Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Dalam perjalanan menuju sebuah stasiun televisi swasta tiba-tiba Wahyu ‘Acum’ Nugroho (vokalis Bangkutaman) mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Dyk, lo harus dengerin ini, musiknya  edan banget,” tutur Acum sambil menyodorkan sebuah CD pada Dedyk, drummer Bangkutaman.

 

Sambil menyetir, Dedyk memasukkan CD tersebut ke pemutar CD dalam mobilnya. “Anjing lo Cum, grup apaan nih? Dahsyat, grup jadul ye?” tanya Dedyk spontan saat mendengar intro lagu pertama CD tersebut. “Haha, mantep kan, ini grup tahun 70-an namanya Christmas Camel and Company, baru ngeluarin album sekarang, gila kan tuh,” kata Acum sambil terkekeh.

 

Itu pertama kalinya saya mengenal nama Christmas Camel and Company. Saya catat nama itu dalam telepon selular agar mudah menemukannya di situs pencari sekaligus membeli albumnya. Beberapa hari setelah itu saya telah mendapatkan CD Christmas Camel and Company. Saya kemudian memutuskan untuk melacak dan menemukan para personil grup asal Jogja ini.

 

Christmas Camel and Company adalah sebuah proyek kolaborasi yang melibatkan beberapa pihak. Cikal bakal proyek ini berawal dari sebuah grup band bernama Christmas Camel, yang dibentuk tahun 1975 di Jogja.

 

Formasi awal band ini adalah Herry, Oni, Niti dan Koko. “Oni dan Niti kemudian menemukan tempat yang lebih cocok dan nyaman dalam berkreasi di bidang musik, maka Kongko dari Gadjah Mada Band (Gama Band) dan Rudy adik kandung saya bergabung  untuk meneruskan Christmas Camel,” tulis Herry yang berhasil saya hubungi via email.

 

Dengan pergantian personil tersebut maka jadilah Christmas Camel dengan formasi lengkap Herry (drum), Koko (bass), Rudy (keyboard) dan Kongko (gitar). “Kita pernah mengajak kawan bernama Hengky dan Harmain untuk menjadi lead vocal namun ujung-ujungnya tetap berempat dan Christmas Camel enggak punya vokalis utama, kita berempat aja yang nyanyi akhirnya,” lanjut Herry dalam surat elektroniknya pada saya itu.

 

Di masa awal dengan formasi baru ini, Christmas Camel masih memainkan lagu-lagu band rock yang saat itu sedang populer. “Lama kelamaan kami nyoba memainkan lagu-lagu tersebut dengan aransemen kita sendiri. Misalnya, kita mainin lagunya Small Faces atau Rolling Stones dengan aransemen kami sendiri. Semakin sering manggung, semakin sering juga kita spontan dalam menyajikan lagu-lagu tersebut dengan aransemen kita,” kata Herry.

 

Meski hanya membawakan lagu-lagu dari band rock yang sedang populer, Kongko mengaku itu merupakan fase penting dalam perjalanan kreatif Christmas Camel.

 

“Satu setengah tahun pertama di Christmas Camel banyak pengalaman yang saya peroleh, terutama dalam mengenali ragam grup-grup musik dunia,” tulisnya juga dalam surat elektroniknya itu. Kongko jugalah yang pada akhirnya menjadi sosok sentral dalam membawa Christmas Camel bertranformasi menjadi Christmas Camel and Company nantinya.

 

Meski membawakan lagu milik band luar yang sedang populer, mereka tak sekedar mengikuti selera masyarakat umum. Rudy menceritakan hal ini saat saya temui di kediamannya di kawasan bagian Utara Yogyakarta. “Saat manggung kami milih-milih lagu juga, kebanyakan penonton bingung waktu kita bawain YES, Queen, Kansas, dan Trapeze. Kami emang cenderung ke art rock, bukan sekedar rock tiga chord, kami ingin kalau diibaratin aliran sungai  enggak sekedar ngikut aja, justru kami jadi semacam tiang di sungai itu, jadi orang merhatiin kita dengan lagu-lagu yang kita bawain, walau kadang penontonnya jadi bingung,” kenang Rudy sambil tertawa.

 

Pilihan bermusik Christmas Camel memang berbeda di jamannya. Dari namanya pun band ini ingin menjelaskan sikap bermusiknya yang berbeda dari kompatriot-kompatriotnya. “Christmas Camel” adalah sebuah judul lagu dari Procol Harum.

 

“Buat saya lagu itu melampaui jamannya, mengingat album itu terbit tahun 60-an. Kalau misal kita make nama “Highway Star” atau “Machine Head” orang langsung tau itu lagunya Deep Purple karena emang mereka kan lagi ngetop banget tahun 70-an. Nah dengan memakai nama dari lagunya Procol Harum diharapkan muncul image kalau Christmas Camel bukan sekedar grup Hard Rock atau Rock and Roll biasa, tapi memunculkan imagekita mainin rock yang sedikit sophisticated,” jelas Herry.

 

Perbedaan Christmas Camel dengan band sezamannya tak berhenti di situ. Kala itu mereka dikenal sebagai band rock yang kalem. “Kalau dulu kan ada dua tipe band lah istilahnya, band panggung dan band rekaman. Kami ini bisa dibilang masuk ke band panggung, karena emang tampil dari panggung ke panggung. Nah dulu tuh band panggung biasanya cirinya menampilkan showmanship yang gila-gilaan. Grup Bentoel dari Malang, juga AKA atau Terncem dari Solo kalau pentas tuh gila-gilaan. Ada yang bawa peti mati, gigit kelelawar kayak Ozzy Osbourne, pokoknya macem-macem yang teatrikal lah. Kalau kita saat tampil ya biasa aja, enggak pake aksi teatrikal semacam itu,” tutur Rudy.

 

Mereka menyadari bahwa materi musik Christmas Camel tak cocok untuk dipasangkan dengan aksi teatrikal semacam itu. Meski begitu prestasi Christmas Camel tak sekalem penampilan mereka di panggung. “Kita beruntung banget bisa main di November Rock Concert 1976 di Semarang dengan beberapa band rock papan atas kala itu seperti Giant Step, Hooker Man, Ogle Eyes, CC Blue, Fannys, Dragon dan Yeah Yeah Boys,” ungkap Herry. Dari kliping flyer yang dikirimkannya pada saya saya lantas mengetahui bahwa November Rock Concert adalah semacam sebuah pergelaran rock besar di GOR Jawa Tengah dengan tagline, “8 Grup Rock dari enam kota besar”.

 

Lahirnya Christmas Camel and Company

 

Setelah kerap membawakan lagu milik band lain, akhirnya Christmas Camel melakukan lompatan besar. Sepanjang satu setengah tahun Christmas Camel mencoba menggali potensi diri maupun musisi atau penyanyi di luar mereka untuk bekerjasama, lahirlah apa yang dinamakan dengan Christmas Camel and Company. Kongko mengajak Bambang Ciptadi (almarhum) yang merupakan rekan satu bandnya di Gadjah Mada (Gama) Band, yang sesuai namanya merupakan band bentukan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

 

Christmas Camel and Company kemudian tidak hanya menghadirkan Bambang Ciptadi dalam proyek musik mereka. Juga ada Camatha Vocal Group (yang pernah menyabet juara 1 Festival Vocal Group se DIY) dan Nano Tirta yang kemudian menjadi konduktor dalam Christmas Camel and Company. Nano menjadi sosok penting dalam pengembangan kreatifitas Christmas Camel and Company.

 

Reinkarnasi grup Christmas Camel dengan atribut Company di belakangnya menghasilkan inovasi yang melampaui zamannya. Sebuah pementasan bernama Ramadhan in Rockmereka gelar di UGM pada 29 Agustus 1977.  Pementasan itu adalah momentum memadukan musik rock dengan sebuah orkestra komplit yang sangat eksperimental.

 

Acara itu merupakan realisasi pentas bersama para musisi dan penyanyi di Yogyakarta dalam koordinasi Christmas Camel and Company. Kolaborasi dalam Ramadhan in Rockmemerlukan proses latihan yang memakan waktu sampai dua bulan. Kongko meminta Nano Tirta untuk membuat partitur sekaligus menjadi konduktor untuk konser tersebut.

 

Lagu-lagu karya Christmas Camel and Company dibawakan, mulai dari “Sebuah Pertanyaan”, “Rumah Mewah Pondok Tua”, “Tabah” dan “Ramadhan in Rock”. Di luar dugaan mereka, sambutan penonton meriah, agaknya karena terkejut senang dengan penampilan bersama penyanyi dan musisi Yogyakarta yang tidak biasa itu.

 

“Majalah Aktuil pada edisi November 1977 bahkan menulis kalau format live seperti itu baru pertama kali terjadi di Indonesia. Sebab yang lain baru sampai tahap mengikutsertakan pemain alat musik tiup dan gesek, sedangkan Christmas Camel and Company betul-betul aransemen orkestra,” Kongko bercerita pada saya mengenai pementasan 33 tahun lalu itu.

 

Pementasan itu mengibarkan nama Christmas Camel and Company. “Ibaratnya kalau di Jakarta kan grup rocknya ada Godbless, Bandung punya Giant Step, Malang ada Bentoel terus Solo ada Terncem, nah kalau Jogja ya punya Christmas Camel and Company lah,” tutur Rudy.

 

Ucapan Rudy bukan tanpa alasan. Theodore KS dalam sebuah tulisannya di Kompas edisi Februari 2005 pernah menulis mengenai hingar bingar musik rock 70-an. Ia menyebut Christmas Camel and Company sebagai salah satu grup pencatat sejarah ketika itu. Theodore KS menulis, “Grup ini (Christmas Camel and Company) cukup digemari di Jawa Tengah serta menjadi grup papan atas Yogyakarta bersama Ambisi dan Machine Head.”

(bersambung ke bagian 2)

 

***

Artikel ini dimuat di Jakartabeat pada 2 November 2010.
Advertisements