Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Band Melancholic Bitch (Melbi) jarang tampil, namun namanya sayup-sayup terdengar sebagai legenda hidup. Bagi orang yang mengenal band ini, nama yang pertama terlintas adalah Ugoran Prasad, sang vokalis yang lebih senang disebut sebagai penulis.

 

Ugo, begitu ia biasa disapa, boleh dibilang memang berperan sentral. Setahun lalu, ia pamitan untuk studi ke negeri Paman Sam dalam sebuah konser yang sangat memorablebagi banyak orang. Konser itu menjadi penanda bagaimana ia meninggalkan Melbi yang justru sedang menanjak karena album Balada Joni dan Susi (selanjutnya disebut BJS) banyak dibicarakan khalayak ramai.

 

Personil Melbi beberapa kali terlibat dalam pementasan teater. Di antaranya adalahTubuh Ketiga yang merupakan pementasan oleh Teater Garasi di Salihara pada 12-13 Oktober 2010. Dalam pementasan itu, Yennu Ariendra dan Yoseph Herman Susilo (keduanya Gitaris Melbi) terlibat aktif. Pementasan itu adalah sebuah pementasan teater esai tentang kesenian Tarling Dangdut. Di situ, Yennu berkolaborasi langsung dengan gitaris asli Pantura bernama Rasmadi dan penyanyi tarling tradisional bernama Wangi Indria.

 

Dalam konser pamitan setahun lalu, Ugo berjanji akan tampil bersama Melbi lagi satu tahun ke depan.  Satu tahun itu berarti Juli 2011 ini. Maka Jakartabeat.net mewawancarai Ugo lagi, selepas ia latihan bersama Melbi, yang lebih senang disebutnya sebagai artists collective ketimbang band, di sebuah studio di kawasan utara Yogyakarta beberapa hari lalu. Ia masih sosok yang ramah, jauh dari kesan rockstar yang dibuat-buat.

 

Ugo sedang melakukan riset sejarah kontemporer terkait dengan pertunjukan di Indonesia pasca 1998. Menurutnya, ini adalah riset mengenai isu generasional tentang bagaimana menyikapi kebebasan. Ia menyebutnya sebagai arsiran antara beberapa kelompok dalam mengakumulasi taktik pasca reformasi. Dalam risetnya ini, ia menyoroti Ruang Rupa, Common Room, Jember Fashion Carnaval, Kunci Cultural Studies dan beragam kelompok lain.

 

Kepada Jakartabeat.net Ugo bercerita mulai dari studinya, otokritiknya terhadap album BJS, hingga ketidaksukaannya pada media yang membentuk citra produsen kesenian sebagai mitos yang berujung pada terbentuknya fans club yang menurutnya adalah konsep menjijikan. Mitos rock star dan selebriti ia yakini harus dilucuti.  Ia juga bicara mengenai rencana konser Melbi yang akan diadakan pada tanggal 27 Juli 2011 di Langgeng Bistro, Yogyakarta.

 

Berikut wawancara yang dilakukan oleh Ardi Wilda, kontributor jakartabeat.net, di Yogyakarta:

 

Bung Ugo menghilang selama setahun untuk studi di Amerika, bisa diceritakan mengenai studi yang diambil?

Di Amerika aku ngambil performance studies. Ya kajian mengenai pertunjukan sebenarnya. Di tahun 70-an studi teater kan banyak berubah terkait dengan antropologi, sosiologi dan kajian lain yang interdisipliner jadinya. Jadi dalam studi yang saya ambil kita ngelihat kebudayaan lewat kacamata pertunjukan. Di situ banyak ngebahas soal perkembangan teater yang interdisipliner. Selain itu aku juga presentasi mengenai risetku soal pertunjukan di Indonesia pasca 98, bukan hanya teater. Tapi juga misalnyaperformance activity gerakan Islam kanan di Indonesia.

 

Konser perpisahan Melbi tahun lalu bertitel Joni dan Susi: The End Of Chapter I (The Beginning of Chapter II). Setahun sudah lewat, saya bertanya-tanya apa sebenarnya Chapter II yang dimaksud?

Oke kalau ini sebenarnya terhalang sama kesibukan seniman-seniman yang ingin kita diajak. Di dalam Melancholic Bitch kita sendiri juga sibuk Aan (Septian Dwirama, perkusi) sibuk dengan Jogja Broadway, Yennu (Gitar) dengan Belkastrelka juga udah mateng. Akhirnya secara waktu kami enggak mungkin mikir buat bikin sebuah konsep yang matang. Sebab, kami selalu mikir proyek-proyek pribadi juga penting dan selalu kami dukung kalau itu lebih visible. Belkastrelka jelas kami mendukung itu. Akhirnya mungkin baru setelah ini akan ada obrolan panjang dengan Tika atau Mian Tiara karena emang kemarin belum ketemu waktunya.

 

Saya melihat banyak kritik dan masukan untuk album BJS. Ada otokritik untuk album itu?

Mungkin otokritiknya berawal dari Melbi itu sendiri. Sebagai sebuah band Melbi udah lewat lah. Yang penting sekarang adalah jadi sebuah artists collective. Untuk jadi itu, penting banget challenge dari karya, bukan sekedar album ke album. Challenge sebagaiartists collective untuk BJS ini masih kurang sebenarnya.

Yang paling dibutuhin sekarang adalah suara “Susi”. Dalam narasi yang kami buat di BJS, Susi itu tokoh sentral yang penting banget. Bahkan dalam sebuah narasi di BJS tertulis “Ajarkanlah pada mereka bagaimana cara membaca” (lirik ini tertulis dalam lagu “Akhirnya Masup Tipi” -red).

Artinya, Susi yang punya peran disini, kalau si Joni kan cuma nyolong roti aja ibaratnya (Tertawa).

Tapi di tengah jalan aku ngerasa BJS jadi  male driven sekali. Wajar mungkin, ya aku laki, Melbi semuanya laki-laki, secara enggak sadar mungkin jadi male driven. Aku ngerasa untukku sendiri ini udah mentok, harus ada female perspective disini. Aku enggak terlalu paham feminisme, menurutku penting untuk ngehadirin seorang yang paham soal ini.

Tika kami rasa orang yang tepat. Tika itu departemen lirik dan performancenya kuat banget. Aku rasa Tika juga bakal lebih paham soal seperti ini, kedekatannya dengan Ayu Utami juga bakal sangat membantu. Sebenarnya enggak hanya Tika aja, mungkin Mian Tiara atau Frau bahkan bisa mengisi ini.

Enggak bisa kita pungkiri lah beberapa tahun terakhir banyak muncul solois perempuan yang karakternya kuat banget. Sayangnya di lapangan yakni terkait waktu dan ruang hal itu belum bisa diwujudkan.

 

Sebenarnya bentuk kerjasama atau kolaborasi seperti apa yang bisa dilakukan Melbi dengan para solois itu?

Kita bener-bener bebasin mereka sebenarnya. Mereka bisa jammin’ dengan perspektif mereka. Space itu kita sediakan untuk mereka. Ibaratnya, silakan space itu di-abuse deh (Tertawa). Bisa jadi kan justru konsep yang mereka hadirin bertolak belakang dengan konsep awal BJS, ya enggak apa-apa juga. Harapan idealnya sih seperti itu. Tapi sayangnya kami enggak bisa nuntut banyak, karena ini kan beda dengan teater. Kemampuan produksi dan dana kayak di teater kan bisa jadi sebuah tuntutan. Kalau ini kan enggak.

 

Melbi sendiri sebenarnya mengharapkan respon bagaimana dari pendengar BJS?

Menurutku yang paling ideal itu seperti ketika Pameran Kelas Pagi Jakarta (sekolah fotografi gratis inisiatif fotografer Anton Ismael -red) saat merespon BJS. BJS itu kan dicuplik dari sebuah “keramaian.” Kalau dia bisa memproduksi sesuatu atau narasi yang baru dan menghadirkan “keramaian” lagi, itu jadi ideal. Aku ngerasa BJS belum terlalu mendorong orang untuk produksi, hanya konsumsi aja.

Gampangannya gini, BJS pingin nyiptain hubungan seniman dan pendengarnya sebagai kawan, No fucking celebrity. Kayak aku misalnya waktu kecil gila banget sama Slank terus jadi main band gara-gara Slank. Kaka pernah lihat Melbi mainin BJS karena si Anton Ismael kenal Kaka, itu rasanya kan asyik. Artinya kaya ngomong, “gw dulu main band gara-gara lo, sekarang lo nonton gw”, jadinya buat si idola kan juga apa yang dia lakuin nginspirasi orang buat produksi sesuatu.

Media kan selama ini juga salah ngebentuk itu, produsen kesenian itu kaya mitos yang susah dijangkau. Buatku mitos itu penting untuk dilucuti. Fans Club itu hal yang sangat menjijikan buatku. Kami mau kami bikin orang buat berproduksi dari karya kami, enggak berhenti sekedar mengkonsumsi.

Pameran foto Kelas Pagi dan penampilan kami Desember 2008 di Gedung Koran Tempo jadi titik balik kalau BJS ini harus jadi sesuatu. Penampilan kami di Gedung Tempo itu emang banyak dihina, secara sound hancur berantakan lah bisa dibilang, Felix Dass termasuk yang mencerca penampilan kami. Banyak yang benci dengan konser ini. Tapifight dan energi buat jadiin BJS album ada disini.

Tadinya kami kan membayangkan BJS bakal jadi proyek visual atau audio, tapi momen ini dan saat ketemu Anton Ismael, membuat kita jadi yakin kalau BJS harus disikapi dengan lebih serius dan jadilah album BJS itu. Usaha kami panjang untuk ini. Kami ingin orang memproduksi sesuatu dari sini.

 

Saya membayangkan BJS akan sangat menarik jika diangkat menjadi opera seperti Opera Ken Arok Harry Roesli dulu, terpikir untuk ke situ?

Tentu saja ada pikiran kesana. Tapi aku masih bingung soal narasi dan formatnya bakal seperti apa. Akhirnya, rencana ini jadi semacam utang ke Teater Garasi. Sebab emang banyak tuntutan artikulasi saat membawa ini ke medium lain. Tapi buatku yang paling mendesak adalah penerjemahan yang terselip di antara lagu-lagu di BJS. Dan sebuah karya kan ada masa kadaluarsanya. Aku cuma berharap mudah-mudahan ada sesuatu yang lebih material dan nyata di akhir tahun ini.

 

Yang menarik bagi saya adalah mengapa Melbi selalu tertarik mengolah budaya pinggiran menjadi sebuah karya? Di BJS dan pementasan Tubuh Ketigahal ini sangat terlihat.

Oh iya ya (Tertawa). Mungkin alasan utamanya karena saat itu di periode 2001-2005 Teater Garasi pertama kali membuat teater berdasarkan riset. Salah satu riset yang kami dapatkan adalah pada abad 16 pesisir kita sangat berjaya. Kudus, Gresik, atau Banten misalnya seperti jadi satelit peradaban dunia saat itu. Tapi kalau kita lihat dari realitas sosial sekarang daerah-daerah ini seperti dipinggirkan.

Padahal kalau kita mau jujur, kreativitas benar-benar muncul di sana. Lihat fenomena Kucing Garong atau House Music Dangdut dan semacamnya. Di situ kelihatan banget kalau kemampuan resistensinya tinggi. Di sana banyak nemuin dan nyiptain ruang buat kesenian baru.

Coba deh kamu kalau lihat pertunjukan dangdut di Indramayu, prek lah itu musik indie (Tertawa). Kita bakal lihat resistensi disana. Enggak ada lagi itu budaya tinggi atau rendah. Bukan berarti terus budaya pinggiran ideal juga. Di sana kan juga ada dimensi kekuasaan jenis kelamin tertentu.

Tapi dari situ juga kelihatan kalau peradaban pada akhirnya bergerak memusat. Menara akademis, menara pemerintahan misalnya memebuat pesisir jadi terpinggirkan. Tapi aku selalu melihat ada strategi dan taktik. Penguasa selalu punya strategi, sementara warga termasuk orang-orang di pesisir ini selalu punya taktik. Taktik warga pesisir itu kuat banget artikulasinya. Trio Macan itu artikulasinya kuat banget.

Coba sekarang bandingin sama band indie, masih kelihatan tuh band indie jejaknya kayak band ini atau itu. Lah kalau Trio Macan? Sampe pusing enggak ketemu jejaknya. (Melbi sebenarnya memiliki sebuah proyek yang sangat menarik mengenai budaya pesisir ini, namun Ugo meminta off the record mengenai proyeknya. Jika ide ini terwujud boleh jadi ini ide paling orisinil yang belum pernah dilakukan atau terpikirkan oleh satu band pun di negeri ini)

 

Bukankah yang seperti ini riskan jatuh ke pandangan orientalis atau eksotisme saja? Kenapa Melbi bisa terlepas dari itu?

Nah itu, kita sebenarnya harus bedain dulu antara politik ekonomi representasi dan politik representasi. Mahabarata Ramayana itu ceritanya diulak alik di sini enggak bisa dilihat orientalis karena sama-sama dari selatan. Dalam kasus ini misalnya Indramayu itu memamah dan memproduksi sesuatu dan kita kemudian memamah itu lagi. Hubungannya kemudian inspirasi kreatif. Kasus BJS berangkat dari tatanan keterhubungan itu. Kita berusaha memperlebar cara mengartikan sesuatu aja. Tapi menurutku tetap lebih berhasil Kucing Garong daripada BJS. Kucing Garong itu ikon. BJS belum ada apa-apanya dibanding itu.

 

Dalam halaman Melbi di Facebook dikatakan bahwa bung Ugo sedang mengembangkan ide “European Famine”. Ide apa itu sebenarnya?

(Tertawa) Itu sebenarnya asal ngomong aja. Ini gara-garanya waktu aku di Amerika tahun 2008 aku ngerasain situasi transnasional. Aku lihat imigran-imigran Indonesia di Amerika dan menurutku ada ruang-ruang sosial yang menarik disitu. Ada imigran ilegal yang kehilangan kontak sama keluarganya, juga ngelihat white collar, ngelihat orang Mexico waktu studi, ditambah lagi ada temanku di teater Garasi yang punya proyek soal TKI. Terakhir juga terkait sama kenyataan TKI kita di Arab. Menurutku fenomena-fenomena itu penting itu ditelusuri. Saya jadi mikir apa sih sebenarnya definisi dari warga dunia? Apa ini kebentuk dari ketidakseimbangan ekonomi dan jadi kayak gini?

Masih abstrak sekali sebenarnya, ya emang ada pengembangan dari ide ini tapi ya masih abstrak.

 

Ini ide untuk album ketiga?

Dibilang ide album ketiga mungkin aja. Tapi dalam nentuin ide untuk album itu kompetisinya gede-gedean di Melbi. BJS itu sendiri adalah ide ke enam yang terlontar setelah kita buat album pertama. Sebelum bikin BJS kita bahkan udah buat tiga lagu dengan ide besar diskomunikasi untuk album ke dua. Tapi mentok dan balik arah untuk konsep BJS.

 

Terkait soal proses kreatif ini, dalam sebuah wawancara bung Ugo pernah bilang, “Duduk jamming dan jadi lagu sih kaya Dedy Dores”. Bagaimana sebenarnya proses Melbi menciptakan sebuah lagu?

Yang jelas enggak fix dari awal nyiptainnya. Kita udah kenal satu sama lain. Efek dari situ buat kami bikin lagu itu gampang banget. Tapi masalahnya di situ, karena gampang jadi kami enggak mencintainya dengan sepenuh hati.

Contohnya aja misalnya kita tampil di nikahan Ria Pappermoon. Itu pertama dan satu-satunya Melbi tampil di nikahan, setengah jam aja jadi dua komposisi baru. Dulu mau main pernah drummer kami beberapa jam sebelum tampil tau-tau enggak bisa dateng. Kami suruh drummernya Anggisluka gantiin dia. Aku bilang ke dia, “Terserah deh itu mau digebuk kaya gimana drumnya”. Orang bilang mungkin ekspresif, spontanitas atau whatever tapi buatku tetep aja jadinya Dedy Dores (Tertawa).

Bukan berarti Dedy Dores jelek lho ya. Dia hanya lebih tabah menyikapi lagu-lagunya. Sayangnya kita enggak setabah Dedy Dores (Tertawa).

Kita harus lebih susah payah biar cinta sama lagu kita. Kalau balik lagi ke BJS, BJS itu bahkan diciptain awalnya dari prosa. Yennu, Aan dan aku itu workshop dengan penuh kekerasan. Kita dengerin Swami, Ken Arok, dan Badai Pasti Berlalu saat itu. Kalau dari luar kita denger Pink Floyd saat workshop, bukan buat rujukan musik tapi rujukan kemungkinan-kemungkinan yang bisa diciptakan. Yosi berperan menjaga keseimbangan, kalau enggak ada Yosi enggak bakal jadi lagunya.

 

Berarti kalau dibilang anda frontman yang sangat front itu salah?

(Tertawa) Enggak ada itu frontman segala. Hanya kebetulan saya yang paling artikulatif jadi saya yang banyak bicara. Kuncinya Melbi itu ada di semuanya bukan hanya di aku.

 

Apa satu tahun bung Ugo tinggal di Amerika akan sangat berpengaruh pada proses kreatif Melbi selanjutnya?

Yang jelas jadi malu (Tertawa). Gila, di sana itu band bagus banyak banget, ibaratnya kamu dari 3rd ke 4th Avenue udah bisa nemu dua band yang bagus banget, lagi ngamen pula. Tapi mungkin itu juga jadi masalah ya. Karena kebanyakan band bagus, pertanyaannya mungkin di New York band-band jadi mikir: “ini mau ngomong apa lagi?”

Permasalahannya jadi beralih ke gimana bikin kontak sama audiensnya mungkin ya. Kebutuhan di medan produksinya itu, karena kayaknya ada kejenuhan teks dan naratif. Di teater juga gitu, jadi lebih sulit juga karena Amerika sedang krisis ekonomi, funding-funding berkurang, di ranah estetiknya juga.

Kasarnya di sana mau telanjang di panggung terus bersetubuh enggak bakal diserbu FPI juga (Tertawa). Nah kalau udah kaya gitu kan bingung jadinya komunikasinya harus gimana?

Enggak ada satu hal tunggal yang harus dijawab di sana. Kalau di sini sebenarnya kan ada urgensi yang harus segera terjawab. Misalnya apa yang harus dijawab komunitas indie atas radikalisme Islam atau FPI? Di sana enggak ada soal seperti itu. Soal itu, New York kurang (Tertawa).

Itu refleksi dari setahun saya di Amerika yang belum bulat sebenarnya. Dalam arti, aku juga enggak tahu efeknya ke Melbi dari refleksi itu gimana. Tapi kalau secara general, aku lihat dari segi teknis kita enggak kalah jauh. Tapi kalau soal rambahan estetis, ya masih jauh lah kita.

 

Tanggal 27 Juli besok Melbi bakal konser lagi setelah setahun vakum, seberapa penting konser ini?

Sebenarnya ini kan karena tugas mana yang mau kita wujudin. Dan kebetulan kita udah terlanjur janji sama pendengar Melbi. Jadi harus tanggung jawab lah kalau udah janji. Konser ini buat bayar utang lah ibaratnya.

 

Kabarnya ini juga bakal menjadi konser perpisahan Melbi lagi karena bung Ugo mau melanjutkan studi lagi, benar begitu?

Kita konser perpisahan terus ya? (Tertawa) Ya tapi ini kaya another konser perpisahan karena kecelakaan istilahnya. Just another konser kok ini. Sebenarnya kita di tahun 2007 juga cuma konser sekali. Tapi dulu kan belum ada twitter, jadi beda sama sekarang. Kalau sekarang, karena ada twitter jadinya semua orang ribut, “Eh Melbi konser sekali doang tahun ini” ya macem-macem gitu lah.

Dibilang kecelakaan karena ya aku mau studi lagi dan berangkat hari pertama lebaran. Yennu juga akan tampil ke Centre Stage pada Juni-Juli 2012 besok. Tapi kaya gini harusnya jadi pelajaran buat kita. Kalau emang konsepnya mau artists collective dan bukan band, ya harus memperluas logika itu. Sebagai kolektif, harusnya punya lima vokalis. Jadi kalau emang aku enggak cocok buat nyanyiin sebuah lagu, bisa diganti yang lain. Aku disini kan menempatkan diri sebagai penulis dan pengarang, bukan vokalis. Gampangnya, kalau enggak cocok kenapa harus gue yang nyanyi. Tapi di tahun 2002-2003 dipaksa nyanyi, yaudah terima aja (Tertawa).

 

Tadi bung Ugo bilang No Fucking Celebrity dan mengutuk istilah frontman. Tapi bukankah kalau begini terus Melbi bisa kejebak pada kutukannya sendiri? Jadi sebuah mitos yang diagung-agungin, konser aja setahun sekali.

Di titik lain, hal kayak gitu emang enggak bisa dihindarin. Kalau dilihat follower twitter kita misalnya ada 900 orang. Aku bayangin jaman SMA ada 1600 murid, kalau 900 itu ya kenal dua angkatan lah (Tertawa). Masih bisa diterima sebagai sebuah keluarga kecil. Lagipula hubungan kita sama pendengar atau yang nonton sangat direct kok, kita bukan mitos. Aku percaya kita masih berada di track yang benar dalam menolak star system. Yang seneng pun akhirnya jadi temen buat kita.

Dulu sempet mikir bikin konser tunggal itu sesuatu yang menakutkan. Tapi lama-lama mikir, “Udah nyantai aja, gak mungkin terkenal juga kok (Tertawa)” kita kan enggak pernah manggung di depan ribuan orang juga. Tapi emang setelah konser di Salihara dan Tembi, kita jadi sadar kalau ternyata keluarga kita udah jadi besar.

 

Bung Ugo akan mengambil studi apa sampai harus meninggalkan Melbi lagi?

Tahun kemarin statusku kan hanya visiting scholar. Jadi mengunjungi kelas-kelas tapi tiap bikin paper enggak bisa dilihat sama profesor karena statusku itu. Makanya aku mikir risetku enggak bakal rampung kalau begini caranya, dilihat aja enggak. Maka aku nyari beasiswa buat jadi graduate student, jadi paperku bisa dilihat dan dikasih masukan sama profesor di sana.

Kebetulan aku dapet beasiswa dari program Erasmus Mundus dengan program yang sama yakni performance studies. Aku bakal studi di Universitas Amsterdam satu semester untuk kemudian lanjut ke Warwick University di Coventry, Inggris.

 

***

Tulisan ini dimuat dalam Jakartabeat pada 26 Juli 2011

 

Advertisements