Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Dalam lawatan Efek Rumah Kaca ke pelatihan Indonesia Mengajar saya menyempatkan diri mengobrol dengan Cholil. Mengetahui saya akan mengajar di Lampung, kami kemudian mengobrol hangat mengenai apa yang mungkin terjadi di scene musik Lampung sampai scene ini punya stereotip yang kurang baik di mata masyarakat. Tak usah saya jelaskan alasannya anda pasti sudah dapat menduga penyebabnya. Di akhir pembicaraan saya ingat Cholil berpesan, “Cobalah cari tahu lebih dalam soal scene music di Lampung, gua yakin masih ada band bagus dan potensial yang belum diendus media.”

 

“Amanah” dari Cholil itu kemudian saya pegang kuat-kuat. Bersama rekan saya, Mayo Falmonti pembetot bass di Protocol Afro kami mulai mencari mutiara terpendam di daerah paling selatan Sumatera ini. Setelah mencari dan bertanya-tanya munculah sebuah nama yang mengingatkan saya pada cerita-cerita karangan Enid Blyton, sebuah band bernama Afternoon Talk. Menemukan Sofia (Vokal, Pianika), Harsa “Osa” Wahyu (Gitar, Bass, Ukulele), dan Achmad “Wawan” Ridwan (Perkusi, Keyboard) yang tergabung di Afternoon Talk saya rasa sedikit membenarkan pernyataan Cholil. Di tengah himpitan teriknya matahari Sumatera, teriakan kondektur angkutan kota yang memuakkan di kota ini mereka seperti mengajak mengobrol dengan suguhan teh hangat dan buku Antoine De Saint di pekarangan belakang rumah.

 

Band yang terbentuk tahun 2010 ini baru saja merilis self-titled EP melalui Hujan! Rekords yang berisikan lima lagu dengan nuansa indie-folk-pop. Mereka juga baru saja melakukan tur panjang ke Pulau Jawa dengan titel, “Love Letter to Java Tour”. Beberapa media telah membahas Afternoon Talk dengan balutan kata manis yang hanya jatuh pada romantisme khas rumput hijau segar di artwork  tipikal band indiepop. Di sela-sela persiapan konser amal untuk donasi Pianika di SD terpencil, saya mengobrol dengan tiga Mahasiswa UNILA ini. Mereka banyak bicara tentang perkembangan musikalitas mereka, scene indiepop di Lampung dan kritiknya terhadap generasi yang mereka sebut industry-oriented dan berakhir menjadi band-band ala KFC. Saya juga melakukan wawancara melalui telepon dengan Ivan Makhsara, manager mereka yang berdomisili di Medan.  Setali tiga uang pemuda asli Medan ini juga memiliki semangat tinggi mengangkat scene musik di Sumatera melalui pengelolaan Zine di Medan, sekaligus membuat proyek Indo Singles Club, sebuah jaringan webzine online radio di seluruh Indonesia.

Bagaimana awal mula terbentuknya Afternoon Talk?

Osa        : Kalau bicara awal mulanya sebenernya cikal bakalnya mulai saat kita SMA. Waktu itu gua sama Wawan bikin band namanya Melodict For Mom yang bawain punk-punkan lah (Tertawa). Tapi dua personil kami kemudian pergi ke Bandung, Sofia juga udah mulai ngeband saat itu.
Sofia        : Dulu aku punya band namanya The Syalala bawainnya model-model Yeah Yeah Yeahs gitu lah. Sebenernya band ini udah sampai Bandung, sempet nge-gig di Radio Oz Bandung juga. Tapi lama kelamaan enggak jelas juga bandnya (Tertawa). Dan aku pribadi sejak dulu emang pingin banget bikin band konsepnya akustikan santai. Karena seleraku bisa dibilang emang akustik.
Wawan    : Saat Melodict For Mom sama The Syalala sudah mulai enggak jalan gua punya materi yang sekarang jadi lagu “Theres One Thing You Should Know”. Terus ya nyoba ngasih tau ke Osa dan ngajak Sofia karena dia yang kami rasa cocok dengan konsep lagu ini. Dari situ mulai jalanlah Afternoon Talk. Sekitar Desember 2010-an lah.

Beberapa media kerap mengemas pemberitaan Afternoon Talk dengan mengatakan menyanyikan pengalaman kurang menyenangkan dengan kemasan menyenangkan, apakah kalian memang mengkonsep seperti itu?

Sofia    : Oh iya ya (Tertawa). Kalau sampai ngonsepin seperti itu sih enggak. Emang gua-nya aja yang desperate mungkin (Tertawa). Tapi kalau aku rasa emang ada hubungannya sama proses aku nulis lagu, kadang nulis terus sebulan diterusin lagi jadi mungkin moodnya beda (Tertawa).
Osa    : Mungkin orang berpikirnya gitu, pemikiran musik kita mungkin masih sebatas itu. Tapi gua yakin sih ke depannya pasti ada perubahan ngikutin sesuai perkembangan kita. Gw pribadi pingin sih masukin unsur etnik, enggak sampai kaya KunoKini tapi ya adalah unsur etniknya. Kalau filosofisnya kata Bung Karno kan “Berkepribadian dalam Berkebudayaan”, jadi ya jangan lupakan budaya sendiri jugalah.

Selain menyanyi Sofia juga mengajar di TK, ada pengaruh pekerjaan ini terhadap karya Afternoon Talk yang musiknya terasa manis?

Sofia    : Pengaruh langsung enggak tahu juga ya, tapi kalau secara enggak sadar ya mungkin juga. Sekarang misalnya kalau di TK itu sebelum masuk muterin satu album anak-anaknya Tasya. Aku meerasa Tasya itu gila banget, komposernya juga oke, musik yang dihadirkan juga kaya banget warnanya. Jadi sering kagum sendiri sama Tasya. Bahkan pingin banget bikin musik dengan warna yang kaya Tasya.

Bagaimana awal mula SEAINDIE sampai mereview Afternoon Talk dan tertarik dengan scene indiepop Sumatera?

Osa    : Wah kalau itu si Ivan yang tahu (Tertawa).  Tapi kayanya si Ivan ngepost di wall Facebook-nya SEAINDIE tentang kita dan mereka tertarik.
Ivan    : Iya gua ngepost di wallnya SEAINDIE terus berlanjut ke email-emailan. Tadinya gua mau ngangkat Afternoon Talk aja tapi gua mulai cerita kalau di Sumatera juga banyak band indiepop bagus dan yang selama ini diekspos dan masuk kompilasi mereka hanya band indiepop dari Jawa. Mereka kemudian tertarik buat bikin review tentang Sumatera Indie Pop yaudah karena gw juga tinggal di Sumatera akhirnya gua bantu mereka buat bikin itu. Kompilasi yang sempat mereka buat kan juga kalau dilihat enggak ada satupun band yang berasal dari Sumatera. Padahal banyak potensi disini yang bagus-bagus.

Belum lama ini kalian melakukan Tur “Love Letter to Java Tour”, apa yang melatarbelakangi tur ini?

Osa    : Si Ivan awalnya yang nawarin ke kita dan saat itu kita bahkan belum pernah ketemu Ivan karena dia domisili di Medan. Tapi kami lihat orangnya kayanya rapi kerjanya, eh enggak tahunya waktu ketemu di Heyfolks Jakarta serampangan orangnya (Tertawa).
Ivan    : Sebenernya karena gw mau jalan-jalan (Tertawa). Band yang bener kan alurnya rekaman, manggung dan tur, siklusnya gitulah. Nah gua ngerasa kesadaran kaya gitu di Band Sumatera belum ada. Gua lihat yang mungkin bisa dijadiin contoh yang asyik kaya Bottlesmoker, mereka rilis netlabel terus tur. Kaya Afternoon Talk ini acuannya bisa ke situ mungkin menurut gua penting juga untuk ngenalin Afternoon Talk ke Jawa. Kalau enggak ada yang mulai siapa yang mau mulai.

Dalam tur itu kalian ke enam kota yang scene musiknya bisa dibilang maju, apa yang kalian dapat dari tur ini?

Sofia    : Yang paling kerasa semangat band-bandnya emang keren-keren. Ada dua yang paling kerasa sih waktu di Bandung sama Surabaya. Waktu di Surabaya ngeliat Silampukau terus Soenarsoepratman bener-bener keren, apalagi mereka nyanyi Genjer-Genjer (Tertawa). Jadinya ngerasa perlu banyak belajar, scene Lampung masih jauh ketinggalan.
Osa    : Disana kultur musiknya udah maju, terus terang udah ketinggalan disini, jadinya mau memperbaiki scene Lampung dulu lah. Dari sana yang bener-bener kepikiran jadinya pingin buat Zine di Lampung. Komunitas disini enggak ada. Selera masyarakat disini juga kurang beragam. Kalo mau naikin selera musik masyarakat ya diracunin dulu, makanya buat zine dulu (Tertawa). Karena di Lampung ini belum ada kesadaran dari musisinya juga kalo bukan media sendiri siapa lagi yang mau peduli sama musik disini.
Ivan    : Di kereta ke Jogja waktu tur, gw bilang juga ke Afternoon Talk, lo tuh jangan nyia-nyiain perjalanan ini. Karena ini bisa jadi pelajaran bagus banget saat balik ke Lampung. Kaya Osa sama Sofia lagi rencana buat Zine, itu bagus banget, mereka jadi kebuka matanya.

Atau tur ini memang untuk semacam melawan dominasi scene musik yang berpusat di Jawa atau semacam pembuktian kalau Sumatera juga bisa?

Ivan    : Bukan ngelawan juga sih ya. Tapi emang medianya kan pusatnya di Jawa. Nah tapi biasanya itu cuma jadi alasan band Sumatera-nya teriak-teriak protes itu. Harus ada kesadaran juga di band-band Sumatera termasuk Lampung buat promosi ke Jakarta, Bandung atau Jogja biar scene mereka juga kenal kita. Kalau enggak kaya gitu ya enggak bakalan maju juga akhirnya.

Kalau untuk scene di Lampung sendiri apakah sudah muncul kesadaran mengenai pentingnya promosi?

Sofia    : Yang aku rasa sih kurang kesadaran akan pentingnya internet dalam promosi. Kurang concern yang segala macem di internet itu penting banget. Mungkin yang baru pertama kali ke netlabel dengan masukin ke Hujan! Rekords juga baru kita mungkin (Tertawa).

Secara umum bagaimana perkembangan scene musik (so called) indie di Lampung?

Osa    : Pada dasarnya scene indie di Lampung ini bisa dibilang masih kurang solid. Kalau di Bandung misalnya apapun alirannya semua akan saling support. Sementara di Lampung ini masih jalan sendiri-sendiri. Yang Punk ya Punk, yang Ska ya Ska, Reggae ya Reggae. Enggak ada media atau zine juga yang mayungin itu semua. Zine emang pernah ada tapi ya mati gitu aja.
Sofia    : Dan juga generasi yang lebih dulu dari kita lebih industry-minded sih bisa dibilang. Tapi enggak bisa salahin mereka juga. Mereka cari duitnya dari musik aja emang. Padahal kalau dipikir kemampuan mereka mumpuni dari sekedar main musik yang di industri besar.

Industry minded seperti apa maksudnya?

Osa    : Ya ambil contoh aja deh misalnya The Potters setahuku dulu mainnya Britpop atau Radiohead gitu (Tertawa). Guru musik juga lho mereka. Kalau Kangen Band mereka murni dari golongan bawah dan emang mainnya seperti itu. Generasi diatas kita itu mereka bermusik dan bermusik aja. Istilahnya dapat duitnya dari musik aja. Konsep kaya “Gua kalo mau dapet duit ya kerja” dan punya main job di luar musiknya enggak ada. Jadinya ketika mereka jatuh ya jatuh. Sampe ngontrak ke Jakarta demi dapetin itu, ironis jadinya.
Sofia    : Atau Beage misalnya, itu band-band KFC gitu, pasti enggak pernah denger ya? (Tertawa) Dulu itu dia mainnya blues dan bagus, tapi ya akhirnya menyerahkan diri gitu aja ke industri. Kita sendiri tidak pernah berpikir buat jadiin musik sebagai sumber penghasilan utama kita.
Osa    : Ya masalahnya itu tadi sih, karena enggak punya pekerjaan lain selain musik jadinya mereka yang di musik dan yang udah desperate akhirnya menyerahkan diri sama dunia yang kaya gitu. Ya pasti mau enggak mau jadinya ya band seperti itu.

Tapi pemikiran industry minded itu masih ada atau mulai bergeser?

Osa    : Sayangnya yang sukses lewat jalur indie memang belum ada. Enggak ada role model-nya. Akhirnya role model kesuksesan itu ya sukses di jalur industri.
Sofia    : Sudah enggak separah dulu sih sebenarnya karena pengaruh internet dulu kan belum booming juga. Akhirnya referensinya ke radio misalnya. Radio-radio juga dengerinnya lagu-lagu yang mainstream. Informasi enggak secepat sekarang. Anak-anak mudanya kaya yang SMA gitu sekarang referensinya juga udah lumayan lah, belum lama ini kaya Sarasvati udah mulai dikenal, ya lumayanlah.
Osa    : Tapi ya masih ada juga band-band yang namanya aja enggak jelas kaya Stiker Band lah atau Laptop Band (Tertawa). Ada harapan sih tapi kalau lihat dari referensi sekarang, karena dulu emang bisa dibilang salah satu penyebabnya minim referensi. Sekarang udah pada sadar pentingnya referensi bermusik.

Di luar Lampung tidak bisa dipungkiri juga stereotip ketika mendengar musik Lampung pasti langsung terlintas Kangen Band, gimana kalian menanggapi itu?

Osa    : Terus terang gua muak dengan kaya gitu. Tiap dari Lampung yang ditanya pasti Kangen Band. Jadinya stigma yang kebentuk itu padahal kalau mau lihat lebih dalam yang bagus-bagus juga banyak.
Sofia    : Tapi kalau becanda-becandaannya sih kaya ada untungnya juga stigma kaya gitu. Jadi tiap orang yang denger Afternoon Talk pasti penasaran dan nanya ini beneran di Lampung. Jadi dari situ mau nyari tahu band kami (Tertawa).
Osa    : Sebelnya itu kenapa Kangen Band harus di Lampung, yang lebih hancur di daerah lain masih banyak lho (Tertawa). Karena efek si Kangen Band ini besar juga, banyak juga band indie bagus yang malu ngaku kalau mereka dari Lampung. Akhirnya yang berani ngaku dari Lampung ya yang musiknya gitu-gitu.

Beberapa rekan saya berpikir jika Afternoon Talk berasal dari kota yang scene musiknya sudah kuat, ambil contoh dari Bandung misalnya, mungkin respon positif media tak sebanyak ini, Afternoon Talk naik karena dari Lampung, ada sanggahan soal itu?

Osa    : (Tertawa) Gua pernah mikir kaya gitu. Kalau mikirnya kaya gitu ya pindah ke Lampung aja semuanya (Tertawa). Tapi kadang mikir juga kalau ada selintingan gitu berarti scene Lampung sebegitunya parah dianggep negatif sama orang ya?
Ivan    :  Mungkin kaya pemikiran eksotisme orang barat liat timur ya. Tapi kalau menurutku itu malah kaya poin yang unik dari sebuah band. Karena band itu  bukan hanya musiknya aja tapi juga mitos-mitos di dalamnya. Enggak ada yang salah dengan itu. Kadang juga orang Jakarta sama Bandung kalo liat band Jogja juga masih dianggap eksotis. Yang penting sekarang sih saling berbagi aja kalau menurutku. Band-band di Jawa ngasih input buat yang di luar Jawa misalnya. Input lho ya bukan nasihat orangtua (Tertawa). Ngasih influence. Dan kaya Afternoon Talk sendiri pasti juga punya warna yang enggak dipunyai band lain, ya saling berbagi jadinya.

***

Artikel ini dimuat di Jakartabeat pada 17 Maret 2012.

Advertisements