Sidekick

Urip mung mampir ngejus

tiket-blur-konser-jakarta-indonesia

 

Saya selalu ingat perkenalan dengan Blur. Bukan lewat review atau acara musik, melainkan sebuah game komputer. Adalah FIFA 98 rilisan EA Sports yang menjadikan salah satu lagu Blur paling anthemic, “Song 2”, sebagai soundtracknya.

 

Wajar rasanya jika lagu tersebut dijadikan lagu tema. Aura semangat dan melodi yang menghentak adalah salah dua alasan masuk akal untuk menjadikannya lagu tema game olahraga.

Continue reading

Advertisements

Sekitar sebulan lalu, Dimas Ario mencolek saya di twitter. Ia mengajak makan siang bersama Dito Yuwono. Saya mengiakan ajakannya, alasannya sederhana, sudah lama tidak bertemu mereka berdua. Terakhir kali bertemu bersama sekitar tiga tahun lalu. Saat itu Dito menggelar pameran di salah satu galeri kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Tiga puluh menit setelah colekannya, kami bertiga bertemu di restoran Cina dalam sebuah pusat perbelanjaan kawasan Senayan.

 

Dimas mengenakan kemeja flanel biru dengan perawakan lebih rapi dari terakhir kali kami bertemu. Selain tambah rapi, ia juga tampak lebih subur. Dito memakai kaos T putih sederhana, senyumnya masih sehangat dulu. Sambil melahap makan siang kami bertiga mengobrol banyak hal.

Continue reading

 

Berjalan perlahan menuju panggung, perempuan itu membawa sebuah cangkir. Warna putih cangkirnya kontras dengan baju hitam yang ia kenakan. Cardigan bernuansa coklat membalut kedua lengannya. Suara yang pertama terdengar dari panggung adalah bunyi cangkir bertemu meja di samping kiri pianonya. Beberapa detik setelah duduk ia mengenalkan diri dan piano kesayangannya, “Saya Lani, ini Oskar piano saya, kami Frau.”

 

Continue reading

Postingan Mbak Ade Kumalasari mengenai buku yang sudah ia baca selama tahun 2014.

Postingan Mbak Ade Kumalasari mengenai buku yang sudah ia baca selama tahun 2014.

 

Mbak Ade Kumalasari membuat postingan menarik di hari pertama tahun 2015. Ia tidak menulis soal refleksi tahunan, pun resolusi. Yang ia tulis sebuah list sederhana. Tepatnya ada 32 item dalam listnya. List itu ia beri judul, “Buku Yang Kubaca 2014”.

 

Bagi saya postingan itu menarik karena dua hal. Pertama, saya menyukai list bukunya. Ya kamu benar, saya menilai orang dari bacaannya. Kedua, ini yang lebih penting, bagi saya Mbak Ade punya konsep jelas tentang kegiatan membaca.

Continue reading

Asri terlihat lebih gelap dari terakhir kali kami bertemu. Ia menggunakan baju terusan kombinasi putih biru yang lembut. Pasangannya, Dhika, dan tiga orang rekan lainnya menemani Asri ketika hendak menemui saya di kawasan Senayan. Ia telat beberapa menit dari jam bertemu yang kami sepakati. “Jakarta makin macet,” katanya singkat.

 

Malam itu kami bertemu sekadar untuk bertegur sapa setelah lama tak berjumpa. Sekitar dua tahun lalu saya pernah mendokumentasikan kegiatan Asri di Muara Enim, Sumatera Selatan saat ia menjadi guru. Paska mendokumentasikannya, saya sempat beberapa kali bertemu dengannya di ibukota. Selanjutnya ia menjadi selayak mitos. Yang sering terdengar namun tak pernah terlihat.

 

Continue reading

buku-na-willa-reda-gaudiamo-ardi-wilda

Seorang rekan saya, Azvin, beberapa pekan lalu mengirimkan pertanyaan melalui Whatsapp. Ia bertanya, “Aku tiap nulis, terus aku baca lagi kok jadi malu ya?” Dengan sok tahu saya hanya membalas, “Lha koe (Lha kamu) nulisnya jujur enggak? Kalau jujur masak malu.” Balasannya memang singkat tapi membuat saya berpikir panjang kenapa menggunakan istilah tulisan jujur. Padahal parameter jujur dalam tulisan rasanya sulit diukur.

 

Pikiran tersebut terus terbawa sampai beberapa hari ke belakang. Saya mencoba membuka kembali buku-buku di kamar, membacanya dan menemukan rasanya tidak mungkin ada sebuah buku yang jujur menceritakan banyak hal secara sederhana. Tak berhasil menemukan jawaban, saya memilih untuk memendam pertanyaan tersebut.

Continue reading

Ada satu komentar Robin Hartanto di Konteks yang menarik bagi saya. Robin saat itu mengomentari tulisan Adi yang bercerita mengenai prosesnya merancang sebuah masjid. Bagi Adi pengalaman merancang masjid tersebut amat personal dan berkesan.

 

Dalam artikel tersebut Robin berkomentar sederhana, “Jarang ada kesempatan bisa mengetahui cerita dapur sebuah proyek perancangan, apalagi diceritakan langsung oleh “chef”-nya sendiri. Biasanya kita hanya disajikan hasil jadinya. Itu sebabnya saya suka sekali dengan tulisan Ign Susiadi Wibowo.”

Continue reading

Adi berdiri di pojok ruangan. Tak ada yang istimewa pada dirinya malam itu. Kaos T polos, sepatu tipe selop, dan tas rajut berwarna coklat. Setelah sekitar tiga puluh menit menunggu giliran bicara, ia mengemukakan pengalaman menulisnya.

 

“Waktu itu saya diminta mendesain Masjid, saya ini non-Muslim, maka saya berusaha meraba-raba seperti halnya saya mencoba memahami kursus ini,” ujarnya. Mendengar pendapat Adi, Mas Andreas Harsono salah satu mentor Kursus Menulis Narasi memintanya untuk menuliskan pengalaman itu. Mas Andreas mengutip epos Silaban dengan Istiqlal-nya. Adi membalas dengan mengatakan bahwa ia pernah menuliskannya di konteks.org.

Continue reading

Saat pulang ke rumah, saya kerap mampir di warung makan bernama “Bakso Ojo Lali”. Letaknya sekitar satu setengah kilometer dari rumah. Setelah perjalanan panjang dari kantor saya biasa beristirahat dulu di sana, agar saat sampai rumah bisa langsung terlelap.

 

Baksonya terasa gurih. Mungkin karena jumlah dagingnya yang banyak, tak seperti kebanyakan bakso lain yang lebih banyak adonan tepungnya. Pedas sambalnya juga pas. Tak ketinggalan kerupuk putih ala warung tegal yang akan berbunyi “nyes” ketika dicelupkan ke kuah bakso. Secara rasa bakso ini lezat, namun bukan itu alasan utama saya ke sering ke sana.

Continue reading

Ada satu bagian Novel Kubah karangan Ahmad Tohari yang selalu saya ingat. Bagian itu menceritakan apa yang kerap Margo ceritakan pada Karman mengenai perjuangan partai. Margo, seorang pengurus partai beraliran kiri, selalu mengulang-ulang kisah Kinah yang bayinya hampir mati di sawah.

 

Alkisah Kinah, seorang janda miskin di desa itu, membawa bayinya saat hendak memanen sawah garapan juragan di desa. Saat asyik menggunakan ani-aninya sang bayi diserang oleh semut merah. Beberapa semut masuk ke lubang-lubang di tubuhnya. Hidung, telinga, sampai alat kelaminnya. Badan sang bayi memerah. Ia hampir mati.

Continue reading