Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Pendokumentasian kerap dianggap hal yang sepele dan tersisihkan di Indonesia. Tak jarang penelitian-penelitian penting harus berujung pada kebuntuan karena minimnya pendokumentasian mengenai banyak hal.

 

Namun jangan sekali-sekali menyepelekan pendokumentasian di depan Wok The Rock. Pria pemilik netlabel Yes No Wave Music di Yogyakarta ini amat peduli dengan masalah pendokumentasian, khususnya di bidang musik.

 

Setelah sempat membuat proyek We Need More Stages (sebuah arsip foto dan video tentang pesta pertunjukan musik di Indonesia), belum lama ini ia juga menjadi salah satu kurator dan garda terdepan proyek Album Jogja Istimewa 2010 yang memiliki semangat mendokumentasi generasi subkultur musik di Yogyakarta dalam sebuah cakram padat.

 

Ia kini melanjutkan semangat pendokumentasiannya lewat sebuah proyek buku yang ia garap bersama penerbit Else Press dari Bandung. Proyek yang ia beri nama Untukmu Generasiku dimaksudkan sebagai sebuah medium retrospeksi, pengarsipan, dan pendokumentasian atas subkultur punk yang berkembang di Indonesia.

 

Ardi Wilda, kontributor Jakartabeat.net, mewawancarai Wok The Rock dan berbincang tentang beragam hal. Mulai latar belakang proyek ini sampai harapannya pada buku ini. Saat menerima daftar pertanyaan, Wok the Rock sempat berkata singkat, “Banyak banget pertanyaannya”.

 

Berikut ini adalah perbincangan dengan Wok The Rock mengenai proyek bukunya  itu.

 

Jakartabeat: Bisa dijelaskan apa yang melatarbelakangi proyek Untukmu Generasiku?

Wok The Rock : Sebagai salah seorang yang aktif dalam tumbuhnya subkultur punk di Jogja pada paruh akhir 1990-an, saya adalah orang yang ceroboh. Saya banyak kehilangan artefak yang pernah saya buat pada kurun waktu tersebut.

Dan hal ini juga banyak terjadi pada teman-teman yang lain. Kesadaran untuk menyimpan atau mengarsipkan harusnya memang menjadi agenda utama bagi siapapun untuk mencatat sejarahnya.

Hal ini sangat penting karena catatan sejarah merupakan salah satu kunci dalam kelangsungan hidup sebuah subkultur yang dibangun secara mandiri. Atas dasar pengalaman inilah, ide untuk membuat sebuah buku dokumentasi subkultur punk di Indonesia menjadi agenda yang mendesak untuk dikerjakan.

 

Mengapa anda menaruh perhatian pada subkultur punk, apa yang menarik dari subkultur ini menurut anda?

Karena saya adalah bagian dari subkultur tersebut. Bagi saya, punk yang berkembang di sini telah memberikan sumbangsih yang sangat besar pada gaya hidup dan sikap mandiri anak muda di Indonesia.

Industri kreatif yang telah berkembang pesat saat ini tak lepas dari konsep do-it-yourselfyang diadopsi dari luar negeri dan dikembangkan dengan baik oleh subkultur ini. Jika pada kenyataannya hal ini juga telah dikooptasi oleh industri mainstream, namun secara ideologis justru mereka (industri mainstream) telah ‘terkalahkan’ oleh kultur pinggiran ini.

 

Bagaimana sejarah keterkaitan anda dengan komunitas punk baik secara lokal maupun nasional?

Punya band yang memainkan musik punk di Jogja pada tahun 1990-an itu tidak mudah. Musik yang kasar dan amburadul, dandanan yang nyentrik dan perilaku yang provokatif bukanlah hal yang menarik perhatian event-organizer dan label rekaman besar. Untuk itu dibutuhkan energi dan inisiatif yang besar.

Semua harus dilakukan secara mandiri tanpa ketergantungan pada pihak-pihak yang tidak memiliki visi yang sama. Berangkat dari situasi seperti ini dan didukung oleh wacana tentang do-it-yourself, anak-anak punk kemudian berkelompok dalam komunitas dan bekerja secara kolektif untuk membangun dunianya sendiri.

Tahun 1999 saya dan beberapa teman dalam komunitas membuat sebuah label rekaman untuk membantu produksi dan distribusi rekaman yang dihasilkan oleh band-band punk di Jogja. Kemudian membangun jaringan dengan komunitas dari kota-kota lainnya untuk memperkuat aktifitas, jalinan pertemanan dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Jaringan ini bersifat sangat luas, tidak hanya nasional tapi hingga skala internasional.

 

Dalam pengantar proyek buku ini dijelaskan bahwa tujuan proyek ini adalah menghimpun dokumen visual (foto dan gambar) subkultur punk. Mengapa medium foto yang dipilih sebagai sebuah bentuk arsip punk?

Seri pertama adalah foto dan gambar, lalu seri kedua memuat data-data teks.

 

Sebelum proyek ini apa pernah ada sebuah usaha dalam hal pendokumentasian subkultur punk di Indonesia?

Tentu saja ada, namun masih bersifat lokal. Proyek ini mencoba untuk mengumpulkan data-data lokal tersebut dalam satu wadah.

 

Secara pribadi sebelum menjalankan proyek ini anda telah membuat We Need More Stages dan juga menjadi salah satu inisiator Jogja Istimewa yang semangatnya juga pendokumentasian. Anda tampaknya begitu tertarik dengan gagasan pendokumentasian?

Seperti kata Bung Karno: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebagai orang yang lahir di era Orde Baru, kita juga sudah merasakan bagaimana hidup dalam sebuah pemahaman sejarah yang telah dimodifikasi oleh penguasa.

Untuk itu, pengarsipan dokumentasi atas sejarah hidup kita sendiri wajib menjadi agenda penting untuk dilakukan. Supaya catatan-catatan tersebut bisa dikelola secara mandiri dan kemudian menjadi bahan yang kongkret untuk dipelajari oleh generasi selanjutnya.

 

Di situs proyek ini anda menaruh enam bank data di enam daerah (Jabotabek, Malang, Jogja, Palembang, Bandung dan Bogor). Ada alasan tertentu kenapa enam daerah tersebut yang dipilih sebagai bank data? Atau komunitas punk memang tumbuh subur di keenam daerah tersebut?

Bank data tidak terbatas pada enam daerah tersebut. Pos pengumpulan data ini sangat terbuka luas bagi siapa saja. Pengiriman data juga bisa dilakukan melalui weblog.

 

Sampai saat ini sudah berapa dokumentasi foto dan gambar yang terkumpul?

Saat ini lebih fokus di bab pertama dari seri pertama yaitu foto. Jumlah pastinya saya belum tahu, tapi kira-kira sudah ada lebih dari 500-an, yang masih tersebar di beberapa pos pengumpulan data.

 

Ada target tertentu mengenai jumlah dokumentasi foto dan gambar yang akan dikumpulkan?

Seperti biasa ada keterbatasan jumlah halaman. Saya juga belum memutuskan akan ada berapa foto yang dipublikasikan karena layout buku nantinya juga akan mempengaruhi.

 

Dari dokumen yang saat ini terkumpul apa sudah terlihat mulai kapan subkultur punk tumbuh dan berkembang di masyarakat?

Kira-kira awal tahun 1990-an. Baik di Jakarta, Jogja, Malang dan Bandung. Saya juga belum terhubung dengan orang-orang dari era 1970-an dan 1980-an.

 

Pada penjelasan proyek ditulis bahwa dari data yang terkumpul akan dibagi secara periodisasi waktu. Mengapa pembagian yang dipilih berdasarkan periode?

Periodisasi waktu penting untuk melacak jejak awal munculnya subkultur ini karena berkaitan dengan pencatatan sejarah. Selanjutnya baru bisa melakukan kategorisasi fashion, umur, lokasi dan lain sebagainya.

 

Anda nantinya akan membagi buku ini menjadi dua bagian yakni periode 1980-1990-an hingga 2000 dan periode 2001 hingga 2010. Dari data dan pendapat anda apa yang membedakan subkultur punk pada dua periode tersebut?

Era sebelum 1990-an hingga 2000 adalah masa dimana subkultur ini lahir dan mulai bergerak. Kemudian era 2000 hingga 2010 bisa dibilang sebagai sebuah dekade awal perkembangannya yang sangat pesat beserta fenomena yang terjadi di dalamnya.

 

Mengapa anda tidak mengkategorikan buku ini berdasarkan scene-scene besar punk yang pernah tumbuh seperti pada buku Punk Production saat menggambarkan pergerakan punk di Amerika dan Inggris?

Usia subkultur ini di sini jelas sangat berbeda dengan yang terjadi di Amerika dan Inggris. Lagipula, hanya menampilkan scene-scene besar akan memperpanjang wacana sentralisasi yang merupakan isu yang harus dilawan di negara ini.

 

Atau anda merasa pergerakan punk di negeri ini tidak berasal dari scene-scene besar layaknya yang terjadi di Amerika?

Sebenarnya memang pergerakan punk di sini juga berasal dari scene-scene besar, tapi kan tidak sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika jika hanya mengekspos scene-scene besar saja.

 

Di penjelasan proyek buku ini anda juga menulis nantinya hasil penjualan buku ini akan digunakan untuk membuat lembaga kearsipan bernama PAPI (Pusat Arsip Punk Indonesia). Bisa anda gambarkan tentang lembaga itu nantinya?

Lembaga ini nantinya bersifat kolektif dan terbuka. Tugas utamanya adalah mengarsipkan dokumentasi subkultur punk di Indonesia dan juga bertujuan untuk mendistribusikan data-data tersebut sebagai bahan acuan penelitian, kekaryaan, materi publikasi yang bersifat non-profit.

Pengennya sih juga bisa sebagai advokasi terhadap komersialisasi data. Ini adalah cita-cita besar yang membutuhkan energi yang besar, waktu yang panjang dan rumusan-rumusan tetek bengek yang cukup rumit.

 

Dalam tulisan Fathun Karib di Jakartabeat.net mengenai komunitas punk di Jakarta dijelaskan bahwa komunitas awal punk di Jakarta tumbuh dari penonton-penonton musik thrash metal, anda juga melihat hal itu juga terjadi di luar Jakarta?

Menurut saya sih ada yang berasal dari thrash metal dan ada yang dari scene lainnya. Karena seperti kita tahu, thrash metal sempat ‘mati suri’ di era 1990-an. Karena saat itu musik alternatif rock atau grunge yang sedang populer.

Saya sendiri mulai masuk di scene punk saat saya lagi gandrung sama alternatif rock dan brit-pop meskipun thrash metal bagi saya adalah musik yang paling pas.

Bagi saya, punk adalah mata rantai yang hilang dari pengalaman saya mengikuti perkembangan musik rock dari tahun 1983. Ketika akses informasi tentang punk terbuka luas di sini pada tahun 1990-an, ini menjadi asupan yang sangat berarti bagi saya untuk memahami munculnya thrash metal dan alternatif rock yang kemudian membuka gerbang sejarah musik-musik underground dan eksperimental lainnya berikut ideologi dan pergerakan yang menyertainya.

 

Dalam tulisannya itu, Fathun Karib juga menulis lahirnya generasi awal punk di Jakarta antara tahun 1989-1990. Dari data yang sudah anda kumpulkan sampai saat ini apa semua daerah melahirkan generasi punk juga pada periode itu?

Ya, untuk beberapa kota dengan akses informasi yang lebih luas dan cepat.

 

Apa anda melihat pengaruh media (baik mainstream maupun non mainstream) dalam pergerakan komunitas punk?

Jelas. Tidak bisa dipungkiri popularitas Nirvana telah mengantarkan Rancid dan Green Day menjadi pemicu awal maraknya penggemar musik punk di Indonesia. Zine seperti Maximum Rocknroll, Flipper, Profane Existence dan lainnya menjadi referensi yang penting.

 

Sebelum era internet, zine memegang peranan penting dalam perkembangan komunitas punk di Indonesia. Bagaimana anda melihat peran zine saat ini?

Sebenarnya aplikasi seperti maling-list, bulletin board, weblog atau website merupakan medium baru yang bisa digunakan untuk menerbitkan sebuah zine. Justru lebih sporadis dan efektif karena bisa dengan mudah menambahkan konten lagu dan video.

Untuk yang media cetak, zine di Indonesia juga masih bertahan dan sangat aktif, bahkan konsep isinya pun mulai berkembang ke wacana yang lebih beraneka ragam.

 

Dalam tulisan Fathun Karib di Jakartabeat.net soal sejarah komunitas punk di Jakarta itu juga dituliskan bahwa generasi punk pada tahun 2000 mendapatkan informasi lewat internet dan media. Tidak seperti pada masa sebelumnya lewat interaksi dan sosialisasi diantara komunitas punk. Apa pengaruh hal ini terhadap komunitas punk?

Situs jejaring sosial sebenarnya telah mempermudah interaksi dan sosialisasi antar komunitas. Bahkan tak jarang yang menemukan pasangan hidupnya dari aplikasi tersebut. Perjumpaan secara fisik masih sering terjadi terutama di gigs yang dari dulu sampai sekarang menjadi sebuah gathering, tidak sekedar nonton band aja.

Justru berkat kemudahan yang diberikan oleh teknologi tersebut saat ini mulai banyak band yang mengadakan tur secara kolektif di berbagai daerah. Tidak ada jarak antara band, penyelenggara acara dan penonton. Tidak seperti ketika anda nonton Kangen Band atau Soundrenalin.

 

Dalam perkembangannya, seperti pernah ditulis Fransiska Titiwening, pernah terjadi komunitas punk dekat dengan elemen politik dalam hal ini Partai Rakyat Demokratik (PRD) ketika Reformasi. Anda melihat hal itu masih mungkin terjadi saat ini?

Mungkin saja. Orang yang mengaku dirinya punk kan macam-macam jenisnya.

 

Apa masih ada kontestasi antara komunitas punk yang politis dengan yang apolitis seperti pada saat bergulirnya reformasi dahulu?

Mungkin masih ada. Tapi sikap politis dan apolitis sudah tidak menarik lagi karena hanya akan menghancurkan scene yang sudah susah payah dibangun. Yang paling penting adalah sikap saling berbagi, inisiatif, mandiri dan peka pada perkembangan jaman.

 

Saat ini subkultur punk terkadang dikomodifikasi dalam industri hiburan seperti misalnya munculnya dandanan punk dalam film “Menggapai Matahari” di dekade 80-an yang dibintangi Rhoma Irama atau belum lama ini sebuah film “Punk in Love”. Bagaimana anda melihat komodifikasi punk di industri hiburan?

Yang dikomodifikasi kan hanya citra-nya saja. Scene punk sudah banyak makan asam-garam soal beginian. Seperti yang saya bilang sebelumnya, secara konsep justru mereka (industri mainstream) yang terlihat sudah kehilangan akal dan gagasan. Lagipula sekarang lebih mudah untuk bikin film sendiri.

 

Anda sendiri kini menetap di kota Jogja. Apa yang bisa digambarkan mengenai perkembangan punk di kota ini?

Sejauh pengamatan saya, scene punk di Jogja saat ini kurang aktif dan inisiatif dibanding di kota-kota lainnya. Meskipun banyak acara musik yang digelar, aktivitas lainnya kurang berimprovisasi. Jumlah rilisan album tidak banyak, aksi-aksi seperti food not bomb jarang diadakan dan penerbitan zine jumlahnya juga tidak banyak. Hadirnya blog seperti Jogja Berdikari yang membagikan rilisan album-album secara gratis cukup memberikan angin segar di Jogja.

 

Apa harapan anda setelah buku ini terbit nanti?

Masyarakat luas jadi lebih punya bacaan bermutu dan para orangtua jadi lebih berhati-hati jika anaknya mulai nge-punk, hahahaha.

 

***

Tulisan ini dimuat dalam Jakartabeat pada 7 Januari 2011.

Advertisements