Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Christmas Camel and Company tak hanya spesial karena musik mereka yang sophisticated atau karena kolaborasi mereka dengan full orkestra yang luar biasa. Christmas Camel juga menjadi spesial karena lirik lagunya yang penuh kritik sosial. Melihat konteks sosio-historis Christmas Camel and Company yang aktif di masa 1970-an saat taring Orde Baru masih tajam mengancam, kritik sosial oleh sebuah band adalah sebuah keberanian yang tidak biasa.

 

Kritik Sosial Lewat Lirik

 

Selain bercerita soal kehidupan kampus, lagu-lagu Christmas Camel and Company memang lekat dengan tema permasalahan sosial. Lirik lagu “Rumah Mewah dan Pondok Tua” membandingkan kehidupan keluarga kaya dengan keluarga papa. Keluarga kaya dideskripsikan dengan, “Mencari harta dengan segala cara, tapi bukan keringatnya”. Sementara itu keluarga papa dijelaskan dengan lirik, “Mencari makan dengan cara yang halal, apa daya serba tiada”.

 

Tak hanya itu, di lagu “Lukisan Bangsaku” mereka menulis, “Si miskin dan si kaya, terlihat begitu nyata. Haruskah ini ada, di tanah tercinta”.

 

Christmas Camel juga menyoroti masalah kerusakan alam dalam lagu “Keseimbangan”: “Hati-hati mengolah alam, ingatlah keseimbangan”. Lagu ini lebih maju dari zamannya mengingat konteks bahwa permasalahan konservasi belum populer saat itu. Efek boomingekonomi Indonesia karena minyak baru terjadi di tahun 1980-an, dan setelahnya soal-soal konservasi alam baru ramai dibicarakan. Jelas bahwa band ini melampaui zamannya tidak hanya karena musiknya, tetapi juga karena wacana yang mereka lemparkan.

 

Saya tanyakan perihal hal ini pada Rudy. Ia hanya tersenyum simpul. “Ya kita emang bicara jujur aja, keadaan waktu itu kan emang seperti itu. Bukan untuk protes juga sebenarnya, jadi enggak perlu takut juga, bukan kita memfitnah pemerintah. Ya kalau dipikir-pikir dulu belum ada Iwan Fals yang vokal bicara segala hal, Slank juga belum lahir,” papar Rudy yang saat SMA lebih kerap menggebuk drum ketimbang menekan tuts piano.

 

Soal ini, Herry memberi pendapat yang sedikit berlainan. “Rasanya bukan hanya Christmas Camel and Company yang bicara soal permasalahan sosial. Kalau disimak karya-karyanya Harry Roesli kan juga bicara banyak soal itu. Tapi mungkin ini juga karena pengaruh kita manusia kampus ya, jadi ada keinginan untuk “memotret” hal-hal seperti itu,” katanya.

 

Pernyataan Herry diamini oleh Kongko. Ia mencontohkan dengan menjelaskan bagaimana lagu “Rumah Mewah Pondok Tua’ tercipta. “Lagu ini muncul dari diskusi kawan-kawan adik saya tentang masalah sosial, kehidupan kampus dan kenyataan di lapangan yang berbeda. Kelihatannya diskusi itu muncul karena pengaruh program Kuliah Kerja Nyata,” ujar Kongko.

 

Pengaruh bangku kuliah pula yang membuat mereka menciptakan beberapa lagu yang sangat ‘anak kuliahan’. Misalnya, lagu “Sebuah Pertanyaan” yang seperti bicara tentang permasalahan twenty something yang kerap ditemui oleh mahasiswa, seputar pertanyaan mengenai apa yang harus dikerjakan setelah kuliah. Atau, lagu “Jam Weker” yang justru dengan lucu memotret transformasi penggunaan sepeda dengan jemputan colt saat menuju kampus.

 

Antara Musik dan Kuliah

 

Dualitas  status sebagai anak kampus sekaligus anak band membuat Christmas Camel and Company pada akhirnya terbentur pada persoalan klasik: memilih berkarier di dunia musik atau mengambil profesi yang sesuai dengan jurusannya masing-masing. Para mahasiswa UGM ini – Rudy dan Koko yang duduk di Fakultas Ekonomi, Herry di Hubungan Internasional, Kongko di Arsitektur, Nano sang konduktor di Fakultas Ekonomi UGM dan Bambang Ciptadi di Fakultas Teknik – pada akhirnya harus membuat keputusan besar untuk karier bermusik mereka.

 

“Jujur saja, saat itu musik belum bisa dijadikan pegangan untuk hidup. Kalau kita mau hidup dari musik pilihannya dua, total sekali dalam musik seperti Mas Yockie Suryoprayogo, tapi kita enggak bisa karena dasar kita bermusik kan hobi. Atau yang kedua sekalian mengeluarkan album yang ngikutin selera masyarakat. Panbers, The Mercys, The Lloyd misalnya kan sukses karena mereka membuat album rekaman yang sesuai sama selera masyarakat, tapi secara pribadi saya kurang sreg kalau harus main musik dengan genre seperti itu. Akhirnya ya udah kami mutusin untuk mending sekolah aja dulu, entar kalau udah sukses kita produserin sendiri lagu kita, jadi bener-bener puas hasilnya,” papar Rudy mengenai keputusannya untuk tidak menggantungkan hidupnya murni dari musik.

 

Tapi mereka memutuskan untuk mendokumentasikan Christmas Camel. Herry menjelaskan pada saya. “Terus terang, kami enggak pernah terpikir ke arah merilis album kala itu. Lagipula mana sempat kami mengirim demo rekaman door to door, kita udah keburu sibuk dengan yang baru kita mulai setelah kuliah. Tapi kami mikir saat itu kami harus mencatat apa yang telah kami lakukan. Kami merekam musik Christmas Camel and Company sebagai catatan atas apa yang telah kami capai,” katanya.

 

“Mau dirilis kapan, itu urusan belakangan lah,” tambah Rudy.

 

Setelah menyelesaikan studi, Christmas Camel vakum dari dunia musik. Mereka punya profesi masing-masing.  Meski dengan berat hati melepaskan atribut mereka sebagai duta rock dari kota pelajar, keputusan untuk mendokumentasikan musik Christmas Camel and Company itu mereka syukuri belakangan.

 

Proses pendokumentasian melalui rekaman tersebut dilaksanakan beberapa minggu setelah Ramadhan in Rock diadakan. Tiga lagu yang dibawakan di Ramadhan in Rock, ditambah dengan lima lagu baru, mereka rekam di Akademi Kataketik di kawasan Kotabaru Yogyakarta.

 

“Musik seperti yang dimainkan Christmas Camel and Company jelas menyulitkan saat rekaman. Teknologi rekaman dulu hanya dua track, jadi kalau salah bakal ngulang dari awal, dengan kerumitan musik yang kami hadirkan jelas jadi masalah kala itu. Tapi Alhamdulillah kesederhanaan teknologi tak menghalangi, justru dari kesederhanaan itu muncul ide-ide kreatif,” papar Rudy mengingat kejadian puluhan tahun lalu itu.

 

Setelah Dirilisnya Album

 

Bertahun-tahun kemudian album itu baru bisa beredar. Mereka tentu perlu berterimakasih pada Indonesian Progressive Society (IPS) yang merilis ulang dan mengedarkan album yang berusia lebih dari tiga puluh tahun itu.

 

Andy Julias dari IPS menceritakan pada saya bagaimana album itu mereka temukan kembali setelah puluhan tahun lamanya. “Aku pribadi udah kenal Christmas Camel and Company dari lama, tapi setahuku mereka belum rekaman, padahal bisa dbilang mereka ini local heroes-nya musik rock Jogja tahun 70-an dulu. Rencana buat ngerilis udah ada sih tapi pemicunya baru tahun lalu,” Andy berkisah pada saya melalui telepon.

 

“Tahun lalu ada rekan saya orang Italia, namanya Gian Lorenzo, yang terobsesi sama band-band Indonesia. Dia bilang dia lihat ada grup rock bagus yang ia lihat di Youtube, namanya Christmas Camel. Karena saya tahunya mereka belum rekaman, maka saya bingung, kok dia bisa lihat di Youtube, dari situ saya coba hubungin Pak Herry, Pak Herry bilang albumnya memang sudah diremaster sendiri sama Christmas Camel, tapi dari dulu belum pernah diedarkan,” ujarnya meneruskan.

 

Rencana merilis dan mengedarkan album Christmas Camel and Company mulai intensif dibicarakan. Andy yakin bahwa album itu harus disebarkan kepada khalayak luas karena musikalitasnya yang tinggi. “Lagipula band-band rock Jogja jaman dulu kayaknya jarang yang ngerilis album, kalau band pop mungkin udah ada ya, makanya semacam Christmas Camel harus dirilis, biar orang pada tau gimana musik rock di daerah Jogja waktu itu,” tambahnya.

 

IPS sendiri tidak berorientasi pada kegiatan merilis produk dari band-band lawas. Untuk Christmas Camel ceritanya menjadi lain. “Ini band emang udah lama, tapi mereka belum pernah kebagian untuk didengarkan orang banyak, ya ini saatnya buat mereka lah istilahnya,” jelas Andy yang juga berharap bahwa Christmas Camel and Company bisa manggung lagi.

 

Rudy mengaku sama sekali tak menyangka saat dihubungi bahwa album Christmas Camel and Company akan dirilis. “Tahun 2008 kita emang udah re-master rekaman kita sih, ya bersih-bersihin sedikit tanpa ngerubah musiknya sama sekali, tapi ya tujuannya re-mastering aja, enggak mengira kalau bakal ada yang tertarik merilis,” ujarnya.

 

Kabar baik datang tak hanya dari IPS. Sebuah label asal Kanada juga tertarik merilis album mereka. “Saya enggak tahu bagaimana label Kanada itu tahu tentang Christmas Camel, kemungkinan besar dari Youtube. Waktu itu saya hanya dikontak seseorang dari Bandung yang mengatakan bahwa sebuah label asal Kanada bernama Fading Sunshine Record ingin mengedarkan rekaman Christmas Camel and Company dalam format piringan hitam (vinyl). Draft kontrak sudah dikirim tapi ya lagi-lagi kesibukan kerjaan yang membuat hal itu belum terwujud,” kata Herry.

 

Diedarkannya album Christmas Camel and Company oleh IPS tentu merupakan berkah bagi publik musik di negeri ini. Rencana dirilisnya album itu dalam format vinyl tentu menjadi kabar baik bagi para penggemar vinyl.

 

Toh bukan dua hal itu yang paling membuat Rudy berbahagia. Dengan wajah yang serius ia mengatakan pada saya, “Diedarkannya album ini seperti menjawab doa kita, bahwa kita dulu milih fokus ke kuliah gak salah, kuliah akhirnya selesai, bisa dibilang sekarang juga udah pada jadi orang semua. Dan cita-cita merilis album sesuai dengan warna musik yang kita pinginin juga kejadian, walau dirilisnya baru tiga puluh tahun kemudian.”

 

Kini personil Christmas Camel and Company tak lagi bergulat di bidang musik. Koko sang bassis bahkan tidak berada di Indonesia. Ia menjalankan agribisnis di Flipina. Sementara Nano kini bekerja di bidang perbankan. Hanya Herry, Rudy, dan Kongko yang memiliki bisnis sampingan sedikit menyerempet dengan dunia musik. Kongko, selain sibuk dengan pekerjaan utamanya, juga menjalankan bisnis gitar batik. Itu merupakan bisnis mengkreasikan gitar yang dilukis dengan corak batik. Sementara, kakak beradik Herry dan Rudy sempat memproduseri album grup pop Jikustik pada album pertama dan kedua di bawah bendera Woodels Production.

 

Pengalamannya menjadi pemain band tiga puluh tahun lalu dan memproduseri band membuat Herry membandingkan kondisi industri musik dulu dengan sekarang.

 

“Dilihat dari industrinya, musik jelas lebih maju sekarang. Bahwa industri itu punya orientasi kepada profit dan jalur mainstream, ya memang sejak dulu. Namun bedanya dengan dulu, musisi sekarang yang berada di jalur non-mainstream tetap terbuka [peluang]bagi mereka memperkenalkan karyanya melalui jalur indie dengan akses pemasaran yang lumayan luas juga. Fans pun bisa mereka garap melalui komunitas. Pada perkembangannya banyak bisnis musik di jalur indie juga bisa menjadi besar ya. Kalau dulu hal seperti itu terbatas,” paparnya.

 

Saya kemudian usil bertanya apakah Christmas Camel and Company berniat naik panggung lagi. Rudy menjawab pertanyaan itu dengan sedikit bercanda, “Haha, jujur kalau niat sih pingin banget main lagi. Tapi susah banget nyocokin waktu dan lokasinya. Sekarang kan saya sibuk di Jogja, Mas Koko malah di Flipina dengan bisnis agribisnisnya, Mas Herry di Jakarta, terus Mas Kongko juga di Jakarta, kalau Mas Nano emang di Jogja tapi beliau kan sibuk juga. Susahlah mau main lagi,” jawabnya dengan wajah sumringah.

 

Tidak mau menyerah, saya teruskan bertanya bagaimana kalau ada pihak yang bersedia menyatukan mereka dan meminta mereka main lagi. “Lah ini masalahnya, si Koko itu kan abis kuliah enggak pernah main band lagi, dia pernah saya ajakin latihan waktu dia lagi di Indonesia, dia bilang singkat: Rud, gw lupa cara main bass gimana, Haha kan berabe kalau seperti itu,” ujar Rudy yang memicu tawa kami berdua.

 

Herry sendiri berharap suatu saat mereka bisa bermain kembali dalam sebuah pementasan. Namun ia mengaku sudah bersyukur dengan apa yang telah dicapai Christmas Camel and Company saat ini. “Secara pribadi saya bangga sudah menjadi bagian dari proses bermusik di Christmas Camel and Company. Bermain musik bersama Christmas Camel and Company lebih dari tiga puluh tahun yang lalu sampai beredarnya rekaman grup ini tahun 2010 sudah lebih dari harapan saya,” ujarnya.

 

***

Link ke tulisan Bagian 1
Artikel ini dimuat di Jakartabeat.net pada 2 November 2010
Advertisements