Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Pertanyaan terbesar setelah mahasiswa lulus adalah, apa yang dilakukan setelah wisuda? Saya memiliki jawaban mantap untuk pertanyaan itu, bepergian. Saya tidak mau menuruti keinginan kedua orang tua saya untuk meneruskan kuliah. Jujur saya merasa sedikit bosan bergulat dengan buku, urusan akademis selama dua puluh tiga tahun. Maka menuruti permintaan kedua orang tua saya hanya akan membawa kegagalan, namun saya berjanji tiga atau empat tahun lagi saya akan kembali sekolah, janji. 
Pertanyaan selanjutnya tentu saja, kenapa bepergian? Ada beberapa alasan yang bisa saya ungkapkan. Dalam sebuah chapter dalam buku (ah sial saya lupa judul bukunya) diceritakan tentang seorang pejalan yang bertemu pejalan lain di kereta penghubung Prancis dengan Inggris. Sang pejalan bercerita kalau ia sudah satu tahun bepergian. Saat itu ayahnya menawarkan untuk memilih mau kuliah selama lima tahun atau bepergian keliling dunia selama satu tahun? Si pejalan dengan mantap memilih bepergian selama lima tahun. Dia kemudian berbagi cerita bagaimana satu tahun perjalanan baginya lebih berarti ketimbang bergulat dengan buku selama lima tahun. 
Mungkin kedengarannya terlalu klise tapi saya merasakan hal itu. Perjalanan saya belum lama ini membuat saya paham kita terlalu kecil di dunia ini. Banyak hal yang belum saya pahami, selama ini saya terlalu sombong dengan diri saya. Kuliah membuat kita seperti berada dalam sebuah tempurung besar akademis. Memang ada sebuah dialog di kuliah, namun tetap saja kuliah seperti energi sentrifugal, ia mengajak kita merubah orang, bukan sebaliknya. 
Perjalanan mengajarkan sebaliknya, ia seperti energi sentripetal. Bertemu orang baru, daerah baru dan budaya baru membuat kita berpikir sejenak mengenai dimana sebenarnya posisi kita di dunia. Brunei yang tentram, Singapura yang riuh atau Malaysia yang beragam mengajarkan bagaimana kita bisa menempatkan diri kita dalam setiap keadaan. Secara tak langsung perjalanan akan mempengaruhi bagaimana kita bersikap. Melihat orang baru kita akan membiasakan bersikap baru, disitulah titik pentingnya. 
Perjalanan tak pernah membuat kita sombong, ia membuat kita menunduk. Dalam pertemuan dengan orang baru pasti kita memiliki praduga dan penghakiman-penghakiman tertentu namun pada akhirnya kita yang akan mengikuti pola mereka. Ada transaksi bagaimana kita menjalani hidup di proses itu. Iwan Setyawan (penulis buku 9 Summer 10 Autumn) dalam diskusi bukunya pernah mengatakan hal tersebut. Pergi dari Malang ke New York bagaikan sebuah pelajaran baru. Ia mengatakan proses bagaimana ia beradaptasi, bagaimana menyikapi warga Big Apple yang cuek, semua proses itu menghantarkan kita pada perenungan baru. Proses dan proses dalam perjalanan lah yang membuat kita seperti itu. 
“Lo yakin bisa ninggalin semua kesenangan lo we? Lo enggak krik krik gitu misalnya kerja di bank? Hobi lo kan nulis? Lo mau ninggalin gitu aja? Gw rasa enggak bisa,” kata Depe di sebuah kafe kecil di Labuhan, Malaysia. Dia mengucapkan itu setelah saya bercerita kalau saya akan meninggalkan semua tetek bengek kesenangan saya saat kuliah setelah wisuda. “Gw mau hidup normal pe, gw rasa apa yang gw lakuin sekarang enggak bisa buat keluarga gw nantinya,” sergah saya. “Ya gak tahu juga siy, tapi kaya gitu paling cuma tahan berapa bulan we, coba lo pikir lagi deh,” kata si wanita penggila eskrim Magnum Almond ini. 
Setelah sampai ke Jogja, saya kembali berpikir apa yang diucapkan Depe. Saya rasa ada benarnya juga, terlalu ekstrim mengubur kesenangan dan mencari kesenangan baru. Disitulah saya merasa saya penting melakukan perjalanan. Lewat perjalanan saya akan banyak belajar dari orang baru yang saya temui, mencari apa yang sebenarnya saya cari. Dan terhitung Juni sampai Agustus saya berjanji akan melakukan beberapa perjalanan. 
Ada beberapa tujuan yang hendak saya capai, pertama adalah Wakatobi. Salahkan film “Mirror, never lies” untuk soal ini. Saya jatuh cinta dengan Wakatobi sejak scene pertama di film itu. “Wakatobi Wakatobi !!!” kata saya pada teman yang saya ajak nonton. Dia hanya manggut-manggut lucu karena semangat saya yang berlebih. Menurut saya Wakatobi penting dikunjungi karena menggunakan air sebagai modal utama hidup. Dua puluh tiga tahun saya hidup di darat, maka menarik rasanya merasakan bagaimana air menjadi sebuah modal utama kehidupan. Untuk menuju kesana saya sedang belajar renang bersama rekan saya yang baik hati, Avis si calon ekonom handal. 
Tujuan kedua adalah Laos. Kenapa Laos? Salahkan acara jalan-jalan di TV One kalau soal ini. Dalam sebuah sesi acara jalan-jalan terlihat kalau setiap masjid di Laos memasang bendera palu arit di gerbangnya. Gila, Gila dan Gila menurut saya. Selama ini kita selalu menganggap dua hal itu sebagai antitesis. Nah di Laos hal itu enggak ada masalah. Kata si pembawa acara hal itu karena Laos pernah (dan atau masih) hidup dalam komunisme. Agama-agama diakui disana tapi dengan tetap menjunjung ideologi utama bangsa tersebut. Bagi saya memahami keislaman di Laos akan lebih mengena ketimbang ikut paket wisata Umroh misalnya. 
Tujuan ketiga saya belum tahu apa, bisa jadi Vietnam atau salah satu kepulauan kecil di Indonesia. Yang jelas sampai Agustus besok saya akan menetapkan hati untuk bepergian. Setelah itu baru kita susun rencana masa depan. Soal dana bepergian? Santai saya tak akan meminta orang tua, ada sebuah barang yang amat saya cintai yang akan saya jual untuk modal perjalanan. Belum memulai perjalanan saja saya sudah belajar satu hal tentang mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu.
#ditulis setelah menonton No Distance Left To Run (dokumenter tentang Blur). Disana Graham Coxon mengatakan perjalanan Blur ke Amerika sangat berpengaruh pada perjalanan band ini selanjutnya. Ibarat kata nabi, Umroh lah, pindahlah karena dengan begitu kita akan lebih mensyukuri apa yang kita terima.
Advertisements

4 thoughts on “Salam Untuk Agustus

  1. rocky says:

    nang aceh wae we terakhir, lanjut pulau weh, asik dalan e,hehe

    Like

  2. dimpil says:

    pembicaraan tentang perjalan ke luar daerah atau luar negeri, pertanyaan klasikku mesti muncul? duit entuk seko ngendi to? carane piye to?

    marai pengen tenan,

    Like

  3. Ardi Wilda says:

    @roki: ide bagus itu Rok, aku meh wisata gereja nang aceh ah, seru ketok e
    @dimpil: duit e nabung, njuk bar kui koe kere selama beberapa minggu, hehe

    Like

  4. rocky says:

    banyak oleh2 yang cocok juga untuk muslimah w 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: