Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Kalau enggak banyak asap rokok, Anio bisa ikut malam ini,” ujar Marcel Thee sebelum memainkan ‘Fatamorgana’.

 

Ucapan itu Marcel lontarkan ketika ia bersama Sajama Cut melakukan konser perayaan album terbarunya, Hobgoblin, di 365 Eco Bar Kemang pada Kamis (17/9) lalu.

 

Marcel kemudian mengulurkan dua telapak tangannya ke depan. Ia menggunakannya untuk mengasosiasikan dua hal. Pertama, ia secara berkelakar mengatakan “yang haram-haram”. Itu adalah kelakarnya untuk merujuk pada suasana konser yang tak ramah bagi Anio, anaknya, karena asap rokok dan minuman yang ada. Telapak tangan kedua merujuk ke anaknya. “Jadi enggak cocok ini keduanya,” tukasnya bersikap sebagai seorang ayah.

Continue reading

“Anakku belum sampai rumah,” kata perempuan itu kepada rekan kerja di sampingnya.

 

Perempuan itu, berusia sekitar 35 tahun, melayani saya saat hendak membeli penyimpan data untuk komputer. Ia memberi tahu harga-harga produk yang saya taksir. Di tengah aktivitasnya, panggilan telepon masuk. Setelah berbincang melalui telepon selulernya, seketika wajahnya berubah. Bicaranya terbata. Rambutnya ia sibak berulang kali. Ia cemas.

Continue reading

“Nek siji kui mbok rusak, yo ibu ra entuk untung le (Kalau satu barang kamu rusak, ya ibu enggak dapat untung sama sekali),” kata ibu saat saya kecil dulu. Ketika itu saya sedang marah pada ibu karena sebuah hal. Saya lupa kenapa saya marah, tapi saya ingat cara saya mengekspresikan kemarahan.

 

Saat itu saya merusak barang dagangan ibu, sebuah tempat uang. Tempat uang adalah sebutan untuk hasil kerajinan yang biasa dipakai sebagai wadah sumbangan (amplop) dalam pernikahan. Biasanya wadah ini ditaruh di dekat buku tamu saat upacara pernikahan. Ibu saya memproduksi tempat uang itu.

Continue reading

“Bapak belajar Bahasa Inggris dulu, biar kalau ngomong bisa cas cis cus,” celoteh Pak Riza, guru SMA saya, di depan kelas. Ucapan itu sering saya dengar sekitar sepuluh tahun lalu. Ia biasanya akan meminta tolong murid yang lancar berbahasa Inggris setelah mengucapkan kalimat itu. Murid yang sering ia datangi seingat saya bernama Sonia.

 

Saya tak tahu apa tujuan Pak Riza belajar Bahasa Inggris. Mungkin untuk ujian pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau kenaikan pangkat. Ia biasanya belajar kapan dan di mana saja. Saat istirahat, ketika menggantikan guru yang tak hadir di kelas, dan dalam beberapa kesempatan lainnya. Misalnya ketika mengganti guru yang tidak masuk, ia akan belajar Bahasa Inggris sambil menemani murid-murid mengerjakan tugas.

Continue reading

seleksi-pimpinan-kpk

 

Saya mencoba mengingat kejadian tiga tahun lalu. Saat itu saya berjalan ke ruang guru setelah selesai mengajar. Baru beberapa langkah keluar kelas, kepala sekolah memanggil. Kulit keningnya berlipat, tatapan matanya takut. “Ada wartawan Pak,” katanya singkat.

 

Dua orang terlihat di ruang kepala sekolah. Satu orang berbadan sangat besar. Berat badannya mungkin lebih dari satu kuintal. Ia tampak semakin gemuk dengan tinggi badan yang minim. Satunya lagi berkulit gelap. Terlihat lebih legam dengan jaket kulit berwarna gelap yang ia kenakan. Saya menghampirinya.

Continue reading

Setengah buku dan satu porsi makan besar sudah saya habiskan saat menunggu seorang mahasiswi malam itu. Jarum pendek di jam tangan saya menunjuk angka 10, pelayan restoran mulai merapikan bangku, sayangnya mahasiswi itu belum juga datang. Baru sekitar sepuluh menit kemudian ia hadir dengan terburu-buru.

 

Ia menggenggam botol air mineral ukuran sedang. Wajahnya letih hasil berjibaku dengan kerasnya jalanan ibukota. Setelah saya persilakan duduk ia mengenalkan dirinya. “Maaf telat Mas, saya Fatimah,” katanya sambil mengulurkan tangan. Karena pusat perbelanjaan tempat kami bertemu akan tutup, saya mengajaknya ke kedai Suwe Ora Jamu di daerah Petogogan, Kebayoran Baru.

Continue reading

Viriya dalam pementasan Kebun Ceri garapan Teater Katak. Foto: Dok. Teater Katak.

Viriya dalam pementasan Kebun Ceri garapan Teater Katak. Foto: Dok. Teater Katak.

 

“Mau jeda dulu aja,” ujar Viriya singkat. Ia mengucapkan itu ketika rekan kami, Ardyan, bertanya mengenai kesibukannya. Saat itu kami bertiga bertemu di Goethe Institut pasca pemutaran kompilasi Film, Musik, Makan, pada Maret 2015 lalu.

 

Viriya memang baru saja mengundurkan diri sebagai wartawan di Geo Times. Dalam catatan di blog ia menceritakan dengan manis alasannya. Saya kutip sedikit bagian yang paling saya sukai dalam tulisan itu, “Selama beberapa bulan terakhir, saya merasa buntu. Saban hari, rasanya hanya repetisi…Konsekuensinya, saya kehilangan sebagian besar waktu untuk pemenuhan diri.”

Continue reading

Sekitar dua bulan lalu kakak membelikan ibu telepon pintar. Telepon yang kakak saya berikan adalah sebuah android tipe sederhana. Sebelumnya ibu memakai telepon selular tipe lama yang hanya bisa menelepon dan mengirim pesan. Bukan tanpa alasan kakak membelikan ibu telepon selular, telepon lamanya memang sudah diperban sana-sini.

 

Tak ayal telepon selular dari kakak membuat ibu tak lagi memusingkan kondisi alat komunikasinya. Sayangnya ibu sama sekali tak bisa menggunakan telepon pintar. Ia tak terbiasa dengan layar sentuh dan tak mengenal konsep aplikasi. Maka, ia meminta saya mengajari mengoperasikan telepon pintarnya.

Continue reading

tiket-blur-konser-jakarta-indonesia

 

Saya selalu ingat perkenalan dengan Blur. Bukan lewat review atau acara musik, melainkan sebuah game komputer. Adalah FIFA 98 rilisan EA Sports yang menjadikan salah satu lagu Blur paling anthemic, “Song 2”, sebagai soundtracknya.

 

Wajar rasanya jika lagu tersebut dijadikan lagu tema. Aura semangat dan melodi yang menghentak adalah salah dua alasan masuk akal untuk menjadikannya lagu tema game olahraga.

Continue reading

Sekitar sebulan lalu, Dimas Ario mencolek saya di twitter. Ia mengajak makan siang bersama Dito Yuwono. Saya mengiakan ajakannya, alasannya sederhana, sudah lama tidak bertemu mereka berdua. Terakhir kali bertemu bersama sekitar tiga tahun lalu. Saat itu Dito menggelar pameran di salah satu galeri kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Tiga puluh menit setelah colekannya, kami bertiga bertemu di restoran Cina dalam sebuah pusat perbelanjaan kawasan Senayan.

 

Dimas mengenakan kemeja flanel biru dengan perawakan lebih rapi dari terakhir kali kami bertemu. Selain tambah rapi, ia juga tampak lebih subur. Dito memakai kaos T putih sederhana, senyumnya masih sehangat dulu. Sambil melahap makan siang kami bertiga mengobrol banyak hal.

Continue reading