Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Minimal satu bulan sekali saya mengunjungi Gandaria City, sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Selatan. Saya berkunjung ke sana untuk belanja bulanan peralatan sehari-sehari di salah satu gerai waralaba. Alasan saya sederhana, karena tempat saya tinggal dekat dengan Gandaria City. Selain kunjungan rutin bulanan tersebut beberapa kali teman saya juga mengajak ke tempat tersebut, biasanya menemani berbelanja.

 

Frekuensi kunjungan yang lumayan tinggi tersebut membuat saya memperhatikan detail-detail di pusat perbelanjaan ini. Yang paling mencolok adalah saat ada hari-hari besar tertentu baik Lebaran, Natal, atau Imlek. Seluruh bagian pusat perbelanjaan tersebut akan berhias diri sesuai dengan hari besar tersebut.


Natal lalu, seorang teman bernama Billy mengajak saya untuk melihat pohon Natal. Benar saja, seluruh pusat perbelanjaan ini didominasi warna merah dan ornamen-ornamen Natal. Bahkan aksesoris yang menunjukkan kehidupan negara empat musim juga ada. Bagian hall pusat perbelanjaan ini juga didominasi pohon Natal dan pernik-pernik lainnya.

 

Setelah kunjungan pada Natal tersebut, saya berjanji pada diri sendiri untuk kembali datang pada saat Imlek. Di tahun baru Cina tersebut, hall Gandaria City berubah menjadi semacam Lapangan Tiananmen. Warna merah dan emas yang mendominasi,  dua buah replika kuda, pintu masuk ala China Town, semacam koin raksasa dengan lubang di tengahnya, dan beberapa ornamen lain yang didominasi warna merah dan emas.

 

Saya berhenti sejenak di lantai yang lebih tinggi untuk memperhatikan perilaku orang-orang terhadap ornamen imlek tersebut. Mayoritas orang yang datang berfoto di depan ornamen-ornamen. Mereka akan mendekati sesuatu yang mencerminkan “Imlek” lalu bergaya untuk kemudian diambil gambarnya. Orangtua menaruh anaknya di tempat tertentu dalam halltersebut untuk kemudian difoto, lalu senyum kebahagiaan keluarga berkembang.

 

Gandaria City 2

Saya kemudian mendekati salah satu orang yang berfoto di sana sekadar untuk tahu ekspresi setelah “sesi pemotretan”. Kebanyakan ekspresi yang muncul adalah sebuah kepuasaan karena menyelesaikan sesuatu yang remeh temeh. Seperti eskpresi, “Eh lucu ya” dan sejenisnya. Mereka tak bertendensi berfoto dengan semangat “I was here”. Semangat berada pada suatu tempat atau dalam kasus ini berada pada sebuah replika tempat. Mereka sadar bahwa yang ada di sana adalah sebuah replika sangat artifisial yang mungkin sangat kitsch.
Tak puas pada kunjungan Natal dan Imlek, saya mencoba sekali lagi hadir ketika tidak ada hajatan hari besar apapun. Saya mencari waktu ketika hallini kosong, tidak ada properti atau ornamen apapun. Tentunya sekadar ingin tahu sebenarnya seperti apa hall ini ketika kosong.


Hall
ini layaknya ruang utama pada pusat perbelanjaan lainnya. Luasnya sekitar enam kali lapangan badminton dengan dikelilingi oleh pilar-pilar utama. Ruang ini memang sengaja mencuri perhatian, salah satu sisinya menghadap lift utama, sementara kedua sisi sayapnya diapit oleh eskalator, sehingga mencuri perhatian pengunjung ketika akan berpindah antar lantai. Di sekitar hall ini juga terdapat beberapa gerai pakaian, sepatu dan pakaian dalam wanita yang lumayan ramai dikunjungi oleh para pengunjung. Ruang ini sentral segalanya.

 

Sayangnya, ada perasaan aneh ketika saya melewati hall itu sewaktu tidak ada perhelatan besar. Saya dan banyak orang lainnya memilih melewati pinggir ketimbang memotong jalan membelah hall tersebut. Ia terlalu luas dan begitu kosong, sehingga rasanya menjadi begitu kecil dan inferior ketika melewati bagian tengahnya. Apalagi ditambah kesan ruang ini yang semakin luas bila dilihat dari lantai di atasnya.

 

Pengalaman saya terasa berbeda ketika hall itu kosong dan terisi ketika hari besar. Aksesoris, properti dan ornamen yang gigantis lainnya ketika hari besar seperti undangan tak resmi untuk terlibat dalam hall itu. Untuk terlibat dalam ruang yang sebenarnya kosong ini. Ada keanehan ketika properti dan aksesoris lainnya yang biasa saya lihat hilang berganti dengan ruangan kosong. Hall yang terisi penuh dengan properti membuat saya terpesona dengan berbagai ornament artifisial di dalamnya, terpesona dengan pupurnya yang begitu menor. Hall yang kosong begitu saja membuat saya merasa sangat inferior. Mungkin ini kenapa para pengunjung mendatangihall ketika banyak properti ada di sana, ia ingin terlibat dan merasa tak inferior. Sambil mengabadikan kekagumannya yang artifisial.

 

Pengalaman semacam ini tentu berbeda dengan contoh paling dekat para klien foto studio terdahulu misalnya, para pengunjung di pusat perbelanjaan ini bukan seorang yang memfoto dirinya di depan sebuah latar belakang pemandangan alam untuk mengesankan mereka “pernah ada di sana”. Sebuah kegiatan yang sangat populer pada beberapa dekade lalu. Dalam semangat foto studio tersebut suasana yang terasa adalah tendensi untuk terlihat benar-benar ada dalam suasana backdrop. Sebuah upaya untuk hadir dalam sesuatu yang artifial tanpa ingin terlihat palsu. Sementara pengunjung Gandaria ini bermain-main dalam kepalsuan tersebut.

 

Saya kemudian ingat sebuah serial foto karya Thomas Meyer yang ia beri judul “Resort”. Karya fotografer Jerman ini dipamerkan pada Pameran “Kota” di Galeri Nasional belum lama ini. Pada foto tersebut Meyer menampilkan satu seri foto tentang Qatar. Serial foto itu bergambar beragam pembangunan di Qatar dengan pembanding seorang atau sekelompok orang yang terlihat begitu kecil sebagai unsur skalanya.

 

Melihat foto itu ekspresi pertama yang timbul adalah Qatar begitu, ya kita semua tahu, artifisial. Meyer bahkan menulis dalam pengantar seri fotonya,“I don’t have problem with artificiality, to the contrary, it fascinates me.”  Meyer sama sekali tak bermasalah dengan sesuatu yang artifisial, ia justru terpesona dengannya. Saya menganggukkan kepala setelah membaca opini Meyer. Andai Meyer berkunjung ke Gandaria City pada momen-momen penting dalam kalender di Indonesia mungkin ia akan sangat menikmati keartifisialan tersebut.

 

Hall Gandaria City membuat saya bingung apakah kita memang sudah berada pada titik memandang sesuatu yang artifisial dengan begitu datar? Dengan biasa saja dan menertawakannya. Kita sadar kita hidup dalam kepalsuan dan merayakannya bersama-sama. Bagi saya setidaknya merayakannya sebulan sekali, saat saya belanja bulanan keperluan pribadi. Sesekali sambil mampir meminum teh di sebuah kedai bertema Alice in Wonderland dengan properti daun dan bunga plastik. Tentunya sambil memandang hall Gandaria City dan terpesona dengan kepalsuannya. Setidaknya saya tidak sendiri terpesona dengan yang artifisial, ada Meyer yang bernasib sama di Qatar sana.

 

***

Esai ini dipublikasikan di Konteks.org.
Advertisements