Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Bagaimana jika sahabat terdekatmu memelukmu sangat erat sebelum ia meninggalkan dunia untuk selamanya?


Ini kisah Bima yang berupaya menyembuhkan luka menahun dengan sebuah lagu dari Perunggu.


Pagi empat tahun lalu ada kejadian tak biasa di kamar Bima. Nabiel, sahabat karibnya membangunkan Bima berulang kali. Bima tak menggubris, ia berupaya meneruskan tidurnya karena baru terlelap dini hari.


Nabiel kemudian mengambil langkah tak biasa. Pagi itu ia memeluk Bima dengan erat, sangat erat. Layaknya pelukan perpisahan dari seorang sahabat. 


Setelah terbangun, Bima tak lagi melihat Nabiel. Hari itu Bima memulai hari dengan biasa, menyapu halaman sebelum beraktivitas.


Kegiatannya terhenti ketika telepon selulernya berdering. Di ujung telepon, temannya mengabari Nabiel kecelakaan. Bima tak kuat mendengar kabar itu. Sapu yang ia pegang jatuh. 


Nabiel tak sadarkan diri lama sekali.


Nabiel berjuang untuk pulih selama beberapa minggu. Bima menemaninya di rumah sakit, sekuat yang ia bisa. Sayang, Tuhan lebih sayang Nabiel. Bima tak sempat membalas pelukan terakhir sahabatnya.


Bima makin merasa bersalah ketika ia tak bisa mengejar pemakaman Nabiel. Ia baru datang sehari setelah pemakaman.


“Saya cuma bisa megang tanah makamnya yang masih basah, kelopak bunga di atasnya juga masih segar. Tapi saya gak bisa lihat saat Nabiel diantarkan ke rumah terakhirnya.”


Dengan suara getir, Bima mengingat lagi kejadian setengah windu yang lalu. Ia sempat lama menyalahkan diri sendiri. Ada banyak pengandaian yang melintas di kepalanya, andai ia meminta Nabiel tak pergi di hari itu, andai ia terbangun saat Nabiel memanggilnya, dan beragam andai lainnya.


“Saat itu, saya menolak percaya Nabiel udah gak ada. Di foto terakhirnya dia lagi melihat matahari tenggelam. Selama bertahun-tahun, saya anggap Nabiel lagi liburan, bukan berpulang.”


Nabiel punya arti penting dalam hidup Bima. Melalui Nabiel, Bima mengenal dunia yang selama ini tak ia kenal. Bima menganalogikan Nabiel seperti potongan lirik lagu “Kalibata, 2012” milik Perunggu.


“Pas denger lirik Kalibata, ‘Selera musikmu, membuka kelambu’ saya selalu ingat Nabiel. Dia mengenalkan banyak musik yang saya gak tahu sebelumnya.”


Nabiel adalah pintu bagi Bima belajar banyak hal baru, tak terkecuali musik.


Bima kecil tumbuh di wilayah yang sangat jauh berbeda dengan kultur tempat lirik-lirik Perunggu ditulis. Jika Perunggu sangat urban, Bima besar di wilayah pesisir.


Bima tumbuh di Ambulu (Jember) daerah pesisir yang dikenal karena banyak warganya menjadi buruh migran di luar negeri. Sejak Bima balita, ibunya bertarung mencari rezeki ke Taiwan. Kini, ibunya telah menetap di negeri Asia Timur tersebut dengan membuka toserba barang khas Indonesia.


Bima remaja mendengarkan musik dengan mengisi lagu di gerai pengisian pulsa dekat rumahnya. Musik membuatnya bisa melupakan penat dari kehidupan sekolah. Ia mengaku tiga tahun di SMK jurusan elektronika, tidak ada satu pun yang nyantol di kepalanya.

 

“Dulu kalau nonton konser nunggu jebolan (masuk gratis tanpa membeli tiket),” kata Bima bernostalgia.


Kuliah mengubah perspektifnya, Nabiel menjadi salah satu perantaranya. Nabiel mengenalkan Bima dengan beberapa band yang populer kala itu seperti Barasuara.


“Warisan terbesar Nabiel itu lagu-lagu yang dia simpan. Saya masih simpan lagu-lagu kesenangan Nabiel, saya dengerin kalau kangen almarhum.”


Bima mengaku lama sekali tak bisa melupakan “kesalahannya” saat mendiamkan Nabiel di hari tragedi yang membuat sahabatnya pergi.

 

“Saya gak percaya waktu bisa menyembuhkan luka.”


Konser “Ziarah” 950 Kilometer


Bima tak menyangka kegiatan waktu luangnya melihat-lihat instagram bisa mewarnai salah satu fase dalam hidupnya. Kala itu, ia melihat unggahan Deva (Polkawars) mengenalkan sebuah band bernama Perunggu. Bima kemudian mencoba mendengarkan band trio Maul, Adam, dan Ildo tersebut.


“Tarung Bebas” menjadi pintu masuk Bima mendengarkan Perunggu. Ia kemudian membabat lagu-lagu lainnya di album Memorandum.


Ketika mendengarkan lagu “Kalibata, 2012”, ia terdiam lama. Beberapa kali ia mengulang lagu tersebut.

 

“Pas denger lirik ‘Selera musikmu, membuka kelambu telah membentuk, padat telingaku’ bulu kuduk saya langsung merinding inget Nabiel.”


Bagi Bima, “Kalibata, 2012” memberi perspektif baru tentang kesedihan. Jika selama ini ia menolak kesedihan, lagu itu membawanya pada pemikiran bahwa tidak apa untuk bersedih karena yang berlalu sejatinya memang telah berlalu. Lagu itu membuat Bima berpikir bahwa kesedihan di masa lalu bisa menjadi api untuk fokus pada masa depan.


Tak hanya “Kalibata, 2012” ia jatuh cinta pada nomor-nomor lainnya di Memorandum. Baginya album ini bisa menjadi representasi dirinya yang bukan siapa-siapa. Ia punya istilah khusus untuk Perunggu, “Mewajahi orang biasa seperti dirinya.”

 

“Saya udah nawaitu, kalau nanti mereka bikin konser sendiri, bakal saya tonton. Di mana pun bakal saya usahakan kejar!”


Syahdan, waktu itu tiba, 3 September 2022 Perunggu mengadakan Showcase Memorandum di M Bloc, Jakarta.


Bima segera memutuskan naik bus dari Jember ke Jakarta. Melewati 950 kilometer lebih, memakan waktu 16 jam. Angka itu bisa jadi berlebihan bila dilihat dalam kacamata normal, tapi dari perspektif panggilan hati jelas patut diarungi.


Wajah Bima merona saat menceritakan konser itu.

 

“Pas konser, saya berdiri di shaf kedua. Saya makmumnya, Mas Maul imamnya.”


Ia tak berkelakar kala mengatakan hal itu. Baginya, showcase tersebut memang lebih dari sekadar pertunjukan. Baginya ini sebuah perjalanan spiritual mengenang sahabat karibnya.


Bima menunggu satu momen itu. Momen ketika “Kalibata, 2012” bergema. Harapannya membuncah berkali lipat saat tahu Cholil akan menyanyikan lagu itu. Lagu yang “didedikasikan” Perunggu untuk Cholil, benar-benar dinyanyikan oleh
frontman Efek Rumah Kaca di malam itu.


Mata Bima menerawang jauh saat mengingat momen kala “Kalibata, 2012” berkumandang.

 

“Hampir sepanjang lagu saya menutup mata. Saat lirik ‘di antara takbir’ dinyanyikan entah kenapa saya spontan teriak ‘Allahu Akbar!’. Akhirnya mulai pertengahan lagu saya menangis. Di momen itu, hati saya hangat, dada saya penuh.” 


Fragmen-fragmen persahabatannya melintas di kepala. Di panggung, lirik “Kalibata, 2012” mengalun lamat-lamat: 

Di antara takbir
Pejam mataku sebutkan namamu hadir
Muncul rangkaian ribuan cerita penting
Yang kuinginkan kau ada dalam abadi


Abadi di Tanah Kusir


Satu hari setelah konser. Lampu sorot telah padam,
penonton telah pergi, pun tak ada lagi deretan lagu menggema. Semua berganti dengan satu sore yang tenang di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir.


Empat orang anak muda mengelilingi sebuah papan nisan. Di papan itu tertulis nama: Nabiel.


Bima dan tiga orang temannya membaca Surat Yasin bersama-sama. Penggalan ayat terakhir Yasin seperti menggambarkan suasana batin Bima di sore itu, “…kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”


Setelah menyelesaikan 83 ayat, Bima mengirimkan doa-doa pendek untuk sahabat baiknya. Ia kemudian mengeluarkan telepon selulernya, memutarkan “Fatalis”, single terbaru Barasuara.

 

“Biel, ini ada lagu baru dari band kesukaanmu, coba dengerin ya.” ujar Bima seakan Nabiel ada di sana.


Bima mengatakan saat Nabiel berpulang belum ada Perunggu, jika sudah ada bisa jadi Nabiel juga akan menyukai lagu-lagu Perunggu.


Ia bercerita Nabiel telah mengenalkannya pada banyak musik, membuatnya belajar banyak perspektif baru. Sekarang tugasnya membalas kebaikan Nabiel dengan terus memperdengarkan lagu-lagu kesukaannya. Terutama lagu-lagu baru dari band favorit Nabiel yang tak bisa lagi ia dengarkan. Selain mengirim doa, baginya itu salah satu cara merawat kedekatan dengan sahabatnya di keabadian.


Sore itu hati saya penuh melihat Bima. Belum lama ini saya juga kehilangan orang tersayang, mengikuti Bima dua hari penuh bertarung dengan perasaannya adalah sebuah pengalaman tak terlupakan.


Melihat Bima dan pengalamannya bersama Perunggu membuka ruang-ruang baru memaknai kesedihan. Rasa sedih tentu tak akan bisa dihapus, tapi ia bisa dirayakan dengan cara yang membahagiakan. Dengan cara yang membuat Nabiel, pun orang-orang tersayang yang telah berpulang bisa tersenyum dalam keabadiannya.


Di antara ribuan papan nisan, Bima menceritakan arti penting Perunggu dalam fase kehilangannya.

 

“Waktu gak bakal menyembuhkan. Lukanya akan tetap di sana dengan ukuran sama.  Pembedanya adalah kita yang akan terus tumbuh lebih besar dari luka itu. Perunggu membantu saya tumbuh jauh lebih besar dari luka-luka saya.” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: