun. Di perjalanan ibu bercerita …

Continue reading

Saya ingat bagaimana pertama memerhatikan Teddy. Kami bertemu di sebuah kelas penulisan. Ia punya ciri khas menarik, jauh dari stereotip penulis. Ia selalu mengenakan kemeja. Kemeja rapi khas kantoran, bukan flanel. Saya menganggapnya orang kantoran biasa.   Dalam sebuah sesi, Teddy maju membacakan ceritanya. Tentang sebuah penjara di Filipina atau salah satu negara Asia Tenggara, …

Continue reading

“Kalau enggak banyak asap rokok, Anio bisa ikut malam ini,” ujar Marcel Thee sebelum memainkan ‘Fatamorgana’.   Ucapan itu Marcel lontarkan ketika ia bersama Sajama Cut melakukan konser perayaan album terbarunya, Hobgoblin, di 365 Eco Bar Kemang pada Kamis (17/9) lalu.   Marcel kemudian mengulurkan dua telapak tangannya ke depan. Ia menggunakannya untuk mengasosiasikan dua …

Continue reading

“Anakku belum sampai rumah,” kata perempuan itu kepada rekan kerja di sampingnya.   Perempuan itu, berusia sekitar 35 tahun, melayani saya saat hendak membeli penyimpan data untuk komputer. Ia memberi tahu harga-harga produk yang saya taksir. Di tengah aktivitasnya, panggilan telepon masuk. Setelah berbincang melalui telepon selulernya, seketika wajahnya berubah. Bicaranya terbata. Rambutnya ia sibak …

Continue reading

“Nek siji kui mbok rusak, yo ibu ra entuk untung le (Kalau satu barang kamu rusak, ya ibu enggak dapat untung sama sekali),” kata ibu saat saya kecil dulu. Ketika itu saya sedang marah pada ibu karena sebuah hal. Saya lupa kenapa saya marah, tapi saya ingat cara saya mengekspresikan kemarahan.   Saat itu saya merusak …

Continue reading

“Bapak belajar Bahasa Inggris dulu, biar kalau ngomong bisa cas cis cus,” celoteh Pak Riza, guru SMA saya, di depan kelas. Ucapan itu sering saya dengar sekitar sepuluh tahun lalu. Ia biasanya akan meminta tolong murid yang lancar berbahasa Inggris setelah mengucapkan kalimat itu. Murid yang sering ia datangi seingat saya bernama Sonia.   Saya …

Continue reading

  Saya mencoba mengingat kejadian tiga tahun lalu. Saat itu saya berjalan ke ruang guru setelah selesai mengajar. Baru beberapa langkah keluar kelas, kepala sekolah memanggil. Kulit keningnya berlipat, tatapan matanya takut. “Ada wartawan Pak,” katanya singkat.   Dua orang terlihat di ruang kepala sekolah. Satu orang berbadan sangat besar. Berat badannya mungkin lebih dari …

Continue reading

Setengah buku dan satu porsi makan besar sudah saya habiskan saat menunggu seorang mahasiswi malam itu. Jarum pendek di jam tangan saya menunjuk angka 10, pelayan restoran mulai merapikan bangku, sayangnya mahasiswi itu belum juga datang. Baru sekitar sepuluh menit kemudian ia hadir dengan terburu-buru.   Ia menggenggam botol air mineral ukuran sedang. Wajahnya letih hasil …

Continue reading

  “Mau jeda dulu aja,” ujar Viriya singkat. Ia mengucapkan itu ketika rekan kami, Ardyan, bertanya mengenai kesibukannya. Saat itu kami bertiga bertemu di Goethe Institut pasca pemutaran kompilasi Film, Musik, Makan, pada Maret 2015 lalu.   Viriya memang baru saja mengundurkan diri sebagai wartawan di Geo Times. Dalam catatan di blog ia menceritakan dengan manis …

Continue reading