Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Sekitar dua bulan lalu kakak membelikan ibu telepon pintar. Telepon yang kakak saya berikan adalah sebuah android tipe sederhana. Sebelumnya ibu memakai telepon selular tipe lama yang hanya bisa menelepon dan mengirim pesan. Bukan tanpa alasan kakak membelikan ibu telepon selular, telepon lamanya memang sudah diperban sana-sini.   Tak ayal telepon selular dari kakak membuat …

Continue reading

  Saya selalu ingat perkenalan dengan Blur. Bukan lewat review atau acara musik, melainkan sebuah game komputer. Adalah FIFA 98 rilisan EA Sports yang menjadikan salah satu lagu Blur paling anthemic, “Song 2”, sebagai soundtracknya.   Wajar rasanya jika lagu tersebut dijadikan lagu tema. Aura semangat dan melodi yang menghentak adalah salah dua alasan masuk …

Continue reading

Sekitar sebulan lalu, Dimas Ario mencolek saya di twitter. Ia mengajak makan siang bersama Dito Yuwono. Saya mengiakan ajakannya, alasannya sederhana, sudah lama tidak bertemu mereka berdua. Terakhir kali bertemu bersama sekitar tiga tahun lalu. Saat itu Dito menggelar pameran di salah satu galeri kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Tiga puluh menit setelah colekannya, kami bertiga …

Continue reading

  Berjalan perlahan menuju panggung, perempuan itu membawa sebuah cangkir. Warna putih cangkirnya kontras dengan baju hitam yang ia kenakan. Cardigan bernuansa coklat membalut kedua lengannya. Suara yang pertama terdengar dari panggung adalah bunyi cangkir bertemu meja di samping kiri pianonya. Beberapa detik setelah duduk ia mengenalkan diri dan piano kesayangannya, “Saya Lani, ini Oskar …

Continue reading

  Mbak Ade Kumalasari membuat postingan menarik di hari pertama tahun 2015. Ia tidak menulis soal refleksi tahunan, pun resolusi. Yang ia tulis sebuah list sederhana. Tepatnya ada 32 item dalam listnya. List itu ia beri judul, “Buku Yang Kubaca 2014”.   Bagi saya postingan itu menarik karena dua hal. Pertama, saya menyukai list bukunya. …

Continue reading

Asri terlihat lebih gelap dari terakhir kali kami bertemu. Ia menggunakan baju terusan kombinasi putih biru yang lembut. Pasangannya, Dhika, dan tiga orang rekan lainnya menemani Asri ketika hendak menemui saya di kawasan Senayan. Ia telat beberapa menit dari jam bertemu yang kami sepakati. “Jakarta makin macet,” katanya singkat.   Malam itu kami bertemu sekadar …

Continue reading

Seorang rekan saya, Azvin, beberapa pekan lalu mengirimkan pertanyaan melalui Whatsapp. Ia bertanya, “Aku tiap nulis, terus aku baca lagi kok jadi malu ya?” Dengan sok tahu saya hanya membalas, “Lha koe (Lha kamu) nulisnya jujur enggak? Kalau jujur masak malu.” Balasannya memang singkat tapi membuat saya berpikir panjang kenapa menggunakan istilah tulisan jujur. Padahal …

Continue reading

Ada satu komentar Robin Hartanto di Konteks yang menarik bagi saya. Robin saat itu mengomentari tulisan Adi yang bercerita mengenai prosesnya merancang sebuah masjid. Bagi Adi pengalaman merancang masjid tersebut amat personal dan berkesan.   Dalam artikel tersebut Robin berkomentar sederhana, “Jarang ada kesempatan bisa mengetahui cerita dapur sebuah proyek perancangan, apalagi diceritakan langsung oleh “chef”-nya …

Continue reading

Adi berdiri di pojok ruangan. Tak ada yang istimewa pada dirinya malam itu. Kaos T polos, sepatu tipe selop, dan tas rajut berwarna coklat. Setelah sekitar tiga puluh menit menunggu giliran bicara, ia mengemukakan pengalaman menulisnya.   “Waktu itu saya diminta mendesain Masjid, saya ini non-Muslim, maka saya berusaha meraba-raba seperti halnya saya mencoba memahami …

Continue reading

Saat pulang ke rumah, saya kerap mampir di warung makan bernama “Bakso Ojo Lali”. Letaknya sekitar satu setengah kilometer dari rumah. Setelah perjalanan panjang dari kantor saya biasa beristirahat dulu di sana, agar saat sampai rumah bisa langsung terlelap.   Baksonya terasa gurih. Mungkin karena jumlah dagingnya yang banyak, tak seperti kebanyakan bakso lain yang …

Continue reading