Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Selama empat tahun tinggal di Jogja baru kali ini saya menyaksikan sebuah konser dengan puluhan penonton yang tak muat masuk ke venue. Mereka harus rela menonton di layar besar karena venue sudah overload untuk menampung para penonton.

 

Malam itu (9/8/2010) di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta memang menjadi begitu spesial bagi beberapa orang yang aktif di scene musik lokal Jogja. Melancholic Bitch (Melbi) yang kerap disebut sebagai salah satu band cult di Jogja malam itu akan melepas vokalisnya selama setahun ke New York untuk keperluan studi. Ugoran Prasad, sang vokalis, akan melaksanakan studi mengenai kebudayaan selama dua semester, sebuah program yang juga sempat dilakoni oleh sastrawan Putu Wijaya beberapa tahun lalu. Begitu spesial kah band ini sampai puluhan orang rela menonton di layar besar karena kehabisan tempat? Bagi saya jawabnya iya.

 

Melancholic Bitch saya kenal lewat album kedua bertitel Balada Joni dan Susi (BJS). Album BJS memiliki sebuah konsep yang sangat apik. Tak seperti album musik biasa dimana sebuah album adalah kumpulan dari beberapa lagu yang terpisah satu sama lain, BJS mencoba mendobrak tatanan tersebut. BJS sesuai namanya adalah album yang bercerita mengenai perjalanan Joni dan Susi yang terangkum dan terjalin melalui lagu-lagu. Menikmati album ini seperti menikmati sebuah buku kumpulan cerita pendek yang terkait satu sama lain.

 

Joni dan Susi adalah sepasang kekasih dari masyarakat marginal. Dua sejoli ini digambarkan memiliki kehidupan yang dipinggirkan, kurang beruntung baik dalam hal menjalin kasih maupun mengarungi kerasnya kehidupan. Dalam mengarungi kerasnya kehidupan itulah Joni dan Susi harus menghadapi ketidakadilan sosial, kekonyolan media lewat jurnalisme bombastisnya, dan bahkan mengkritik secara halus budaya konsumerisme. Setiap lagu seperti sebuah pembabakan dalam wayang yang bercerita tentang si Joni dan Susi. Dengan kekuatan lirik yang begitu kuat, album ini berhasil menghadirkan kehidupan masyarakat marginal lewat cerita sederhana dari sepasang kekasih tersebut.

 

Konsep album dan kekuatan lirik yang tak biasa adalah dua nilai plus utama Melbi. Nilai plus tersebut mengingatkan saya pada dua karya sastra, mungkin itu diakibatkan karena lirik Melbi digubah oleh Ugoran Prasad yang selain vokalis juga seorang penulis sastra. Konsep album Melbi membawa saya kembali mengingat buku 9 Dari Nadira karya Leila S. Chudori. Penulis kolom film di majalah Tempo itu seperti terbangun dari tidur panjangnya saat menulis 9 Dari Nadira. Yang membuat saya menyamakan Melbi dengan Leila tak lain karena album Balada Joni dan Susi dan buku 9 Dari Nadira memiliki konsep yang sangat mirip.

 

Layaknya Album BJS, Leila dengan 9 Dari Nadira-nya juga merangkai cerita dalam bukunya dengan beberapa cerita yang terkait satu sama lain. Di sana, Leila menghadirkan Nadira sebagai tokoh sentral. Sembilan cerita dalam buku ini taut menaut menjadi sebuah gambaran kehidupan Nadira, seputar keluarga, dunia media yang digelutinya dan juga kehidupan pribadinya. Setiap cerita di buku tersebut adalah cerita pendek yang saling terkait sehingga sulit untuk mengatakannya sebagai kumpulan cerpen atau novel, Buku itu seperti berada diantara keduanya.

 

Persamaan bentuk keduanya yang menempatkan teks (dalam kasus Leila) dan lagu (Melbi) sebagai sesuatu yang otonom sekaligus saling mengait, tak hanya menghadirkan sebuah kebaruan semata. Ia juga menghadirkan sebuah nuansa yang begitu pekat dan mendalam mengenai isu yang mereka angkat. Pada album Balada Joni dan Susi, Melbi menghadirkan cerita-cerita realis sederhana, yang cerewet bicara tentang berbagai hal. Marginalitas, kekuasaan, tirani bentuk baru bernama media atau bahkan agama lewat lagu “Menara” mereka olah dengan kata-kata realis namun tetap bernuansa pekat dan mendalam.

 

Baik Leila maupun Melbi pada akhirnya bisa menjerat audience-nya saat “membaca” karya mereka. Artinya penikmat karya mereka seperti tak bisa keluar dari jalinan cerita tersebut. Dan ini menurut saya diakibatkan oleh konsep karya keduanya. Leila sekali waktu pernah mengemukakan pendapatnya tentang cerita pendek yang bagi saya menjelaskan mengapa saya terjerat dengan kata-kata dalam cerpennya (dan lagu-lagu Melbi). “Saya hampir selalu memilih cerita pendek sebagai format karena, dalam beberapa hal, cerita pendek memiliki peraturan yang jauh lebih keras, lebih galak, lebih menekan daripada bentuk fiksi lainnya. Cerita pendek menyediakan ruang yang sempit untuk ledakan yang dahsyat,” tulis Leila dalam pengantar buku kumpulan cerpen pertamanya yang berjudul Malam Terakhir.

 

Artinya, dalam cerpen kata-kata menjadi penting justru karena tak ada waktu untuk berhias diri melalui kata-kata. Melbi lewat album BJS yang bagaikan kumpulan cerpen tersebut membuktikan benar hal tersebut. Tentunya dengan konsekuen pada masalah lirik, yang dalam istilah Leila lebih galak dan lebih menekan seperti layaknya sebuah cerpen.

 

Toh ada perbedaan yang membuat keduanya menjadi spesial satu sama lain. Perbedaan itu terletak pada bagaimana Melbi dan Leila mengolah teksnya. Leila sejak permulaan buku cenderung membawa pembaca untuk terjerumus ke dalam permasalahan Nadira. Di cerita pertama buku ini Nadira sibuk mencari seikat bunga Seruni saat kematian ibunya. Baru pada cerita awal saja penonton sudah dihadapkan pada sebuah kisah mengenai kematian yang tragis. Saya yang membaca seperti dibawa pada kepekatan kata-kata Leila, ia seperti langsung menarik pembaca pada pertanyaan, “Kenapa dengan Nadira dan keluarganya?”.

 

Melbi mengolah liriknya dengan kepekatan yang berbeda. Melbi memilih memainkan kata-kata yang cenderung lebih terbuka. Olahan lirik Melbi mengingatkan saya pada puisi-puisi karya Joko Pinurbo. Untuk menggambarkan ini saya mencomot pendapat Karlina Supelli dalam pengantar buku kumpulan puisi Kekasihku karya Joko Pinurbo: “Joko Pinurbo menghadirkan ambiguitas makna dengan kedalaman yang puitis. Pemahaman yang dengan terengah ingin kita genggam, mungkin hanya bayang-bayang rekaan kita sendiri.”

 

Baik Melbi maupun Joko Pinurbo memainkan teksnya dengan kata yang saling melompat dan penuh dengan permainan, namun dengan kedalaman makna yang tetap terjaga. Mari kita lihat keduanya. Berikut ini adalah secuplik puisi karya Joko Pinurbo:

 

Koran Pagi

Koran Pagi masih mengepul di atas meja. Wartawan itu belum juga menyantapnya.

Ia masih tertidur di kursi setelah seharian digesa-gesa berita.

Seperti biasa untuk melawan pening ia menepuk kening.

Lolos dari deadline, ia terlelap. Capeknya lengkap.

 

Dan berikut ini adalah secuplik lirik Melbi

 

Akhirnya Masup Tipi

Susi aku masup tipi, 15 detik kerajaanku. Lebih baik, jauh lebih baik daripada seumur hidup tanpa lampu. Lihatlah, lihat segalanya ada di tv, lihat betapa nyata cinta kita kini.

 

Di situ terlihat bagaimana secara puitis nan liris baik Joko Pinurbo maupun Melbi memainkan kata dengan nada yang nyinyir. Joko “meledek” wartawan lewat istilah Koran Pagi, sesuatu yang sangat dekat dengan profesi wartawan namun justru tak bisa ia nikmati di kala si Koran masih “hangat”. Strategi yang sama sepertinya juga digunakan oleh Melbi dalam menulis lirik. Televisi sebagai sebuah media paling populer di negeri ini dikritik bukan secara gamblang namun secara ironis. Si kotak ajaib bernama televisi itu ditempatkan seperti altar baru dalam masyarakat.

 

Lirik yang padat, keruh namun secara sengaja tidak gamblang adalah sumber kekuatan Melbi yang membuat lagu-lagunya spesial. Saat saya wawancarai setelah pementasan terakhirnya, Ugoran Prasad memiliki sebuah pesan perpisahan yang menarik terkait dengan hal tersebut, “Kami ingin audience dapat terus merespon wacana-wacana dan konteks yang kita tawarkan dalam Balada Joni dan Susi, karena Balada Joni dan Susi akan tetap gitu-gitu aja, ia baru akan berkembang saat audience berusaha meresponnya secara berbeda-beda.”

 

Agaknya vokalis yang biasa disapa sebagai Ugo itu sadar betul mengenai penulisan liriknya yang terbuka. Sebagai sebuah teks, ia tak ingin Balada Joni dan Susi hanya bermakna otonom, teks itu demokratis dan terbuka untuk diapresiasi oleh siapa saja secara beraneka ragam. Ah saya jadi ingat sebuah perkataan dosen saya dalam kuliah pengantar jurnalistik. Ia mengatakan teks seperti sebuah mesin yang malas. Teks akan selalu meminta pembacanya untuk “mengerjakan sebagian dari pekerjaannya”.

 

Ugo benar. Lirik dan musik dari Melbi hanya akan menjadi sia-sia saat sebagian pekerjaan yang diberikan pada kita tak kita garap dengan baik. Melbi mengajak kita terus berpikir lewat Balada Joni dan Susi. Di titik itu, band ini menjadi sangat spesial bagi saya.

 

***

Artikel ini dimuat dalam Jakartabeat pada 14 Agustus 2010.

Artikel ini juga masuk dalam Buku “Like This: Kumpulan Tulisan Pilihan Jakartabeat 2009-2010”

Advertisements