Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Wajah Mitra tampak bingung melihat gambar itu. Sebuah gambar hitam putih berukuran kertas A4. Dalam gambar itu terlihat wajah berkumis tebal, sorot mata redup dan tulang pipi yang kurus. Sosok kecil itu sama sekali tak Mitra kenali, “Tapi aku koyo tau ndelok nang tivi cah (Tapi aku seperti pernah melihat orang itu di tivi),” ujar Mitra, siswa kelas lima, dengan wajah penasaran.

Sekitar sepuluh jam sebelum melihat wajah bingung Mitra, saya membaca kembali Catatan Pinggir (Caping) Goenawan Mohamad tertanggal 10 September 2004. Saya pertama membaca Caping itu beberapa tahun silam, bapak saya yang membelikan majalah Tempo tatkala itu. Caping itu sederhana, tak ada kutipan pun wacana besar di sana seperti yang biasa GM lakukan. Dalam catatan sederhana itu GM mencoba berdialog dengan dua orang bocah bernama Sultan Alief Allende dan Diva Suki Larasati, dua nama yang asing. Namun kita takkan pernah asing dengan nama ayahnya, Munir.

Pagi itu saya menempelkan wajah Munir di papan tulis. Sebuah pertanyaan sederhana saya tuliskan di atas wajah itu, “Siapakah Dia?” Dua puluh dua murid kelas lima menampakkan wajah bingung. Meski begitu mereka tetap mencoba menjawab pertanyaan sederhana saya. Beragam jawaban polos muncul.

Amat dengan lantang menjawab, “Dia artis India Pak.” Rino tak mau kalah, “Dia artis sinetron.” Menanggapi dua orang temannya, Egi menambahi, “Dia Dono.” Terakhir, mantan ketua kelas yakni Nika mengatakan, “Dia ustad.” Mereka tidak sedang bercanda apalagi meledek. Saat menjawab itu wajah mereka serius, ada rasa penasaran dalam mata mereka.

Mitra mencoba mencocokkan gambar tersebut dengan foto para pahlawan di dinding kanan kelas. Di situ tampak foto para pahlawan revolusi dan para jendral yang dibunuh dalam peristiwa G30S. Ia kemudian menggaruk kepala ketika tahu wajah itu bukan satu dari sekian “pahlawan” yang tertempel di dinding. “Siapa tho, Pak dia?” tanya Mitra menutup rasa penasarannya.

Saya hanya tersenyum mendengar pertanyaan Mitra. “Orang di depan kalian ini mati diracun di pesawat saat dia mau belajar ke Belanda,” buka saya. Dan saya pun sekali lagi bertanya, “Kenapa dia diracun di pesawat?” Nika dan Rino menjawab karena bagi yang meracun dia orang jahat. Sementara itu Esti menjawab ada yang dendam dengan orang itu. Dan terakhir Mitra mengatakan ada masalah karena rebutan lahan. Jangan kaget dengan jawaban Mitra, sebab di tempat saya mengajar sumber dari segala pertikaian biasanya adalah masalah lahan.

Saya tersenyum mendengar jawaban murid kelas lima. Sedetik kemudian kami semua memandang sosok berkumis itu. Di gambar itu ia tampak ringkih, matanya sayu seperti tak bersemangat, ia memandang kami. Dan bergulirlah kisah soal Munir di kelas lima.

 

***

 

Sejarah di sekolah adalah selamanya milik penguasa, history menjadi his story. Spasi diantaranya bisa dibaca sebagai kepentingan. Di kelas ini pahlawan adalah mereka yang tertempel pada sudut kanan atas dinding kelas kami. Mereka yang berseragam dengan rambut cepak dan pakaian gagah. Pakaian yang lebih cocok disebut gagah-gagahan. Mitra melihat deretan gambar itu sekedar untuk mengonfirmasi ada sosok pahlawan di depannya. Nyatanya ia tak menemukannya.

Munir adalah sebuah anomali deretan pahlawan itu. Hari ini kami tak belajar soal epos kepahlawanan. Mengusir Belanda lalu sorak-sorai dimana-mana. Atau kegagahan khas militer lainnya. Hari ini kami belajar anomali. Belajar kebaikan tak selamanya berbuah manis, ada kegetiran di dalamnya.

Pagi itu saya berdongeng soal Munir. Soal Cak satu ini yang tak pernah takut melawan tirani, soal delapan tahun kematiannya dan dua orang anak yang ditinggalkannya. Hari ini mereka mengenal sosok “bukan pahlawan” bernama Munir.

Perlu usaha keras bagi saya untuk menjawab pertanyaan Awang. Ia bertanya sederhana, “Pak Ardi, apa anak-anak Pak Munir mau jadi seperti bapaknya? Nanti kalo jadi kaya bapaknya dibunuh di pesawat,” tanya Awang. Saya teringat surat GM pada Alief dan Diva. Mungkin usia keduanya masih sepantaran dengan murid saya tatkala sang ayah meninggalkannya.

Pertanyaan Awang adalah pertanyaan untuk kita semua. Akankah teror itu benar-benar hilang? Apakah Munir adalah korban arsenik terakhir? Jujur saya ragu. Saya tak berani menjawabnya. “Sekarang kalau pertanyaan Awang Bapak tanyakan ke kalian apakah kalian mau menjadi Munir?” Dan wajah mereka bingung.

Namun sebuah jawaban dari Rino membuat saya sadar masih ada harapan di negeri ini. Ia seperti lontaran peluru yang menembus tirani delapan tahun itu. “Mau Pak, soalnya Pak Munir orang baik.” Saya tersenyum mendengar jawaban dari bocah yang senang menempelkan permen karet di bangku teman-temannya ini. Mungkin lima belas tahun dari hari ini dia baru tahu konsekuensi dari jawabannya.

Sambil tersenyum ia kembali mengucapkan sebuah kalimat pamungkas, “Belajar Munir kan biar tahu tentang kebaikan Pak.” Saya menelan ludah mendengar jawaban polosnya. Ya pada Munir kita belajar soal kebaikan pun saat ia harus berhadapan dengan ajal. Rino paham itu.

 

***

 

Malam ini saya membaca surat murid-murid saya untuk kedua anak Munir. Surat ini nantinya akan coba saya kirimkan ke Kontras. Saya tak tahu harus saya kirim ke mana surat ini, hanya Kontras yang ada di kepala. Siapa tahu lewat surat ini kegundahan Awang bisa terjawab, apakah anak Munir akan mau menjadi seperti bapaknya? Atau tepatnya pertanyaan yang lebih universal adalah apakah kita mau belajar kebaikan meski berbuah tak manis?

Salah satu surat itu berasal dari Amat, ia bertanya sederhana, “Sultan, kamu kalau besar apa mau jadi seperti ayah kamu? Kamu enggak takut diracun?” Ada kegetiran dalam pertanyaan Amat. Berbeda dengan Ipin, ia bertanya, “Setiap anak ingin menjadi seperti ayahnya, jika kakak ingin menjadi seperti ayah, kakak Sultan harus berbuat adil dan baik.” Ada dua puluh dua surat sederhana untuk Sultan dan Diva. Ada dua puluh dua harapan sederhana untuk mereka berdua.

Saya dan dua puluh dua murid kelas lima memang tak mengenal Munir. Kami tak pernah bertemu dengannya. Tapi kami tahu dari wajah berkumis nan ringkih yang tertempel di papan tulis ada sebuah harapan yang tetap menyala.

Cak, kamu memang tak ada dalam deretan gambar pahlawan di kelas kami. Tapi Cak, hari ini kamu menjadi pahlawan di hati kami. Pahlawan yang membuat kami bertanya apakah kami masih berani melawan. Kami tak tahu apakah kami bisa menjawab pertanyaan itu. Yang kami tahu, kami belajar kebaikan darimu Cak.

 

***

Artikel ini dimuat di Jakartabeat pada 10 September 2012.

Advertisements