Sidekick

Urip mung mampir ngejus

seleksi-pimpinan-kpk

 

Saya mencoba mengingat kejadian tiga tahun lalu. Saat itu saya berjalan ke ruang guru setelah selesai mengajar. Baru beberapa langkah keluar kelas, kepala sekolah memanggil. Kulit keningnya berlipat, tatapan matanya takut. “Ada wartawan Pak,” katanya singkat.

 

Dua orang terlihat di ruang kepala sekolah. Satu orang berbadan sangat besar. Berat badannya mungkin lebih dari satu kuintal. Ia tampak semakin gemuk dengan tinggi badan yang minim. Satunya lagi berkulit gelap. Terlihat lebih legam dengan jaket kulit berwarna gelap yang ia kenakan. Saya menghampirinya.

Continue reading

Setengah buku dan satu porsi makan besar sudah saya habiskan saat menunggu seorang mahasiswi malam itu. Jarum pendek di jam tangan saya menunjuk angka 10, pelayan restoran mulai merapikan bangku, sayangnya mahasiswi itu belum juga datang. Baru sekitar sepuluh menit kemudian ia hadir dengan terburu-buru.

 

Ia menggenggam botol air mineral ukuran sedang. Wajahnya letih hasil berjibaku dengan kerasnya jalanan ibukota. Setelah saya persilakan duduk ia mengenalkan dirinya. “Maaf telat Mas, saya Fatimah,” katanya sambil mengulurkan tangan. Karena pusat perbelanjaan tempat kami bertemu akan tutup, saya mengajaknya ke kedai Suwe Ora Jamu di daerah Petogogan, Kebayoran Baru.

Continue reading

Viriya dalam pementasan Kebun Ceri garapan Teater Katak. Foto: Dok. Teater Katak.

Viriya dalam pementasan Kebun Ceri garapan Teater Katak. Foto: Dok. Teater Katak.

 

“Mau jeda dulu aja,” ujar Viriya singkat. Ia mengucapkan itu ketika rekan kami, Ardyan, bertanya mengenai kesibukannya. Saat itu kami bertiga bertemu di Goethe Institut pasca pemutaran kompilasi Film, Musik, Makan, pada Maret 2015 lalu.

 

Viriya memang baru saja mengundurkan diri sebagai wartawan di Geo Times. Dalam catatan di blog ia menceritakan dengan manis alasannya. Saya kutip sedikit bagian yang paling saya sukai dalam tulisan itu, “Selama beberapa bulan terakhir, saya merasa buntu. Saban hari, rasanya hanya repetisi…Konsekuensinya, saya kehilangan sebagian besar waktu untuk pemenuhan diri.”

Continue reading

Sekitar dua bulan lalu kakak membelikan ibu telepon pintar. Telepon yang kakak saya berikan adalah sebuah android tipe sederhana. Sebelumnya ibu memakai telepon selular tipe lama yang hanya bisa menelepon dan mengirim pesan. Bukan tanpa alasan kakak membelikan ibu telepon selular, telepon lamanya memang sudah diperban sana-sini.

 

Tak ayal telepon selular dari kakak membuat ibu tak lagi memusingkan kondisi alat komunikasinya. Sayangnya ibu sama sekali tak bisa menggunakan telepon pintar. Ia tak terbiasa dengan layar sentuh dan tak mengenal konsep aplikasi. Maka, ia meminta saya mengajari mengoperasikan telepon pintarnya.

Continue reading

tiket-blur-konser-jakarta-indonesia

 

Saya selalu ingat perkenalan dengan Blur. Bukan lewat review atau acara musik, melainkan sebuah game komputer. Adalah FIFA 98 rilisan EA Sports yang menjadikan salah satu lagu Blur paling anthemic, “Song 2”, sebagai soundtracknya.

 

Wajar rasanya jika lagu tersebut dijadikan lagu tema. Aura semangat dan melodi yang menghentak adalah salah dua alasan masuk akal untuk menjadikannya lagu tema game olahraga.

Continue reading

Sekitar sebulan lalu, Dimas Ario mencolek saya di twitter. Ia mengajak makan siang bersama Dito Yuwono. Saya mengiakan ajakannya, alasannya sederhana, sudah lama tidak bertemu mereka berdua. Terakhir kali bertemu bersama sekitar tiga tahun lalu. Saat itu Dito menggelar pameran di salah satu galeri kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Tiga puluh menit setelah colekannya, kami bertiga bertemu di restoran Cina dalam sebuah pusat perbelanjaan kawasan Senayan.

 

Dimas mengenakan kemeja flanel biru dengan perawakan lebih rapi dari terakhir kali kami bertemu. Selain tambah rapi, ia juga tampak lebih subur. Dito memakai kaos T putih sederhana, senyumnya masih sehangat dulu. Sambil melahap makan siang kami bertiga mengobrol banyak hal.

Continue reading

 

Berjalan perlahan menuju panggung, perempuan itu membawa sebuah cangkir. Warna putih cangkirnya kontras dengan baju hitam yang ia kenakan. Cardigan bernuansa coklat membalut kedua lengannya. Suara yang pertama terdengar dari panggung adalah bunyi cangkir bertemu meja di samping kiri pianonya. Beberapa detik setelah duduk ia mengenalkan diri dan piano kesayangannya, “Saya Lani, ini Oskar piano saya, kami Frau.”

 

Continue reading

Postingan Mbak Ade Kumalasari mengenai buku yang sudah ia baca selama tahun 2014.

Postingan Mbak Ade Kumalasari mengenai buku yang sudah ia baca selama tahun 2014.

 

Mbak Ade Kumalasari membuat postingan menarik di hari pertama tahun 2015. Ia tidak menulis soal refleksi tahunan, pun resolusi. Yang ia tulis sebuah list sederhana. Tepatnya ada 32 item dalam listnya. List itu ia beri judul, “Buku Yang Kubaca 2014”.

 

Bagi saya postingan itu menarik karena dua hal. Pertama, saya menyukai list bukunya. Ya kamu benar, saya menilai orang dari bacaannya. Kedua, ini yang lebih penting, bagi saya Mbak Ade punya konsep jelas tentang kegiatan membaca.

Continue reading

Asri terlihat lebih gelap dari terakhir kali kami bertemu. Ia menggunakan baju terusan kombinasi putih biru yang lembut. Pasangannya, Dhika, dan tiga orang rekan lainnya menemani Asri ketika hendak menemui saya di kawasan Senayan. Ia telat beberapa menit dari jam bertemu yang kami sepakati. “Jakarta makin macet,” katanya singkat.

 

Malam itu kami bertemu sekadar untuk bertegur sapa setelah lama tak berjumpa. Sekitar dua tahun lalu saya pernah mendokumentasikan kegiatan Asri di Muara Enim, Sumatera Selatan saat ia menjadi guru. Paska mendokumentasikannya, saya sempat beberapa kali bertemu dengannya di ibukota. Selanjutnya ia menjadi selayak mitos. Yang sering terdengar namun tak pernah terlihat.

 

Continue reading

buku-na-willa-reda-gaudiamo-ardi-wilda

Seorang rekan saya, Azvin, beberapa pekan lalu mengirimkan pertanyaan melalui Whatsapp. Ia bertanya, “Aku tiap nulis, terus aku baca lagi kok jadi malu ya?” Dengan sok tahu saya hanya membalas, “Lha koe (Lha kamu) nulisnya jujur enggak? Kalau jujur masak malu.” Balasannya memang singkat tapi membuat saya berpikir panjang kenapa menggunakan istilah tulisan jujur. Padahal parameter jujur dalam tulisan rasanya sulit diukur.

 

Pikiran tersebut terus terbawa sampai beberapa hari ke belakang. Saya mencoba membuka kembali buku-buku di kamar, membacanya dan menemukan rasanya tidak mungkin ada sebuah buku yang jujur menceritakan banyak hal secara sederhana. Tak berhasil menemukan jawaban, saya memilih untuk memendam pertanyaan tersebut.

Continue reading