Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Apa gambaran terbaik tentang ironi keluarga Indonesia? Bagi saya jawabnya jelas: Grup WhatsApp Keluarga.” 

 

Saya punya pakde yang hobinya unik. Ia senang sekali meneruskan pesan dari grup WhatsApp yang ia ikuti ke grup keluarga besar kami. Apapun bentuk pesan itu: Mulai dari gambar bunga sampai kritik pada negara, tentu tak lupa lawakan ala orang tua. Tak jarang pula, ia mengirim informasi nir-verifikasi. 

 

Dulu, saya menganggapnya menyebalkan. Langkah selanjutnya jelas solusi instan, saya memilih keluar dari grup WhatsApp keluarga. Namun, lama kelamaan saya malah penasaran kenapa pakde saya senang meneruskan pesan?

Continue reading

WhatsApp Image 2020-02-01 at 13.05.26

Tentang mereka yang hadir di kepala saat Konser Efek Rumah Kaca. 

 

Tepat ketika memasuki M-Bloc, saya melihat sosoknya. Ia yang menyita perhatian publik beberapa bulan lalu. Aparat sempat menahannya beberapa jam entah dengan alasan apa. Sejatinya ia tak layak ditahan, ia hanya mendukung upaya-upaya mahasiswa dan masyarakat sipil untuk merawat reformasi. 

 

Sejak penahanan itu, kami belum pernah bertemu lagi. Kami hanya bisa mencoba menebak kabar masing-masing. Malam itu, rasa penasaran kami terbalas. 

Continue reading

Apa yang membuat kita merasa lebih berhak memperjuangkan sesuatu daripada yang lain? 

 

Ini cerita tentang seorang teman. Saya akan memulainya dengan gambaran yang tipikal. Ia Tionghoa. Tinggal di Kelapa Gading. Berasal dari kelas sosial yang lebih baik daripada saya. Saya sering menyapanya dengan panggilan “Cici”. Sebuah panggilan yang juga tipikal dan merujuk pada minoritas ganda: Ras dan Gender.

 

Saya tak punya irisan latar belakang dengannya. Kelas, gender, ras, pergaulan, dan segala atribut keseharian kami berbeda. Maka, formula tercepat adalah memasukkannya ke dalam sebuah kantong persepsi. Konsekuensinya jelas: Stereotip. 

Continue reading

Kenapa kita terobsesi dengan fisik bangunan, bukan interaksi di dalamnya?

 

Pemandangan ‘estetis’ saya temui di samping Galeri Nasional. Beberapa tukang bangunan berjejer di depan gedung yang sedang mereka bangun. Dua tiga kuli memesan siomay yang mangkal di depan mereka. Wajah berminyak kelelahan berpadu padan dengan warna-warni rompi bangunan.

 

Di belakangnya, spanduk besar bergambar pohon-pohon ditempel di seng depan bangunan untuk menutup rangka-rangka yang berantakan. Jelas dalam rangka kamuflase keindahan. Tipikal. 

Continue reading

Apa yang membuat kita tetap waras saat dewasa? Karena kita pernah muda. 

 

Dua bulan ini, sepupu saya dari Solo menumpang tinggal di rumah. Ia magang dalam sebuah rumah produksi kecil di ibukota. Perawakannya tipikal mahasiswa era 90-an: Rambut gondrong keriting, tas selempang dari goni, tak ketinggalan menenteng buku-buku khas pergerakan.

 

Saat melihatnya, saya seperti berkata dalam hati, “been there”. Sayangnya, bukan itu yang terucap di mulut, yang saya katakan padanya justru nasehat-nasehat normatif. Mulai dari memintanya untuk mencukur rambut karena Jakarta panas, mengingatkan untuk tetap serius kuliah agar indeks prestasinya membaik, dan petuah-petuah lainnya.

Continue reading

Apa yang membuat amarah membuncah? Jawabnya sederhana: Air mata yang tumpah. 

 

Ini cerita seorang kawan yang saya kenal sejak delapan tahun lalu. Saya meragukannya saat pertama kali kenal. Kami sama-sama menjadi relawan pengajar di wilayah Selatan Sumatera. 

 

Ia sangat berbeda dengan saya. Tipikal anak pintar di kampus, hidupnya tertata rapi, dan selalu bertindak dengan rencana. Sementara saya adalah antonim dari itu semua. 

 

Sayangnya, stereotipe memang bekerja dengan cara yang jahat, sangat jahat. Saya termakan stereotipe itu.

Continue reading

Bagaimana jika kita tak pernah merasa menjadi bagian dari kelas tertentu? 

 

Pelayan itu mengenakan baju putih. Berbeda dengan warna baju pelayan lainnya. Perawakannya senada dengan warna bajunya. Polos.

 

Tingkahnya kikuk, agaknya ia masih dalam masa pelatihan.

 

Sial, sore itu nasib mujur benar-benar menjauhinya. Di pojokan restoran, ia terpeleset saat mengantarkan minuman. Bukan hanya tiga gelas yang pecah, kepercayaan dirinya juga ikut ambyar.

Continue reading

Jika keluarga adalah sebuah buku cerita roman, saya mengusulkan satu nama untuk menuliskannya. Namanya Riri Riza.

 

Semua bermula dari sebuah WhatsApp ibu, “Wilda mau ikut mudik enggak?” Setelah beberapa tahun tak mudik, ibu ingin mengunjungi kampung halamannya. Ibu tak mau pergi tanpa saya, ia tak mau saya sendirian saat lebaran. Keputusan terakhir ada di saya.

Continue reading

Jika ada pertanyaan trivia, di mana tempat paling puitis di Jakarta, saya akan mengajukan satu jawaban: Karet. Tepatnya kompleks pemakaman Karet.

 

Pagi ini saya membaca ulang buku-buku bertema Lebaran. Salah satu yang saya baca adalah kumpulan cerpen “Lebaran di Karet, di Karet…” yang ditulis Umar Kayam. Buku itu saya temukan di kamar lama kakak saya. Kondisinya berdebu.

 

Setelah saya bersihkan, saya langsung membuka bagian paling penting buku itu. Cerita ketika Is, tokoh utama cerpen itu, ingin nyekar ke makam Rani (almarhumah istrinya) di Jeruk Purut. Is hanya bisa nyekar sendirian karena ketiga anaknya berada di luar negeri. Tipikal juxta posisi ala Pak Kayam: Yang tradisional lawan global.

Continue reading

Ode untuk toko roti tempat kencan terakhir Gie dengan Kartini.

 

Bu Sinta menjauhkan buku saya dari matanya. Ia agaknya lupa membawa kacamata plusnya. Bola matanya kelabakan membaca font ukuran 12. Ia mengangguk pelan sebelum mengucapkan sebuah kalimat, “Oh Gie pernah ke sini.”

 

“Ke sini” merujuk pada toko roti kecilnya di bilangan Matraman, Toko Roti Tegal.

Continue reading