Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Ada secuil kisah menarik dari cerita pendek “Gigi” yang ditulis oleh Kuntowijoyo. Singkat cerita, cerpen itu bercerita soal Kim, imigran asal Korea Selatan yang tinggal di Negeri Paman Sam. Ia ingin membuka praktek dokter gigi di negeri rantauan, salah satu syaratnya harus menjadi pembantu dokter gigi terlebih dahulu. Dan syarat menjadi pembantu dokter gigi ini yang menarik, ia harus menempuh ujian persamaan dengan memeriksa gigi beberapa orang yang bersedia jadi relawan.

Mungkin perkara ini terasa mudah dilewati, siapa yang tidak mau diperiksa giginya secara gratis. Sayangnya ternyata proyek ini sulit terlaksana. Sang protagonis dalam cerpen ini (Si “Saya” yang orang Indonesia), membantu Kim mencarikan relawan. Setiap bertemu relawan Kim langsung “menghajar” sang relawan dengan memintanya membuka gigi.
Saya cuplik dialog singkat dari Cerpen Gigi ini, “Lain hari saya membawa teman lain. Setelah bersalaman, kata Kim, “Open your mouth, please.” Kim bergerak untuk memeriksa mulut, tentu saja teman itu mundur.”
Relasi Kim dengan relawan menarik. Saya memiliki beberapa tahapan dalam memahami soal relawan. Saat mahasiswa, kata relawan (yang biasa disebut volunteer dalam konsep kepanitiaan) berarti satu arah. Jadi relawan berarti menjadi pihak yang membantu dan tak mendapatkan apa-apa. Seiring beranjak waktu pemahaman itu bergeser, relawan tetaplah sebuah transaksi, yang tentu tak hanya seputar uang. Pengalaman, kesan, atau citra tertentu bisa didapatkan dalam transaksi relawan. 

Saya mengingat Kim setelah bertemu dengan Pari beberapa waktu lalu. Malam itu saya membantu hal-hal minor beberapa rekan yang menjadi relawan Festival Gerakan Indonesia Mengajar (FGIM) dan bertemulah saya dengan Pari, sosok yang sebelumnya sama sekali tak saya kenal. Saat itu Pari bertugas mengangkut kardus berisi buku-buku bacaan anak dan menatanya. Keringatnya menetes dan mimiknya menunjukkan kelelahan karena harus mengangkat berpuluh kardus buku, namun ia tampak antusias.
Ada perbedaan mencolok antara Pari dan relawan “periksa gigi” Kim. Pari datang dan tampak antusias, padahal ia tak dapat profit apa-apa dibanding relawan periksa gigi Kim. Relawan periksa gigi Kim mendapat profit yang cukup besar, tertulis di cerpen tersebut biaya periksa gigi bisa mencapai 150 dolar. Dengan menjadi relawan berarti telah menghemat sejumlah uang tersebut dan kesehatan gigi menjadi lebih baik. Tapi justru banyak yang menolaknya.
Bagi saya yang Kim lakukan tak berbeda jauh dengan tipikal sosialisasi konservatif. Bagi-bagi sesuatu untuk kepentingan tertentu. Bisa jadi diterima, tapi kemungkinan dianggap yang tidak-tidak jauh lebih besar. Ia menciptakan relasi yang tak mutualis. Relawan periksa gigi jelas menolaknya karena seorang stranger meminta membuka mulut. Ada konteks yang hilang di sini.
Kim sebenarnya mengalami masalah finansial keluarga, sehingga ia sangat berharap bisa lulus dalam ujian persamaan. Sayangnya ia tak mengomunikasikan hal ini pada relawan-relawannya. Ia memendam masalah tersebut dan menjadikan relawan hanya sebagai pintu masuk solusi. Bukankah relasi yang tercipta seperti kampanye konvensional. Saya beri sesuatu dan suaramu untuk saya. Relasi yang Kim ciptakan akhirnya gagal total.
Malam itu dan keesokan hari saat berlangsungnya FGIM saya mengamati Pari. FGIMsendiri adalah sebuah festival yang mengajak orang yang datang (yang juga disebut relawan) untuk menjadi teman belajar puluhan ribu siswa di 126 Sekolah Dasar (SD) seantero negeri. Cara yang dilakukan adalah dengan menjadi relawan membuat media belajar bagi siswa-siswa tersebut selama dua hari acara ini berlangsung. Saya rasa apa yang Pari lakukan tak seperti relawan gigi Kim.
Pari menjadi relawan dengan pengetahuan bahwa masih banyak potensi anak-anak yang bisa dimaksimalkan dengan penyediaan media belajar. Yang bisa ia lakukan adalah membantu terlaksananya kegiatan tersebut dengan mengerahkan pikiran dan tenaganya. Ia tak dibayar dan tidak mendapatkan apa-apa, tapi ia bersedia membantu. Ia melakukannya karena ia memahami konteks permasalahannya, ia paham ada yang tidak beres dan yang bisa ia lakukan adalah ambil bagian di dalamnya. Psikologi massa yang dibentuk adalah ini masalah bersama, jadi bagian dari penyelesaiannya adalah hal kecil yang bisa saya lakukan. Pari dan ratusan relawan di FGIM membuat Kim mungkin harus mencabut giginya sendiri.
Saya kemudian teringat apa yang dikatakan Ken Watanabe dalam “Problem Solving 101” saat membagi manusia dalam lima karakter. Salah satu karakternya ia sebut dengan “Miss Dreamer”. Ken mendeskripsikannya dengan, “Miss Dreamer has many audacious dreams – dreams that never seem to become realities”. Buat saya tipikal kebanyakan kita (termasuk saya tentunya) adalah Miss Dreamer, tak terkecuali relawan dalam konteks yang luas.
Coba hitung berapa banyak forum bla bla bla yang isinya soal melakukan anu dan anu agar sebuah entitas tertentu menjadi anu. Tak ada yang salah, namun hal ini mengulang apa yang dikatakan Ari Perdana dalam artikelnya, “Lima Meter Yang Hilang” bahwa diskusi kebijakan publik di Indonesia sering berhenti di talkshow. Semua perbedaan, dibahas di talkshow, diperdebatkan di media sosial dan konvensional. Tapi upaya riil untuk menjembatani perbedaan tidak dilakukan.” Apa yang dikatakan Ari Perdana menegaskan kita adalah “Miss Dreamer berjamaah”.
Pari dan relawan lainnya mungkin di satu sisi juga para “The Dreamer” tersebut. Tapi ada satu kategori lain Ken yang lebih cocok, “Problem Solving Kids”. Kalau disarikan kategori ini adalah mereka yang berkata, “Lantas kita akan ngapain dengan masalah ini?”. Dalam konteks lain, Ari Perdana mengistilahkannya sebagai policy entrepreneur. Dimana keterlibatan relawan menjadi begitu penting dalam pengambilan langkah.
Pari yang malam itu berkeringat kelelahan tentu tahu masalah kenapa ia tergerak. Tapi ia tak sekadar berputar pada masalah tersebut yang ia lakukan kemudian adalah menjadi “Problem Solving Kids” meski sangat kecil. Ia tahu untuk membantu adik-adiknya di pelosok untuk belajar yang bisa ia lakukan adalah menjadi relawan dan ia melakukannya. Tentu ini adalah buah dari relasi pemahaman masalah bersama.
Hal lain yang menarik, dalam sebuah sesi ngobrol dengan Aquino, ada satu hal yang menarik perhatian saya, ia menganggap bahwa analisa sosial adalah bagian penting dari sebuah pemecahan masalah. Poin utamanya dua hal, struktur dan agensi. Mengubah secara struktur berarti mengoperasi di level makro seperti perubahan undang-undang, sistem dll. Sementara agensi bergerak (dalam pemahaman saya saat ngobrol itu) pada simpul-simpul sosial yang ada. Menciptakan agen-agen perubahan. Level pertama tentu bukan koridor warga negara karena ia tak punya akses di level tersebut.
Pandangan pribadi saya melihat FGIM tidak berusaha bergerak di level pertama. Ia bergerak pada level kedua. Menariknya adalah jika agensi selama ini identik dengan sosok, festival ini melakukannya bersama-sama seluruh relawan. FGIM menghadirkan sebuah wisdom of the crowd (saya tidak bisa mencari padanan untuk istilah ini) yang sangat besar mengenai masalah pendidikan dan apa yang bisa dilakukan oleh orang biasa untuk ambil bagian di dalamnya. Wisdom of the crowdini hanya mungkin terjadi bila relasi dengan relawan tercipta dengan baik. Dan, bukan tak mungkin ini mendorong perubahan pada level struktur (tidak, saya tidak sedang menjadi Miss Dreamer).
Pari dan ratusan bahkan ribuan relawan di FGIM membuka perspektif saya tentang banyak hal seputar relasi relawan untuk sebuah perubahan. FGIM sebenarnya telah berbagi pada Kim bahwa memiliki masalah dan memecahkannya bersama-sama dengan relawan bisa membuahkan hasil yang tak pernah kita duga. Andai Kim melakukannya, jangan-jangan satu negara bagian akan meminta dirinya untuk menjadi duta cabut gigi.  


***

Didedikasikan untuk relawan-relawan FGIM, khususnya rekan-rekan dekat saya yang ambil bagian di sana, Wintang, Bhe, Anggun, Billy, Priska, Mapao. Meski hanya mengamati dari luar saya banyak belajar dari FGIM, terimakasih dan salut.
Advertisements

2 thoughts on “Cabut Gigi Relawan Kim

  1. Trus apa yg terjadi dengan Kim?

    Kim, salah satu dokter gigi yg disebutkan dalam cerpen, telah belajar banyak dr relawan FGIM ttg bagaimana sebuah gerakan besar dimulai dr hal-hal kecil. Bayangkanlah bagaimana lebah membangun sarangnya, semua ikut ambil bagian, melakukan hal kecil maupun besar semampunya, demi terbentuknya sarang yg indah untuk hidup dan berkembang.

    Kim, yang kini kehilangan 1 giginya, merasakan gerakan besar tersebut pastilah berawal dr gerakan kecil yg terorganisir, yg menyediakan pondasi agar gerakan besar bisa berjalan sesuai visi dan misi yg sudah disepakati, seperti lebah membuat sarangnya.

    Kim mencabut giginya bukan lantaran dia menyesali caranya, seperti yg diceritakan dlm cerpen. Kim memilih untuk mencabut giginya karena dia telah belajar untuk menjadi gerakan kecil dengan 'blepotan' terlebih dahulu sebelum mengajak orang lain menjadi bagian di gerakan besarnya.

    Kini, Kim sudah membuka praktek dokter gigi di daerah rantauannya. Tanpa terasa, Kim membuka banyak cabang prakteknya karena gerakan kecil yg dia lakukan sudah membuat banyak orang ikut dalam lingkaran gerakannya menjadi gerakan besar.

    Like

  2. Ardi Wilda says:

    Di FGIM 2014 Si KIm diajak apa nih? 😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: