Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Jangan-jangan yang kita butuhkan bukan perdebatan tapi sebuah percakapan.

 
“Koe melu demo ra (Kamu ikut demo)? Nginep omahku nek melu.” Pesan itu saya kirim kepada seorang sahabat pada tanggal 4 November lalu. Ya, pada tanggal itu ada demo besar di Jakarta. Setelah membaca konten-konten yang ia unggah di facebook, saya menyangka ia akan pergi ke Jakarta untuk berunjuk rasa. Nyatanya ia hanya menjawab singkat, “Ora sob, aku ora melu demo.” Dugaan saya keliru.

 

Continue reading

Selalu ada seorang teman yang membuat kita menyesal karena tak pernah mencoba melakukan apa yang kita percaya. Bagi saya teman itu bernama Efan.

 

Sorot lampu panggung hanya mengarah ke tengah. Sinarnya dominan menerangi duo vokalis. Sisi kanan panggung cenderung gelap. Yang terlihat hanya gitar washburn semi hollow berwarna merah. Rambut kribo dan baju hitam membuat sang gitaris semakin tak terlihat. Perlu beberapa detik untuk memastikan di sisi kanan panggung ada sosok yang lama tak saya temui, Efan.

Continue reading

Memahami, mungkin berbeda dengan menggauli. Dalam kasus saya, pasar.

 

Saya baru meletakkan tas di ruang tamu ketika ibu menerima telepon. Ia sempat bingung saat melihat nama penelepon, “Ngopo (kenapa) Lanut telepon?”

 

Lanut adalah pedagang kaki lima di depan toko ibu. Dagangannya payung lipat, mantel, dan segala hal untuk melindungi diri dari hujan. Jarang sekali Lanut menelepon, hanya saat ada urusan penting. Malam itu sangat penting.

 

Nada bicara ibu di telepon menandakan ada yang tidak beres. Saya mematikan televisi agar bisa menerka apa yang terjadi. Bapak mendekat ke ibu. Kurang dari lima menit, ibu menutup teleponnya. Ia hanya mengatakan, “Pasar kebakaran.”

Continue reading

Buku pwissie Beni Satryo, Pendidikan Jasmani dan Kesunyian.

Buku pwissie Beni Satryo, Pendidikan Jasmani dan Kesunyian.

 

Saya rasa puisi Beni mirip dengan ruang tunggu BRI. Sederhana. Ada harapan dan putus asa khas orang kebanyakan.

 

Kaus anak itu berwarna merah jambu. Gambarnya tugu monas. Bahannya yang kasar menyebabkan beberapa sisi sablonan retak. Lelah menunggu, ia bersandar di pundak ibunya.

 

Si Ibu mengenakan bando plastik putih polos. Rambut panjangnya terikat kurang rapi. Beberapa uban terlihat. Ia menghitung uang lima puluh ribuan dan beberapa lembar lima ribuan. Matanya melihat ke papan nomor antrian, menunduk lagi. Belum gilirannya.

Continue reading

“Jaraknya cuma 500 meter dari Stasiun Cilebut, Alhamdulillah banget Sob.”

 

Noel datang telat dari waktu yang kami sepakati. Kami berjanji bertemu di kedai martabak bilangan Cikini. Ia datang dengan gelak tawa, macam baru menang lotre. Baju kotak-kotak merahnya senada dengan wajah merah hasil kemacetan Jakarta. Wajahnya memang letih, namun tak bisa menutupi kegembiraan yang ia bawa malam itu.

 

Sambil menyantap martabak, ia bercerita panjang lebar soal rencana masa depan. “Sob, aku baru ngambil rumah di Cilebut, jaraknya cuma 500 meter dari Stasiun Cilebut. Alhamdulillah banget Sob. Tiga bulan lagi bisa ditempatin,” ujarnya penuh semangat.

Continue reading

Buku Menjejal Jakarta karya Viriya Paramita terbitan Pindai (2015).

Buku Menjejal Jakarta karya Viriya Paramita terbitan Pindai (2015).

 

Namanya sederhana, Slamet. Sayang akhir hidupnya tak sesuai namanya. Slamet si pedagang angkringan itu mati bunuh diri.

 

Goenawan Mohamad (GM) menuliskan kisah Slamet dalam salah satu Catatan Pinggir (Caping). Ia mengurai kematian Slamet dalam konteks yang lebih luas, krisis kedelai.

 

GM menarasikan Slamet hanya bisa membawa pulang Rp 8.000, sementara belanja bahan yang ia perlukan mencapai Rp 100.000. Ia kemudian dengan cerdik menjadikan Slamet sebagai sebuah indikator perubahan besar.

Continue reading

Saya menengok ke kiri. Kepala ibu sejajar dengan bahu saya. Kini, saya jauh lebih tinggi darinya.

 

Siang itu, saya dan ibu berjalan menuju Stasiun Klender Baru. Ibu hendak pergi ke tokonya di Jatinegara, saya menuju Cikini. Kereta kami searah.

 

Butuh waktu sekitar lima belas menit dari rumah sampai stasiun. Di perjalanan ibu bercerita tentang stok baju di tokonya, langganan yang bertambah, dan banyak berita baik lainnya. Tipikal, ia tak pernah menceritakan kabar buruk.

Continue reading

Saya ingat bagaimana pertama memerhatikan Teddy. Kami bertemu di sebuah kelas penulisan. Ia punya ciri khas menarik, jauh dari stereotip penulis. Ia selalu mengenakan kemeja. Kemeja rapi khas kantoran, bukan flanel. Saya menganggapnya orang kantoran biasa.

 

Dalam sebuah sesi, Teddy maju membacakan ceritanya. Tentang sebuah penjara di Filipina atau salah satu negara Asia Tenggara, saya lupa tepatnya. Tulisan Teddy penuh dengan akrobat kata. Tipikal tulisan yang sangat tidak saya sukai. Ceritanya kering, terlalu kering. Saya mengkritik tulisan itu. Mungkin sedikit kasar.

Continue reading

“Kalau enggak banyak asap rokok, Anio bisa ikut malam ini,” ujar Marcel Thee sebelum memainkan ‘Fatamorgana’.

 

Ucapan itu Marcel lontarkan ketika ia bersama Sajama Cut melakukan konser perayaan album terbarunya, Hobgoblin, di 365 Eco Bar Kemang pada Kamis (17/9) lalu.

 

Marcel kemudian mengulurkan dua telapak tangannya ke depan. Ia menggunakannya untuk mengasosiasikan dua hal. Pertama, ia secara berkelakar mengatakan “yang haram-haram”. Itu adalah kelakarnya untuk merujuk pada suasana konser yang tak ramah bagi Anio, anaknya, karena asap rokok dan minuman yang ada. Telapak tangan kedua merujuk ke anaknya. “Jadi enggak cocok ini keduanya,” tukasnya bersikap sebagai seorang ayah.

Continue reading

“Anakku belum sampai rumah,” kata perempuan itu kepada rekan kerja di sampingnya.

 

Perempuan itu, berusia sekitar 35 tahun, melayani saya saat hendak membeli penyimpan data untuk komputer. Ia memberi tahu harga-harga produk yang saya taksir. Di tengah aktivitasnya, panggilan telepon masuk. Setelah berbincang melalui telepon selulernya, seketika wajahnya berubah. Bicaranya terbata. Rambutnya ia sibak berulang kali. Ia cemas.

Continue reading