Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Setelah ibu meninggal, saya memandang hidup dengan cara yang sangat berbeda. Tulisan ini adalah upaya saya untuk mencintai lagi kehidupan, walau tanpa ibu.


Sepanjang hidup, ini adalah tulisan yang paling saya takuti. “Bagaimana jika saya harus berpisah dengan ibu?”


Butuh waktu lama untuk sekadar berani memulai tulisan ini. Ada air mata yang terus saya lawan untuk menyelesaikannya. Beberapa kali saya mengurungkan niat untuk menyelesaikan tulisan ini.


Tiap kali saya berupaya berhenti, saya ingat ibu selalu mengajari untuk berani. Obituari ini bukan hanya untuk ibu, obituari ini untuk memberi nyawa pada kehidupan saya selanjutnya.

  Continue reading

Saya memahami bapak ketika ia melepaskan identitasnya sebagai bapak. Ketika ia menunjukkan bahwa tak apa menjadi rapuh.


Magrib beberapa hari lalu jadi salah satu hari terberat saya. Kondisi ibu menurun drastis. Pihak rumah sakit menyodorkan sebuah surat yang perlu saya tanda tangani. Isinya kurang lebih sebuah pernyataan bahwa keluarga setuju jika terjadi hal terburuk pada ibu, maka ia akan dikebumikan dengan syarat yang sudah disepakati dalam surat itu.


Saya sendirian di rumah sakit. Pikiran saya kalut. Saya tahu satu orang yang harus saya minta persetujuan sebelum saya menandatangani surat itu: Bapak!


Di ujung telepon suara bapak bergetar. Pertama kalinya dalam hidup saya mendengar suaranya begitu rapuh. Beberapa menit setelahnya, tangisnya pecah. Ia mengakhiri pembicaraan dengan berpesan, “Bapak percaya sama kamu, ambil keputusan terbaik menurutmu.”

Continue reading

Bagaimana jika keluarga bukanlah unit terkecil, melainkan unit terkompleks dalam masyarakat?


Beberapa narasumber sekadar penting untuk menyelesaikan tulisan, hanya sedikit yang bisa mengubah pemikiran. Ardi Yunanto adalah salah satunya.


Saya selalu ingat wawancara dengan Ardi yang kala itu menjadi pemimpin umum Majalah Bung!


Ia sosok alternatif bagi saya yang saat itu masih berada di usia awal 20-an. Ia punya kedalaman perspektif, tapi tak membosankan layaknya dosen-dosen saya di kampus. Pun, ia punya sisi eksentrik tanpa jatuh pada stereotip nyentrik ala seniman.


Wawancara itu berfokus pada Majalah Bung!, majalah pria alternatif yang tak berpijak pada cara pandang maskulin ala majalah laki-laki dewasa pada umumnya. Yang menarik bagi saya, ia dapat menjelaskan konteks dan wawasan yang melahirkan majalah tersebut dengan sangat baik. Sebagai lulusan baru dari kampus, wawancara itu memberi saya perspektif baru. Tatkala kampus hanya berkutat pada unsur tekstual jurnalistik tapi melupakan konteks dan relevansi, Bung! hadir dengan pendekatan yang berbeda.


Di tengah wawancara itu saya sempat membatin, “Sialan, kenapa orang ini gak jadi dosen di kampus saya!”

Continue reading

Ada tulisan yang hanya bisa selesai dengan melawan air mata, tulisan ini salah satunya.


Saya akan selalu ingat perasaan di malam itu. Rasa yang tiba-tiba muncul ketika pasangan saya melewati pintu imigrasi dan tak lagi terlihat. Perasaan yang baru pertama kali saya rasakan.

Saya tak tahu bagaimana menggambarkan perasaan itu. Perasaan yang akan terus saya kompromikan entah sampai kapan. Dan tulisan ini adalah sebuah terapi bagi saya untuk berkompromi.

Continue reading

Pameo lama mengatakan, mereka yang paling ceria adalah sosok yang menyimpan banyak duka. Budi Warsito mungkin mengamininya.

 

Mas Budi, begitu saya biasa menyapa Budi Warsito, adalah sosok yang sulit digambarkan dengan kata sifat. Saya pertama kali bertemu dengannya lebih dari satu dekade silam saat duduk di bangku kuliah. Saat itu, saya menjadi muridnya dalam sebuah kelas penulisan skenario.

 

Perawakan fisiknya memang lekat dengan tipikal cah nyeni. Rambut sedikit gondrong kribo dengan frame kacamata vintage. Namun, caranya mengajar dan berbicara jauh dari tipikal mas-mas nyentrik pada eranya. Intonasi bicaranya halus dan humornya khas keluarga Jawa, suasana kelas itu jadi seperti acara ronda bareng Karang Taruna.

 

Selesai kelas skenario itu, tentu saya tak jadi selihai Salman Aristo. Yang saya dapatkan bukan ilmu tapi sebuah perspektif baru karena melihat Budi Warsito, sebuah impresi yang polos, naif, dan sedikit heroik, “Ternyata kesenian itu milik semua orang, Mas-mas Karang Taruna itu aja bisa nulis skenario!”

 

Tahun demi tahun berlalu, saya tak pernah lagi berjumpa dengan Mas Budi. Saya lupa bagaimana awalnya, sampai kemudian saya kadang bertukar pesan via WhatsApp dengannya. Dan tetap saja walau sudah beberapa kali berinteraksi, tak ada kata sifat yang bisa menggambarkannya.

Continue reading

Saya menduga, cara sederhana mengenang Romo Mangun adalah dengan bertanya ulang makna “ketokohan”.


Ia baru bangun tidur saat saya mengunjungi hunian sementaranya. Matanya sedikit merah sisa kantuk semalam, rambutnya belum rapi tersisir. Ia pamit untuk mandi terlebih dahulu sebelum menemani saya berkeliling kampung.


“Kalo libur, Topaz bangunnya emang rada siangan,” ujar ibunya mencoba memecah keheningan saat saya menunggu anaknya mandi.


Topaz, anak yang sedang mandi itu adalah seorang ketua RT di Kampung Akuarium, Jakarta Utara. Tanpa konteks yang melingkupinya, Topaz seperti warga Jakarta kebanyakan. Nyatanya ia dan warga di Kampung Akuarium punya cerita yang membuat saya bertanya ulang banyak hal.

Continue reading

Yang paling menyebalkan saat beranjak tua adalah melihat ibu terus menua. 

 

“Ibu diboncengin aja Le, gak apa-apa kok.” Bagi banyak orang mungkin ucapan itu sederhana, bagi saya ucapan itu mengubah banyak hal. Ibu tidak pernah mempercayakan saya memboncenginya naik motor. Ia hanya percaya diboncengi oleh bapak atau kedua kakak saya. Baginya, saya tetaplah seorang pengendara motor amatir, seorang anak kecil yang baru bisa mengendarai roda dua. 

 

Wajah ibu masih menyimpan duka karena sebuah masalah yang baru ia alami. Kantung matanya besar, pun matanya sayu. Selama beberapa hari ia sulit makan. Saya mengambil dua hari cuti untuk menemaninya. 

 

Di tengah keadaan itu, ia bersikeras pergi ke toko. Kehidupannya berpusat pada dua hal: rumah dan toko. Dan untuk pertama kalinya ia bersedia saya bonceng naik motor untuk pergi ke tokonya. 

 

Perjalanan itu bukan sekadar menuju toko, perjalanan itu membuat saya merefleksikan banyak hal. 

Continue reading

Setiap muncul masalah dari yang tersisih, pernahkah kita memulainya dengan bertanya: Kenapa? 

 

Usia anak itu mungkin baru menginjak 9 tahun. Bersama lima orang temannya ia berlari di tengah-tengah Taman Pemakaman Umum (TPU) Petamburan. Badannya yang bongsor membuatnya menonjol di kelompoknya, ibarat sebuah band mungkin ia yang akan jadi front girl.

 

Saya alpa tak memulai obrolan dengan bertanya namanya. Namun, itu tak membuatnya takut saat saya ajak mengobrol. Matanya langsung menatap mata saya, tak menunduk. Saat saya tanya, kenapa main di kuburan, ia balik bertanya, “Emang mau main di mana lagi, Kak?”

  Continue reading

Cerita memilih pasangan sering dianggap sebagai sesuatu yang picisan. Padahal konteks yang melingkupinya kaya dengan cerita. 

 

Salah satu pekerjaan yang membuat saya banyak belajar adalah saat menjadi penulis kontak jodoh daring (online dating). Pekerjaan itu sebenarnya sederhana, saya menulis tips dalam menjalin hubungan dan menarasikan hasil tes kepribadian seseorang yang ingin mencari pasangan. Narasi tes kepribadian selama ini sangat kering, berkolaborasi dengan psikolog, saya menarasikannya agar lebih enak dibaca.

 

Dua pekerjaan tersebut terkesan simpel. Tapi ada banyak wawasan yang saya dapatkan dari sana. Jika wawasan itu diperas, bunyinya kira-kira begini: Cara memilih pasangan bukan sekadar urusan hati, melainkan bisa jadi gambaran kondisi masyarakat. 

Continue reading

Mengapa desa kerap dianggap jadi pelarian dari kebisingan? Jangan-jangan kita adalah kebisingan itu sendiri.


Saya kaget melihat respon tukang parkir di Klaten yang menolak diberi uang. Saat itu, saya dan pasangan membungkus soto untuk dibawa pulang. Saat saya berikan lembaran dua ribu, ia dengan sopan menolak, “Mboten sah, Mas. Digowo mawon.”

Usut punya usut, saya dan pasangan baru tahu pembeli yang membungkus makanan tidak perlu membayar parkir. Tarif parkir hanya berlaku untuk mereka yang makan di tempat. Ini hal lazim atau dalam bahasa sekolahan, semacam kearifan lokal. Sialnya, saya tetap saja kaget. Tentu perilaku juru parkir itu hal yang aneh jika dibandingkan dengan tukang parkir di kota yang lebih senang menagih alih-alih membantu orang memarkir kendaraan.
 

Kejadian mirip muncul saat saya ingin memberi tip bagi ojek daring yang mengantarkan pesanan makanan di Bantul. Kondisi sudah larut, lokasi saya jauh dari kota Jogja, dan gerai makanan yang saya pesan tak bisa dibilang dekat. Namun, ojek daring itu menolak dengan halus tip yang saya berikan. Setelah saya paksa, ia baru mau menerimanya.
 

Dua kejadian itu membawa saya pada banyak pertanyaan. Mulai dari kenapa logika keuntungan ekonomi tak jadi landasan berpikir? Apa yang menyebabkan keduanya berperilaku seperti itu? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Continue reading

Categories: Uncategorized