Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Apakah Sintas melulu soal keterbatasan penglihatan? Atau cara pandang (kita) yang terbatas melihatnya seperti itu?

 

Lampu belum seluruhnya menyala ketika Dimas Ario berlari menuju panggung. Sambil menaiki anak tangga panggung, ia cekatan menjulurkan tangannya. Di depan Dimas, berdiri seorang pria yang mencoba menggapai uluran tangannya. Telapak tangan pria yang mengenakan sweater krem plus topi pet hitam tersebut berhasil menggapai jari-jari Dimas. Bersamaan dengan itu, seorang penonton di depan saya berbisik kepada temannya, “Cakep mainnya Adrian.”

 

Kejadian itu terjadi pada acara bertajuk “Supersonik 18” beberapa pekan lalu di IFI Jakarta. Sore itu, Adrian Yunan menjadi penampil pembuka untuk Band Sore. Ia membawakan beberapa nomor di album solo perdananya bertitel Sintas.

 

Ketika Adrian digandeng keluar panggung, saya baru sadar penglihatannya belum (seratus persen) pulih.

Continue reading

Cikini seperti etalase. Kita bisa melihat apa yang dipajang tapi tak pernah tahu siapa yang memajang.

 

Gang itu berukuran dua sepeda motor ditaruh berdampingan. Kiri kanannya dipenuhi pot tanaman. Di tengah gang terdapat gerobak barang bekas berisi botol air mineral plastik. Stiker calon gubernur bekas pilkada masih tertempel di pintu-pintu rumah.

 

Sekitar selusin bocah berlarian di gang itu. Pakaiannya tipikal anak pengajian Taman Pendidikan Alquran (TPA). Baju koko, peci putih, dan sarung yang dimainkan untuk jadi semacam cambuk. Salah satu anak itu bertanya pada saya, “Mau salat, Bang?”

Continue reading

Dua individu. Dua tempat. Dengan dua wajah?

 

Setiap mengambil handuk di jemuran lantai atas, saya menyempatkan diri menengok ke bawah. Di depan rumah saya ada sebuah rumah yang dibelah dua. Alasannya sederhana, si empunya rumah memiliki dua anak yang belum punya kediaman, maka ia membagi sudung untuk kedua anaknya. Rumah sisi kiri diisi anak tertua, sementara yang kanan ditempati anak bungsu.

 

Belum lama ini si anak sulung mengalami musibah. Saya lupa detailnya, intinya ia tak bisa lagi berjalan normal. “Waktu itu pernah ditawari operasi, tapi kemungkinannya 60-40, saya enggak berani,” ceritanya suatu kali.

Continue reading

Bagaimana jika tempat yang sangat kita kenal menjadi terasa begitu berjarak?

 

Omah kulo tebe, Mas. Cerak Parangtritis, 22 kilo lah (Rumah saya jauh mas sekitar 22 km, letaknya dekat Pantai Parangtritis),” ujar pengayuh becak motor. Pria paruh baya itu bercerita lancar ketika mengantar saya ke rumah pakde saya di Jogokariyan. Ia bercerita pilihannya mengganti becak ontel (tanpa mesin) menjadi becak motor karena tenaganya tak sekuat dulu. Ia menyatakan belum ada aturan jelas soal becak motor, tetapi ia tak punya pilihan.

 

Ceritanya mengantar saya melalui Jalan Jogokariyan. Kami masuk ke Jalan Jogokariyan melalui Jalan Parangtritis. Gapura besar bertuliskan “Kampung Ramadhan Jogokariyan” menyambut kami.

Continue reading

Jangan-jangan yang kita butuhkan bukan perdebatan tapi sebuah percakapan.

 
“Koe melu demo ra (Kamu ikut demo)? Nginep omahku nek melu.” Pesan itu saya kirim kepada seorang sahabat pada tanggal 4 November lalu. Ya, pada tanggal itu ada demo besar di Jakarta. Setelah membaca konten-konten yang ia unggah di facebook, saya menyangka ia akan pergi ke Jakarta untuk berunjuk rasa. Nyatanya ia hanya menjawab singkat, “Ora sob, aku ora melu demo.” Dugaan saya keliru.

 

Continue reading

Selalu ada seorang teman yang membuat kita menyesal karena tak pernah mencoba melakukan apa yang kita percaya. Bagi saya teman itu bernama Efan.

 

Sorot lampu panggung hanya mengarah ke tengah. Sinarnya dominan menerangi duo vokalis. Sisi kanan panggung cenderung gelap. Yang terlihat hanya gitar washburn semi hollow berwarna merah. Rambut kribo dan baju hitam membuat sang gitaris semakin tak terlihat. Perlu beberapa detik untuk memastikan di sisi kanan panggung ada sosok yang lama tak saya temui, Efan.

Continue reading

Memahami, mungkin berbeda dengan menggauli. Dalam kasus saya, pasar.

 

Saya baru meletakkan tas di ruang tamu ketika ibu menerima telepon. Ia sempat bingung saat melihat nama penelepon, “Ngopo (kenapa) Lanut telepon?”

 

Lanut adalah pedagang kaki lima di depan toko ibu. Dagangannya payung lipat, mantel, dan segala hal untuk melindungi diri dari hujan. Jarang sekali Lanut menelepon, hanya saat ada urusan penting. Malam itu sangat penting.

 

Nada bicara ibu di telepon menandakan ada yang tidak beres. Saya mematikan televisi agar bisa menerka apa yang terjadi. Bapak mendekat ke ibu. Kurang dari lima menit, ibu menutup teleponnya. Ia hanya mengatakan, “Pasar kebakaran.”

Continue reading

Buku pwissie Beni Satryo, Pendidikan Jasmani dan Kesunyian.

Buku pwissie Beni Satryo, Pendidikan Jasmani dan Kesunyian.

 

Saya rasa puisi Beni mirip dengan ruang tunggu BRI. Sederhana. Ada harapan dan putus asa khas orang kebanyakan.

 

Kaus anak itu berwarna merah jambu. Gambarnya tugu monas. Bahannya yang kasar menyebabkan beberapa sisi sablonan retak. Lelah menunggu, ia bersandar di pundak ibunya.

 

Si Ibu mengenakan bando plastik putih polos. Rambut panjangnya terikat kurang rapi. Beberapa uban terlihat. Ia menghitung uang lima puluh ribuan dan beberapa lembar lima ribuan. Matanya melihat ke papan nomor antrian, menunduk lagi. Belum gilirannya.

Continue reading

“Jaraknya cuma 500 meter dari Stasiun Cilebut, Alhamdulillah banget Sob.”

 

Noel datang telat dari waktu yang kami sepakati. Kami berjanji bertemu di kedai martabak bilangan Cikini. Ia datang dengan gelak tawa, macam baru menang lotre. Baju kotak-kotak merahnya senada dengan wajah merah hasil kemacetan Jakarta. Wajahnya memang letih, namun tak bisa menutupi kegembiraan yang ia bawa malam itu.

 

Sambil menyantap martabak, ia bercerita panjang lebar soal rencana masa depan. “Sob, aku baru ngambil rumah di Cilebut, jaraknya cuma 500 meter dari Stasiun Cilebut. Alhamdulillah banget Sob. Tiga bulan lagi bisa ditempatin,” ujarnya penuh semangat.

Continue reading

Buku Menjejal Jakarta karya Viriya Paramita terbitan Pindai (2015).

Buku Menjejal Jakarta karya Viriya Paramita terbitan Pindai (2015).

 

Namanya sederhana, Slamet. Sayang akhir hidupnya tak sesuai namanya. Slamet si pedagang angkringan itu mati bunuh diri.

 

Goenawan Mohamad (GM) menuliskan kisah Slamet dalam salah satu Catatan Pinggir (Caping). Ia mengurai kematian Slamet dalam konteks yang lebih luas, krisis kedelai.

 

GM menarasikan Slamet hanya bisa membawa pulang Rp 8.000, sementara belanja bahan yang ia perlukan mencapai Rp 100.000. Ia kemudian dengan cerdik menjadikan Slamet sebagai sebuah indikator perubahan besar.

Continue reading