Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Jika keluarga adalah sebuah buku cerita roman, saya mengusulkan satu nama untuk menuliskannya. Namanya Riri Riza.

 

Semua bermula dari sebuah WhatsApp ibu, “Wilda mau ikut mudik enggak?” Setelah beberapa tahun tak mudik, ibu ingin mengunjungi kampung halamannya. Ibu tak mau pergi tanpa saya, ia tak mau saya sendirian saat lebaran. Keputusan terakhir ada di saya.

Continue reading

Advertisements

Jika ada pertanyaan trivia, di mana tempat paling puitis di Jakarta, saya akan mengajukan satu jawaban: Karet. Tepatnya kompleks pemakaman Karet.

 

Pagi ini saya membaca ulang buku-buku bertema Lebaran. Salah satu yang saya baca adalah kumpulan cerpen “Lebaran di Karet, di Karet…” yang ditulis Umar Kayam. Buku itu saya temukan di kamar lama kakak saya. Kondisinya berdebu.

 

Setelah saya bersihkan, saya langsung membuka bagian paling penting buku itu. Cerita ketika Is, tokoh utama cerpen itu, ingin nyekar ke makam Rani (almarhumah istrinya) di Jeruk Purut. Is hanya bisa nyekar sendirian karena ketiga anaknya berada di luar negeri. Tipikal juxta posisi ala Pak Kayam: Yang tradisional lawan global.

Continue reading

Ode untuk toko roti tempat kencan terakhir Gie dengan Kartini.

 

Bu Sinta menjauhkan buku saya dari matanya. Ia agaknya lupa membawa kacamata plusnya. Bola matanya kelabakan membaca font ukuran 12. Ia mengangguk pelan sebelum mengucapkan sebuah kalimat, “Oh Gie pernah ke sini.”

 

“Ke sini” merujuk pada toko roti kecilnya di bilangan Matraman, Toko Roti Tegal.

Continue reading

Akan selalu ada seorang dewasa yang mengajari kita cara melepas egoisme masa muda, bagi saya orang itu adalah Mas Philips.

 

Malam itu, saya baru pulang kantor ketika telepon seluler saya bergetar. Saya tak mengangkatnya karena sedang membonceng ojek daring. Beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk, “Telepon gue kenapa kagak diangkat?”

 

Saya baca nama pengirim pesannya: Mas Philips.

 

Continue reading

Pameran-Kampung-Kecil-Kebayoran

Salah satu karya dalam pameran di Kampung Kecil, Kebayoran, yang diinisiasi oleh Micro Galleries.

 

Saya berdiri di depan sebuah mural berukuran sekitar 3×3 meter. Tepat di bagian bawah mural itu terdapat tali jemuran. Sebuah daster, celana panjang, dan celana dalam berwarna hitam digantung di jemuran tersebut. Melihat itu saya hendak mengeluarkan telepon seluler untuk mengabadikannya. Mural dan jemuran tentu sebuah juxta yang menarik.

 

“Maaf Mas, saya angkat dulu,” tiba-tiba seorang ibu datang dari belakang saya.

Continue reading

Syaiful-Bachri-Bang-Ipul

Bang Ipul (29) di depan kamar kosnya di kawasan Lempuyangan, Yogyakarta.

 

Akan selalu ada seorang sahabat yang membuat kita iri bukan karena kemewahannya melainkan kesederhanaannya. Bagi saya, sahabat itu bernama Bang Ipul.

 

Monggo, ini taman bermainku,” buka Bang Ipul. Yang Bang Ipul maksud dengan taman bermainnya adalah sebuah kamar kos kecil berukuran sekitar 3×3 meter. Kamar itu sebenarnya lebih cocok disebut ruang berkarya atau workshop. Namun, Bang Ipul lebih senang menyebutnya dengan “taman bermain”.

 

Bang Ipul nyatanya memang senang bermain-main di sana. Ia memainkan apa yang ia sukai. Di tembok terpajang beberapa sketsa karyanya, lantainya penuh dengan sablonan baju pesanan, sementara teras depannya dihiasi dengan rendaman pewarna alami. “Aku lagi senang dolanan kain sama pewarna alami, Bang,” jelasnya.

Continue reading

Maria tak pernah suka pelajaran Bahasa. Ia bosan setiap kali belajar Bahasa di sekolah. Soalnya, Bu Guru Mei selalu mengulang cerita yang sama: “Si Kancil Mencuri Timun”.

 

Maria menebak, Bu Mei suka bercerita Kancil karena ia dan suaminya memelihara kancil di kebun belakang rumahnya.

 

Pagi ini, Bu Mei juga kembali menceritakan kisah Si Kancil. Saking bosannya, Maria mengalihkan pandangannya ke jendela. Sambil melihat pemandangan luar melalui jendela, Maria memikirkan Si Kancil.

Continue reading

Maria masih bingung kenapa Pak Gunarso memanggilnya ke ruang guru. Biasanya, teman-temannya ke ruangan tersebut saat dihukum atau mau ikut kompetisi olahraga. Maria tak melakukan kesalahan apapun. Ia juga tak berbakat main raket dan tak terampil main kasti. Maka, ia hanya bisa menebak-nebak alasan Guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tersebut mengajaknya ke ruang guru.

 

Lima menit kemudian, Pak Gunarso datang membawa dua cangkir teh. Satu untuk dirinya, satu untuk Maria. Pak Gunarso seperti tahu kebingungan muridnya, sambil duduk ia mengatakan, “Bapak mau minta tolong.”

Continue reading

Apa yang lebih penting dari mencapai sesuatu yang ideal? Bagi saya, memahami apa yang ideal bagi orang lain.

 

Empat orang yang duduk di depan saya langsung melantangkan suaranya ketika sate saya datang. Mereka protes kepada salah seorang tukang sate karena pesanannya belum datang. Sementara, saya yang datang belakangan sudah mendapatkannya. Saya berusaha menawarkan sate saya. Sayang, pesanan kami berbeda.

 

Beberapa detik kemudian suasana kikuk tak bisa dihindari. Saya hanya bisa bingung karena tak mengerti musabab awalnya. Si pelayan beberapa kali meminta maaf karena keluputannya. Sialnya, permintaan maafnya tak mempan. Keempat orang di depan saya memilih meninggalkan warung sate kaki lima tersebut.

 

Continue reading

Anak-anak selalu punya cerita sederhana nan unik. Masalahnya, cara menemukannya tak sesederhana ceritanya.

 

Beberapa waktu lalu saya membantu SabangMerauke (SM) untuk menuliskan cerita-cerita kecil tentang kegiatannya. Secara singkat, SM adalah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia untuk mendorong semangat toleransi. Tahun ini ada lima belas Adik SabangMerauke (ASM) dengan latar belakang agama, daerah, dan etnis yang beragam. Maka, selama tiga minggu saya pun berinteraksi dan menggali beragam cerita unik dari adik-adik tersebut.

 

Ada satu momen yang menjadi pemicu saya membuat tulisan ini. Saat itu salah seorang relawan bercerita kesulitannya menggali cerita dari anak-anak. “Soalnya aku baru sekali wawancara anak-anak,” ujarnya.

 

Ucapan relawan tersebut sangat beralasan. Seturut pengalaman saya, mewawancarai dan menggali cerita dari anak-anak memang memerlukan pendekatan yang berbeda.

Continue reading