Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Anakku belum sampai rumah,” kata perempuan itu kepada rekan kerja di sampingnya.

 

Perempuan itu, berusia sekitar 35 tahun, melayani saya saat hendak membeli penyimpan data untuk komputer. Ia memberi tahu harga-harga produk yang saya taksir. Di tengah aktivitasnya, panggilan telepon masuk. Setelah berbincang melalui telepon selulernya, seketika wajahnya berubah. Bicaranya terbata. Rambutnya ia sibak berulang kali. Ia cemas.

 

Panggilan telepon itu mengabarkan satu hal penting. Anaknya belum sampai rumah. Saat itu waktu menunjuk pukul tiga sore, terlalu larut bagi seorang anak kecil belum pulang sekolah. Ia menyingkir sejenak, temannya menggantikan.

 

Di pojokan toko ia jongkok. Ia tak ingin para pembeli melihatnya.

 

Matanya mulai memerah, beberapa rekan mendekatinya. Para pelayan toko itu hanya bisa menghiburnya sejenak, aktivitas perdagangan harus tetap jalan. Mengamini pepatah klasik pembeli adalah raja.

 

Sekitar 15 menit kemudian ia kembali melayani pembeli. Ia berusaha ramah.

 

Ia tahu ia seorang pelayan toko di sana, bukan seorang ibu.

 

Saya tak tahu apa yang terjadi kemudian, hanya berharap cerita itu berakhir dengan baik. Mungkin akan ada telepon kedua yang mengabarkan anaknya telah sampai rumah. Atau ia akan pulang dan menemui anak kesayangannya di sana.

 

Pelayan toko itu mengingatkan saya pada salah satu keponakan saya. Anin namanya. Belum lama ini ia merayakan ulang tahun yang kelima. Perayaannya sederhana, kakak saya hanya mengundang anak-anak satu gang untuk hadir. Mereka bernyanyi, beberapa memberi kado.

 

Ibu saya alias nenek Anin bercerita sejak lama cucunya ingin bisa ulang tahun. “Mungkin temannya ada yang ngerayain di PAUD,” ujar ibu.

 

Kehadiran Anin dan adiknya, Apin, mengubah pola hidup keluarga kami. Kakak saya seorang pedagang, istrinya memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Sering juga kakak ipar saya membantu suaminya di toko. Biasanya saat akhir pekan, ketika pembeli lebih banyak dari hari-hari biasa. Saat keduanya berdagang, ibu dan saya yang akan merawat keponakan.

 

Merawat kedua anak ini seperti drama tiga babak. Dibuka dengan tawa, terjadi konflik, dan menghasilkan tantrum. Ibu saya kadang berhasil mengatasinya. Tak jarang gagal.

 

Kakak ipar saya kerap terlihat lelah setelah seharian menemani anaknya. Ia bukan seorang pengakses informasi digital. Beberapa kali saya pernah menunjukkan tips-tips merawat anak dari internet, sempat pula saya membelikan buku mengenai parenting. Tapi saya yakin ia jelas lebih tahu, karena ia ibunya.

 

Sayangnya pameo lama ada benarnya juga, teori tak sama dengan praktik. Yang kelihatan mudah dalam kata belum tentu gampang dalam realita.

 

Kedua keponakan itu menyadarkan saya satu hal, menjadi orangtua adalah amanah yang berat. Ragam teori bisa kita pelajari di sekolah.

 

Tapi menjadi orangtua tak ada sekolahnya. Tanggung jawabnya besar sekali.

 

Banyak teman saya yang sudah menjadi bapak atau ibu. Saya biasanya mengetahui hal itu dari beberapa foto bayi yang mereka unggah di media sosial. Fotonya kebanyakan menggambarkan tingkah lucu anaknya, kadang kala menceritakan perjuangannya mengurus anak. Ada jam-jam yang terkuras oleh tangis. Ada hari-hari yang berakhir dengan tidur tak nyenyak.

 

Di balik foto-foto lucu itu tercermin perjuangan panjang.

 

Dari situ kita tahu, menjadi orangtua bukan sesuatu yang serta merta, ia sebuah kata kerja.

 

Saya membayangkan pelayan toko pada sore hari tadi. Ia menjual peralatan digital, tapi boleh jadi ia tak punya akses pada informasi dunia maya. Ragam tips mengasuh anak memang bertebaran di mana-mana. Sayangnya tangis pelayan itu jangan-jangan sebuah sinyal, tentang informasi yang bias.

 

Kalau begini, saya malah ingin mengenang tulisan Mohamad Sobary untuk wafatnya Romo Mangun. Sobary adalah orang terakhir yang dipeluk Romo Mangun sebelum wafat, ketika Romo tiba-tiba tak sadarkan diri dalam sebuah seminar. Sobary memang kemudian menulis bahwa Romo tak meninggal dalam pelukannya, melainkan dalam pelukan Tuhan. Tapi karena peluk terakhir tersebut, Sobary membuat sebuah tulisan personal yang sangat manis tentang Romo Mangun. Saya suka satu bagian tulisan itu, tak memancing derai air mata, justru sebuah banyolan tentang Romo Mangun.

 

Kira-kira Sobary menuliskan bahwa sepanjang hidupnya banyak orang yang menyukai Romo Mangun, tapi ada juga yang mengeluhkan soal dirinya. Salah satunya adalah redaktur di Jawa Timur.

 

Alasannya sederhana, ia mengeluhkan anak kalimat Romo Mangun yang panjang dan berputar-putar.

 

Kalau diedit, kata si redaktur tersebut, Romo Mangun akan marah.

 

Sobary kemudian menanggapi hal itu dengan guyonan. Ia menulis, “Saya kira Anda yang keterlaluan. Jelas Romo itu hidup sendirian. Anak beneran tak ada. Dia cuma punya anak kalimat. Lha kalau itu kalian buang, Romo punya apa?”

 

Mungkin banyolan penulis Kang Sejo Melihat Tuhan itu ada benarnya. Pelayan di toko, kakak saya, pun teman-teman yang mengunggah wajah bahagia anaknya di media sosial memang bukan Romo. Mereka tak berhadapan dengan anak kalimat. Mereka berdialog dengan anak-anaknya. Di sana kita tahu ada jalan sunyi masing-masing orangtua, seperti Romo dengan anak kalimatnya.

 

Advertisements

2 thoughts on “Sebelum Orangtua

  1. Saya sembab ketika membaca Kata-kata Terakhir Romo Mangun. Tulisan ini membuat saya mengingat ulang, kini saya terisak kembali.

    Mamak saya terlihat biasa-biasa saja setiap kali saya pamitan untuk kembali ke rantau. Tetapi adik selalu nyusuli kabar kalau beliau sembab segera setelah motor bapak yang mengantar saya meninggalkan rumah. Ah.. Orang tua…

    Like

    1. ardiwilda says:

      mas bastian, saya mampir ke blog mas bastian juga. mamak pasti bangga sama mas bastian, selamat belajar di negeri jiran ya mas. bawa oleh2 inspirasi ke negeri ini 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: