Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Ugoran Prasad tak perlu banyak bicara untuk membuat lebih dari tiga ratus orang yang memadati Langgeng Art Foundation, Yogyakarta berteriak bersama menyambut kehadirannya.  Vokalis yang biasa disapa dengan Ugo ini memang tak bicara satu patah kata pun saat memulai konser, bahkan sekedar untuk mengucapkan sapaan klise khas para vokalis.

 

Namun aura yang ia hadirkan malam itu lebih dari cukup untuk sekedar berkomunikasi dengan penonton. Sesuai nama konsernya, para penonton memang dibuat “Keracunan Ingatan” oleh Ugo yang sudah lebih dari satu tahun lebih tak melakukan konser karena harus studi di New York.

 

Rabu (27/7) malam lalu memang menjadi malam yang sangat istimewa bagi scene musik independen di Yogyakarta. Dua band yang sangat penting di scene ini akan mengadakan konser perpisahan sebelum mereka vakum untuk waktu yang tak dapat ditentukan.  Adalah Armada Racun dan Melancholic Bitch yang membuat Langgeng Art Foundation sebagai venue dipenuhi ratusan orang yang tak mau ketinggalan melepas salah dua band terbaik di kota ini.

 

Armada Racun membuka konser ini tepat pukul delapan malam, telat setengah jam dari jadwal yang direncanakan. Freddy sang vokalis dan bassist di band dengan platform red, rock and poison membuka malam itu dengan lagu “Lalat Betina” dari album perdana mereka, La Peste. Armada Racun kemudian berturut-turut membawakan nomor andalan seperti “Goodnews For Everybody”, “Mati Gaya” dan “Tuan Rumah Tanpa Tanah”. Sayangnya, penampilan Armada racun terasa sangat antiklimaks untuk sebuah konser perpisahan sebelum memutuskan vakum.

 

Banyak alasan yang menjadi penyebab antiklimaks penampilan band ini. Pertama adalah kenyataan bahwa Armada Racun sudah terlalu lekat dengan komposisi dua bass yang digawangi Freddy dan rekannya Dani, permainan keyboard yang menyayat dari Nadya Hatta, serta tabuhan drum khas dari Riyanto Rahmat aka Somed.

 

Sayangnya, malam itu Freddy dan Somed harus bermain tanpa dua kompatriotnya yang tak bisa hadir. Menyaksikan sebuah band berisi empat personil dan hanya menyisakan setengahnya saat konser perpisahan adalah sebuah antiklimaks yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Atau memang ekspektasi saya yang terlalu berlebihan terhadap band ini.

 

Kenyataan mengagetkan kedua adalah ucapan Freddy di panggung yang memperkenalkan Yudhistira sebagai keyboardis resmi mereka menggantikan Nadya Hatta. Tentu kabar ini mengagetkan para pendengar Armada Racun. Saat saya konfirmasi, Freddy menyatakan bahwa Yudhistira, yang juga personil band Quasimodo, memang telah secara resmi menggantikan Nadya Hatta sebagai penekan tuts keyboard di band yang juga mengisi album kompilasi Jogja Istimewa ini.

 

Nadya memang sibuk dan kami mempersilakan dia untuk berkonsentrasi dengan kesibukannya,” jelas Freddy singkat saat saya konfirmasi mengenai pergantian personil di tubuh band ini. Ia juga menambahkan bahwa Armada Racun menambah personil seorang pemain saxophone bernama Moussadeq.

 

Menurut Freddy, penambahan ini untuk menjawab kebutuhan di album kedua kelak. “Album kedua kita emang butuh instrumen macam saxophone dan trombon, ini jadi kaya transisi dari album La Peste ke album kedua kami,” tambah Freddy. Di konser ini mereka juga membawakan sebuah nomor berjudul “Lies Lies Lies” yang akan ada di album kedua mereka.

 

Sayangnya penampilan Armada Racun dengan personil barunya ini belum dapat mengalahkan greget ketika Freddy yang berkarakter kuat, tabuhan khas dari Somed, Dani yang attitude dan permainan bassnya sama-sama liar, dan seorang Nadya dengan permainannya yang membuat platform red, rock, and poison menjadi benar-benar nyata.

 

Yudhistira sebagai pengganti Nadya nampaknya akan memiliki pekerjaan rumah berat karena karakter Nadya, yang aktif di Risky Summerbee and the Honetyhief dan Individual Life, terlalu kuat dan sulit untuk digantikan. Malam itu nampaknya Yudhistira belum mampu menggantikan sosok Nadya yang sudah tertanam di ratusan pendengar Armada Racun.

 

Beruntung Armada Racun memiliki nomor-nomor yang sangat anthemic macam “Boys Kissing Boys” dan “Drakula” yang berhasil membuat penonton melupakan soal ketidakhadiran Dani dan Nadya Hatta. Mereka pun terselamatkan oleh lagu “Amerika” sebagai penutup yang sangat lekat dengan band ini,. Dan Amerika jua yang menyelamatkan mereka dari sebuah antiklimaks. Namun jika titel konser ini adalahKeracunan Ingatan maka ingatan saya tentang Armada Racun adalah ingatan tentang Fredy, Dani, Somed dan Nadya, bukan hanya Freddy dan Somed semata.

 

Secercah harapan datang dari pernyataan Freddy. Ia menampik rumor yang menyatakan band ini akan bubar. “Banyak orang memang yang usul dengan masalah yang didera band ini terus bilang udah selesai aja dan tercatat sebagai legend. Tapi kita enggak pernah kenal istilah legend, fenomena sosial kan terus ada dan ini patut dicatat lewat lagu-lagu kami. Kami nganggep lagu-lagu kami seperti literatur, enggak mungkin literatur berhenti tengah jalan,” tutur Freddy memberi harapan.

 

Ia pun mengatakan band ini akan vakum sekitar satu tahun karena akan kembali ke studio dan mengumpulkan materi untuk album kedua. Tentu saja harapan yang diberikan Freddy menjadi penting untuk para pendengarnya. Armada Racun adalah salah satu band rock terbaik di Jogja. Akan menjadi sebuah  kehilangan jika band ini berubah menjadi sekedar legenda yang telah mati.

 

Selesai dengan Armada Racun, penonton dibuat tak sabar dengan kehadiran Melancholic Bitch. Saat wawancara sebelum konser, Ugo hanya menganggap enteng dan tertawa saat saya berkata Melbi sudah seperti band cult. Namun melihat wajah dan mimik para penonton, agaknya tak ada yang salah dengan predikat itu.

 

Semua mata tertuju ke panggung ketika semua personil Melbi sudah berada di sana. Namun orang yang paling ditunggu malam itu belum juga terlihat batang hidungnya di panggung. Sekitar sepuluh menit kemudian Ugo menampakkan diri dari sisi panggung dengan kemeja merah lengan panjang dan rokok yang setia ia pegang sepanjang konser. Momen itu menjadi penanda kehadiran Ugo malam itu.

 

Vokalis yang baru saja menyelesaikan studi di Big Apple ini langsung menggebrak dengan nomor “Department Deities and Other Verses” dari album Anamnesis. Selesai dengan itu Melbi langsung membawa para penonton hadir dalam sebuah dunia ala Joni dan Susi.

 

Ugo memulai perjalanan ke dunia Joni dan Susi malam itu dengan bermonolog. “Joni dan Susi punya mimpi, mimpi jalan-jalan,” tutur Ugo. Monolog itu terasa sangat pas untuk membuka lagu “Bulan Madu” yang bercerita mengenai bulan madu imaginer pasangan Joni dan Susi ke penjuru-penjuru dunia.

 

Malam itu, Ugo lebih memilih bermonolog membuka sebuah lagu ketimbang berkomunikasi klise ala para vokalis yang membosankan. Sebelum memulai lagu “7 Hari Menuju Semesta” ia bermonolog.  “Menciptakan dunia ini dalam tujuh hari, Joni dan Susi menciptakan ini dalam tujuh semesta,” ucap Ugo. Sampai detik ini penonton memang masih duduk-duduk santai dan hanya terpukau dengan aura Ugo yang sudah tak dirasakan selama lebih dari setahun.

 

Barulah ketika Melbi membawakan “Distopia” semua penonton sontak mulai berjoget kegirangan. Ya, berjoget dalam makna denotasi bukan konotasi. Wajar jika penonton berjoget, sebab seperti dalam versi albumnya, Melbi mengundang Silir Pujiwati untuk bernyanyi bersama. Silir Pujiwati adalah pesinden yang Melbi undang untuk memberikan cengkok ala dangdut pantura pada lagu ini.

 

Melbi seperti membuktikan kalau dangdut tak hanya mereka eskploitasi seperti para orientalis barat, melainkan mereka rasakan denyut dan jiwanya untuk kembali mereka rayakan dalam cara yang lain. Hal ini juga terlihat dalam pengakuan Silir malam itu.

 

Menurut Silir, lagu “Distopia” yang dulu ia dengar tak seperti saat ini. “Wah mbiyen lagune abot tenan mas, ora donk aku (Wah dulu lagunya berat sekali mas, saya tidak mengerti),” ujar pesinden yang juga dekat dan kerap tampil dengan Kua Etnika pimpinan Djaduk Ferianto ini.

 

Namun Melbi kemudian memberikan kebebasan pada Silir untuk mengubah lagu itu sesuai dengan cengkok Melayu dan Dangdut Pantura yang sangat kental dengan suaranya.

 

Musik aku sama Melbi kan emang jauh sekali bedanya tapi ternyata kita bisa duet, jadi sadar kalau dangdut pantura juga bisa masuk ke musik band-band-an gini,” aku Silir. Terjalin sudah dialog antara musik pantura dengan musik yang dibawakan oleh Melbi.

 

Melihat penonton yang sudah on fire Melbi langsung menggebrak dengan lagu yang paling anthemic di album Balada Joni dan Susi, “Mars Penyembah Berhala”. Semua penonton sontak berdiri ketika lagu ini dimainkan oleh Melbi. Frase, “Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi” bergemuruh di Langgeng Art Foundation malam itu.

 

Lompatan-lompatan para penonton, sing along sepanjang lagu dan botol-botol bir yang diangkat tinggi-tinggi menjadi penanda kalau lagu ini menjadi momentum terbaik yang membuat konser ini semakin memanas.

 

Melbi kemudian menurunkan tempo malam itu dengan memainkan “Nasihat Yang Baik” sebelum akhirnya mengajak salah satu nominasi “Susi” yakni Frau untuk bermain bersama. “Off Her Love Letter” menjadi sajian pembuka duet bersama Frau malam itu. “Sebuah kehormatan bermain dengan Frau dalam kondisi berdiri,” kelakar Ugo saat membuka lagu.  Frau memang identik dengan bangku kecil dan sebuah teh hangat di sampingnya di setiap penampilannya. Namun kali ini ia rela meninggalkan semua propertinya untuk Melbi.

 

Tentu saja kemudian Frau dan Melbi berduet dalam “Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”. Saya kemudian teringat dengan ucapan Frau setahun lalu saat konser di Tembi yang mengatakan bahwa “Akan terasa sangat berbeda memainkan lagu Sepasang Kekasih tanpa kehadiran Mas Ugo.”

 

Malam itu nampaknya kerinduan Frau terbayar lunas, duet ini terasa sangat manis dalam konser malam itu. Duet yang sudah dinanti-nantikan sejak setahun ke belakang.

 

Frau sendiri terlihat sangat sumringah saat saya temui setelah kerinduan berduet dengan Melbi terbayar lunas. Saya kemudian bertanya pada Frau perihal apa yang akan terjadi dengan Melbi jika konsep Ugo tentang mengganti vokalis Melbi dengan seorang solois wanita sebagai “Susi” terlaksana.

 

Melbi kalau vokalisnya bukan Mas Ugo ya namanya bukan Melbi, mungkin karena gregetnya bakal beda ya,” jelas Frau.  “Ibaratnya seperti Jikustik ganti vokalis,” tambah Frau berkelakar.

 

Menurut Frau walau yang menggantikan adalah seorang solois berkarakter sekalipun, seperti Tika misalnya, aura yang dihasilkan akan terasa sangat berbeda. “Jatuhnya juga bakal beda ya, karena yang nyanyi kan punya karismanya sendiri-sendiri,” komentar Frau.

 

Melbi melanjutkan penampilannya malam itu dengan memainkan “Akhirnya Masuk Tipi” sebuah lagu yang mengkritik industri media. Secara usia para personil Melbi memang sudah berumur. Namun energi mereka tak berkurang sedikit pun sampai menjelang akhir konser. Meski kemudian mereka beristirahat sejenak sebelum memainkan encoresebanyak tiga lagu di konser malam itu.

 

Dalam encore malam itu Melbi mengundang Ari WVLV dari Soundboutique yang membawa nuansa elektronik pada penampilan Melbi. “Kita Adalah Batu” dipilih sebagai encorepertama malam itu. Untuk kemudian disusul dengan sebuah tembang legendaris milik Melbi, “The Street”. Malam itu ditutup dengan sebuah lagu penutup di album BJS, “Noktah Pada Kerumunan”.

 

Selesai konser Ugo mengundang orang-orang yang pernah menjadi personil Melbi untuk naik ke atas panggung. Seperti dikatakan Ugo dalam wawancara yang saya lakukan sebelum konser, Melbi tak pernah mengenal istilah mantan personil. Dan malam itu seluruh personil yang pernah terlibat dalam artist collective bernama Melancholic Bitch naik ke atas panggung.

 

Para penonton kemudian dihadapkan pada pemandangan bagaimana sebuah band besar dilepas untuk kembali vakum. Band ini memang lebih sering vakum ketimbang aktif . Namun mengutip sebuah lirik di “Noktah Pada Kerumunan” yang berbunyi, “Kerinduan yang digumamkan”, ya semua pendengar akan terus bergumam mengenai band ini entah sampai kapan. Mereka akan tetap menjadi balada yang misterius di hati tiap pendengarnya layaknya seorang Susi merindukan Joni.

 

Konser Keracunan Ingatan ini berhasil membayar sebuah kerinduan akan penampilan Armada Racun dan Melancholic Bitch. Namun, malam itu juga jadi penanda kalau Jogja akan kehilangan salah dua band terbaiknya di scene independen sampai waktu yang belum diketahui. Boleh jadi konser malam itu akan menjadi konser paling memorable bagi banyak pasang mata yang menyaksikan.

 

***

Wawancara dengan Ugoran Prasad sebelum konser bisa dibaca ulang disini

Artikel ini dimuat dalam Jakartabeat pada 24 Juli 2012

Advertisements